Komunikasi Lintas Budaya : Vihara Avalokitesvara Pamekasan

Komunikasi Lintas Budaya : Vihara Avalokitesvara Pamekasan
Pembahasan
Komunikasi adalah hal yang sangat di perlukan didalam kehidupan sehari-hari baik dalam hal regular , di dalam bisnis atau kerja sama bahkan terbentuk dan majunya sebuah daerah juga desa adalah karena faktor dari komunikasi yang berlangsung sinkron termasuk juga dengan budaya sebuah daerah.
Menurut koentjtoroningrat  ada 7 faktor yang mempengaruhi terbentuknya dan persebaran budaya yaitu :
1.    Bahasa
2.    Sistem pengetahuan
3.    Organisasi sosial
4.    Sistem peralatan dan teknologi
5.    Sistem mata pencaharian
6.    Sistem religi
7.    Kesenian

1.    BAHASA
Persebaran budaya juga tidak terlepas dari bahasa kepemimpinan yang menjadikan itu sebagai culture atau lebih tepatnya bahasa sehari-hari (lokal) karena kepimimpanan atau asal usul sebelumnya memounyai andil  penting di dalamnya, menurut luthans mendefinisikan kepemimpinan sebagai sekelompok proses, kepribadian, pemenuhan, perilaku tertentu, persuasi, wewenang, pencapaian tujuan, interaksi, perbedaan peran, inisiasi strukture dan kombinasi dari dua atau lebih hal-hal tersebut. Tetapi juga banyak di dalam era seperti ini bahasa dianggap sudah tidak pada porsinya atau dalam tanda kutip lainya perkembangan budaya saat ini banyak disalah gunakan termasuk penggunanaan bahasanya contoh : bahasa slengean, meme.
Meme dapat  sangat berpengaruh dalam membentuk budaya dari suatu daerah dalam hal budaya bahasa nya di dalam dunia globalisasi saat ini banyak sekali percampuran budaya dimana terkadang dilakukan penyaringan atau pemilihan budaya baru yang harus disesuaikan dengan budaya lama yang sudah ada tetapi hal ini banyak tidak dilakukan oleh sebagian besar  masyarakat kita, dalam kata lain mereka hanya sekedar mengikuti tren tanpa memikirkan efek negatif dari penggunaan bahasa. Meme dapat berimplikasi dengan sendirinya (dalam bentuk peniruan ) dan membentuk suatu budaya, sebagai unit kecil dari suatu budaya richard dawskin dalam bukunya yang berjudul selfish gene menceritakan apa dan bagaimana dia menggunakan istilah meme untuk menceritakan apa dan bagaimana menjelakan persebaran ide ataupun fenomena budaya. Dawskin juga memberi contoh meme yaitu nada, kaitan dari susunan kata, kepercayaan, gaya berpakaian, dan perkembangan teknologi.
Dengan segala macam perkembangan tekhnologi dan remaja yang begitu peka terhadapnya proses use and gratification memiliki andil dalam femomena ini tidak bisa dipungkiri dengan adanya perkembangan baru teknologi yang menyuguhkan khalayak dengan banyaknya pilihan media, analisa motivasi dan kepuasan menjadi komponen  yang paling krusial dalam penelitian khalayak .
Dalam perjalanan individu untuk mencari identitas diri bahasa merupakan satu pokok kajian yang sangat mempengaruhi dan penting mereka pun mulai membentuk kelompok-kelompok yang memilki kesamaan nasib daerah bahkan asal usul, kelompok pada umumnya terbentuk karena memeiliki suatu kesamaan dapat menjadi sumber pembentukan perilaku dalam kata lain kesamaan daerah dan bahasa memiliki peran penting. Proses tersebut adalah contoh riil dari istilah general-expectancy-value phenomenon yang dikenalkan oleh palmgreen.
HASIL PENELITIAN
Menurut penelitian yang telah  kami lakukan di vihara avalokitesvara desa talang sirih kabupaten pamekasan provinsi jawa timur berpatokan pada teori serta penjelasan mengenai 7 faktor pendukung pembentukan budaya menurut koentjoro ningrat  hasil penelitian nya adalah  bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa lokal yaitu bahasa madura, tetapi jika terdapat upacara persembayangan atau hari-hari besar dalam keagamaan mereka menggunakan bahasa indonesia sebagai pemersatu, tetapi jika ada tamu dari luar madura yang kebetulan adalah keturunan asli dari umat budha maka mereka juga bisa menggunakan bahasa mandarin meski tidak selancar berbahasa indonesia dan madura sendiri.
Jika ditarik benang merah dari ketiga bahasa yang digunakan maka jelas terdapat perbedaan yang signifikan jika dilakukan perbandingan kata,pengucapan dan makna dengan bahasa jawa yang ada dilamongan , contoh :
1.     Pamekasan (madura)
·    mator sakalangkong = terimakasih 
·    saporana = maaf
·    ongguhen = seriusan? 
·    Mareh ngakan= sudah makan
2.    Lamongan 
·    matur suwun, suwun = terimakasih
·    ngaturaken sedoyo keluputan, sepurane ingkang katah, sepurane seng katah =  mohon maaf 
·    tenane, saestu = seriusan
·    sampun dahar, sampun maem,  sampun nedo = sudah makan
dikutip dari penjelasan bapak Anton selaku admin  dan pengurus dari vihara avalokitesvara “disini terdapat 4 agama dalam satu komplek bangunan yaitu budha,konghucu, hindu dan islam maka kita menggunakan bahasa indonesia dalam pertemuan atau beribadatan,  disini sangat kental unsur  harmonis dan menghargai setiap agama nya tidak jarang kita menggunakan bahasa madura  dan terkadang kita menggunakan bahasa mandarin jika ada tamu  dari luar kota seperti langkat,singkawang ataupun luar negeri “ ujarnya.
Dapat ditarik kesimpulan bahasa yang dominan digunakan dalam daerah itu adalah bahasa madura atau sekitar 50% , yang kedua adalah bahasa indonesia yaitu sekitar 30%. Sedangkan untuk mandarin sendiri adalah sekitar 20%. Maka hubungan bahasa dalam mempengaruhi suatu budaya dan keterkaitanya dengan 6 faktor lainya adalah bahasa mereupakan unsur pertama yang menjadi patokan orang-orang untuk mengetahui apa budaya yang dianut contohnya adalah jika mahasiswa dari daerah lamongan bertemu dengan mahasiswa dari madura maka yang mereka gunakan adalah bahasa indonesia, dan jika bertemu dengan mahasiswa yang berasal dari satu daerah  maka mereka akan menggunakan bahasa daerahnya.
Referensi : Hafidz manaf, pengaruh kepemimpian, budaya bahasa organisasi dsn team work  terhadap kinerja organisasi pondok pesantren modern kabupaten ponorogo, tesis (makasar: universitas maula malik ibrahim)
Arshano sahar, studi observasi penggunaan situs 9gag dan  bahasa meme oleh remaja,  makalah non seminar, (depok: universitas indonesia )

2.    SISTEM PENGETAHUAN
Sistem pengetahuan adalah sistem yang terlahir karena manusia memiliki akal dan pikiran yang berbeda sehingga memunculkan dan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula, sehingga perlu disampaikan agar yang lainnya juga dapat mengerti.Pengetahuan yang sifatnya sempurna dan sebagai objek yang benar-benar nyata dari bentuk aslinya, baginya ia akan permanen dan tidak akan pernah berubah. Keyakinan akan identifikasi semacam ini bisa disimak dalam ajaran ide-idenya, khususnya dalam konsep dua dunianya: dunia ideal dan dunia indrawi. Baginya, klaim bahwa pengetahuan itu berasal dari pengalaman akal (pandangan ini dikenal dari kelompok empirisisme),sungguh sesuatu yang janggal adanya.
Uraian mengenai pokok-pokok khusus yang merupakan isi dari sistem pengetahuan dalam suatu kebudayaan, akan merupakan suatu uraian tentang cabang-cabang pengetahuan. Cabang-cabang itu sebaiknya dibagi berdasarkan pokok perhatiannya.
Dari hasil penelitian,masyarakat di daerah vihara tersebut hanya bersekolah sampai smp atau mereka terkadang lebih memilih untuk bersekolah di luar pulau Madura. Misalnya meneruskan SMA nya di Surabaya. Selain itu pada penelitian di gereja , mereka hanya menyediakan sekolah khatolik untuk TK,SD,SMP. Jadi jika ingin meneruskan sekolah khatolik harus pergi keluar atau dapat bersekolah di SMA umum.
Referensi : www.e-journal.com
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

3.    SISTEM MASYARAKAT/ ORGANISASI SOSIAL
Setelah kami melakukan penelitian di desa candih, kecamatan galis, kabupaten pamekasan tentang vihara yang ada disana yaitu vihara Avalokitesvara, yang didalamnya ada 4 icon agama ada islam, hindu, konghucu, budha.
Dalam satu tempat tetapi ada 4 agama itu sangat menarik sekali dan pasti kegiatan organisasi sosial yang dilakukan disini pasti juga berbagai macam seperti beribadah atau yang lainnya. Dari segi masyarakat sekitar para remaja yang ada disekitar desa candih tersebut mereka juga memiliki kegiatan sosial seperti karang taruna, dan jika masyarakat yang berbeda agama mereka akan melakukan ibadah seperti biasanya, atau sesuai hari ibadah mereka.  Karena setiap kehidupan masyarakat diorganisasi atau diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan tempat individu hidup dan bergaul dari hari ke hari. Kesatuan sosial yang paling dekat dan mesra adalah kesatuan dan kekerabatannya, yaitu keluarga inti yang dekat dan kaum kerabat lain. Kemudian ada kesatuan-kesatuan di luar kaum kerabat, tetapi masih dalam lingkungan komunitas. Karena tiap masyarakat manusia dan juga masyarakat desa, terbagi menjadi beberapa lapisan-lapisan, maka setiap orang di luar lapisan atau di luar kaum kerabatnya menghadapi lingkungan orang-orang yang lebih tingii daripadanya dan yang sama tinngkatnya. Diantara golongan terakhir ini adaorang-orang yang dekat padanya dan ada pula orang-orang yang menjauhinya.
Dalam organisasi sosial juga ada sistem kekerabatan, pengaruh industrialisasi yang sudah masuk semakin mendalam, tampak bahwa fungsi kesatuan kekerabatan yang sebelumnya penting dalam banyak sektor kehidupan seseorang, biasanya mulai berkurang seiring dengan bersamaan dengan adat istiadat yang mengatur kehidupan kekerabatan sebagai kesatuan mulai mengendor, karena seperti itu dipengaruhi budaya-budaya barat yang telah menjadi doktrin oleh masyarakat saat ini. Tapi lain halnya dengan masyarakat yang ada di desa candih atau lebih tepatnya masyarakat yang berada di sekitar vihara avalokitesvara ini bahwa mereka masih mengutamakan yang namanya kekerabatan dan sebuah organisasi dan mereka juga tidak mengesampingkan perbedaan mereka hidup dengan damai dan saling menghormati satu sama lain. Mulai dari kegiatan sosial yang apabila umat muslim lakukan maka mereka selain umat muslim akan menghormatinya begitupun sebaliknya.
Selain di vihara yang ada di pamekasan kita juga mengunjungi gereja kristen katholik yang ada di sebelah utara alun-alun pamekasan atau biasa disebut dengan arlan (arek lancor) disana ada sebuah gereja yang cukup besar, disana agamanya kristen katholik. Di gereja ini ada organisasi socialyang didirikan oleh agama disini, yaitu OMK (Orang Muda Katholik), ReMaKa (Remaja Katholik), WK(Wanita Katholik), dan FKUP(Forum Kegiatan Umat Pamekasan). Selain mereka mendirikan organisasi sosial mereka juga mengadakan kegiatan sosial diluar gereja seperti bakti sosial, mengadakan amal, bersedekah, mengunjungi penjara juga mereka lakukan dan itu rutin setiap bulan sekali, jadi tidak hanya melakukan kegiatan didalam gereja saja atau hanya sekedar beribadah didalamnya tetapi mereka juga melakukan kegiatan diluar agarlebih menyatu dengan masyarakat sekita, agar tidak terjadi perbedaan sosial juga, walaupun agama keristen katholik di daerah ini masih menjadi minoritas tetapi mereka tidak membatasi pergaulan atau kegiatan mereka, mereka juga mengunjungi penjara atau bakti sosial yang pasti didalam itu semua ada yang beragama selain kristen.
Juza l. H morgan menemukan suatu metode penelitian sistem kekerabatan yang sangat penting, yaitu bahwa beragam sistem kekerabatan itu erat sangkut pautnya dengan sistem istilah kekerabatan,suatu sistem kekerabatan tertentu dengan unsur tertentu sehingga untuk membuat suatu deskripsi mengenai sistem kekerabatan suku bangsa yang bersangkutan.
Referensi : Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

4.    SISTEM TEKNOLOGI
Sistem peralatan hidup (teknologi) yang merupakan uraian dari unsur kebudayaan menurut Koentjoningrat disini dijelaskan menurut Harsojo, system teknologi yang dimaksud adalah jumlah keseluruhan teknik yang dimiliki oleh para anggota suatu masyarakat, meliputi keseluruhan cara bertindak dan berbuat dalam hubungannya dengan pengumpulan bahan-bahan mentah dari lingkungannya. bahan itu untuk dibuat menjadi alat kerja, penyimpanan, pakaian, perumahan, alat transportasi, dan kebutuhan lainnya yang berupa materi. Koentjaraningrat mengemukakan bahwa teknologi adalah mengenai cara manusia membuat, memakai, dan memelihara seluruh peralatannya, bahkan mengenai cara manusia bertindak dalam keseluruhan hidupnya. Teknologi tradisional pada masyarakat yang berpindah-pindah dan masyarakat desa yang hidup dari pertanian, menurut Kontjaraningrat palimg sedikit memiliki 8 (delapan) macam system peralatan, yaitu sebagai berikut:
1.    Alat-alat produksi
2.    Senjata
3.    Wadah
4.    Alat untuk menyalakan api
5.    Makanan, minuman, bahan pembangkit gairah, dan jamu-jamuan
6.    Pakain dan perhiasan
7.    Tempat berlindung dan perumahan
8.    Alat-alat transportasi
Disamping itu hasil dari penelitian kami di vihara tempat berada di daerah Pamekasan Talang Candih mayoritas sebagian besar warga disana petani atau peternak yang menggunakan alat kerja manual menggunakan kayu untuk memisahkan padi dari batangnya dan sedikit warga yang sudah menggunakan mesin. Pakaian yang digunakan warga disana pun pakaian yang digunakan untuk menahan pengaruh alam atau bisa disebut pakaian sebagai perhiasan badan warga disana juga menggunakan pakaian sebagai lambang yang dianggap suci disaat ada atau memperingatkan hari besar atau hari raya dan hanya beberapa orang yang menggunakan perhiasaan seperti emas yang biasanya digunakan oleh orang teratas. Alat transportasi yang digunakan untuk bekerja atau mereka ingin bergerak ke mana-mana karena itu mereka memerlukan alat bantu unuk memudahkan aktivitasnya pada zaman modern ini seperti, sepeda motor atau mobil dan tidak jarang juga ada beberapa warga yang masih menggunakan kereta beroda atau yang bisa dibantu oleh kuda atau sapi. Rumah yang mereka tempati pun cukup sederhana tidak begitu mewah atau mewah yang bisa digunakan untuk tempat tinggal keluarga kecil, keluarga besar, ibadah, tempat pertemuan, dan pertahanan dan Alat komunikasi untuk menghubungi satu sama lain mereka menggunakan handphone tapi tidak berbasis new media karna pengetahuan tentang new media disekitar situ masih terbilang sempit dan masih menggunakan saluran sms atau telefon untuk memberikan informasi ke lain.
Lain dengan penelitian kami yang tempat kedua disekitar Alun-alun pamekasan yang sebagian besar warga disekitar tersebut bekerja sebagai karyawan, pedagang, dan guru, pakaian perhiasan, alat transportasi, rumah disana pun sama dengan warga yg di vihara tersebut. Perbedaannya di kedua tempat tersebut terletak di alat komunikasi yang sebagian besar di tempat ini warga sudah mengenal internet dan tidak asing lagi untuk saling komunikasi. Mereka kini sudah jarang menggunakan sms tetapi menggunakan aplikasi yang biasa disebut dengan WhatsApp dan mereka membuat group untuk menginformasikan tentang hal apapun yang berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan atau dikerjakan.
Referensi : Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

5.    SISTEM MATA PENCAHARIAN
Sistem mata pencaharian dibagi menjadi 6 yaitu sistem mata pencaharian tradisional, memburu dan meramu, beternak, bercocok tanam di ladang, menangkap ikan, dan bercocok tanam menetap dengan irigasi. Dalam penelitian kami di vihara avalokistesvara, masyarakat sekitar bermata pencaharian nelayan, tambak , dan petani.
Nelayan
Merupakan mata pencarian yang sangat tua. Manusia zaman purba yang kebetulan hidup di dekat sungai, danau atau laut, telah memanfaatkan sumber alam yang penting itu untuk keperluan hidupnya. Ketika manusia mengenl bercocok tanam, aktivitas menngkap ikan seing ddilakukan sebagai mata pencarian tambahan. Sebaliknya, masyarakat nelayan yang menangkap ikan sebagai mata pencria yang utama, juga bertani dan berkebun.
Para nelayan yang menangkap ikan di laut biasanya berlayar dekat pantai. Lebih dari 50 persen ikan hidup dalam kawanan yang meliputi jumlah beribu-ribu ekor, dengan jarak antara 10 hingga 30 Km dari pantai. Pada musim-musim tertentu kawanan ikan tadi malahan akan lebih mendekat lagi, dan masuk kedalam teluk-teluk untuk mencari air tenang dan untuk bertelur. Di samping jenis-jenis ikan yang datang dalam kawanan besar itu, banyak pula jenis ikan lain yang hidup sendiri-sendiri secara terpencat.
Ada laut-laut tertentu yang pantainya menjadi daerah hidup kawanan ikan tertentu, yang bermigrasi menurut musim. Bagi para nelayan tersebut penangkapan ikan itu merupakan pokok dari usaha mereka sebagai nelayan. Serupa dengan itu, kawanan-kawanan ikan yang terdiri dari berpuluh-puluh ribu ekor pula, pada musim-musim tertentu menyusuri pantai-pantai, dan semenjak beberapa abad telah menjadi sumber mata pecarian hidup warga Pamekasan yang hidup di sekitar pantai-pantai tersebut.
Petani
Petani adalah seorang yang bergerak dalam pertanian, utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanama, seperti padi, bungah, buah dan lain lain.  berbeda dengan yang lainnya, di Desa Candi Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur masih ada petani yang membajak sawahnya dengan sepasang orang. Memang tidak ada yang berbeda hanya saja di derah Desa Candi mereka masih saja menggunakan alat yang ditarik dengan manusia ataupun dengan sapi atau kerbau.
Jika dilingkungan sekitar gereja pekerjaan yang ditekuni adalah bekerja di toko atau karyawan. Karena disana tidak ada lahan pertanian maka mereka sebagai produsen.
C.  Tambak
Tambak adalah pekerjaan yang paling dominan. Terlihat adanya beberapa tambak sebelum masuk kawasan vihara tersebut. Tambak yaitu kolam buatan (empang), biasanya di daerah pantai yang diisi air dan dimanfaatkan sebagai budidaya perairan. Hewan yang dibudidayakan seperti udang dan ikan.
Referensi : Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

6.    SISTEM RELIGI
Dalam suatu kebudayaan yang patut diperhatikan adalah nilai-nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap penganutnya. Nilai-nilai dasar yang menjadi pandangan hidup dan sistem kepercayaan di mana semua orang pengikutnya berkiblat. Nilai dasar itu membuat para pengikutnya melihat diri mereka ke dalam, dan mengatur bagaimana caranya mereka melihat keluar. Nilai dasar itu merupakan filosofi hidup yang mengantar anggotanya ke mana dia harus pergi.
Suatu sistem religi dalam suatu kebudayaan selalu mempunyai ciri-ciri untuk sedapat mungkin memelihara emosi keagamaan itu di antara pengikut-pengikutnya. Dengan demikian, emosi keagamaan merupakan unsur penting dalam suatu religi bersama dengan tiga unsur yang lain, yaitu: (a) sistem keyakinan; (b) sistem upacara keagamaan; (c) suatu umat yang menganut religi itu.
Keberagaman budaya dan juga keagamaan merupakan sebuah ciri tersendiri bagi negara Indonesia. Seperti dalam penelitian kelompok kami di salah satu daerah di Pamekasan tepatnya di dusun Candih kecamatan Galis kabupaten Pamekasan. Di daerah tersebut terdapat sebuah vihara yang dikenal dengan Vihara Avalokitesvara yang merupakan Vihara terbesar di Pulau Garam ini. Uniknya dalam Vihara tersebut bukan hanya terdapat satu tempat ibadah, namun terdapat 4 (empat) tempat ibadah sekaligus di dalamnya seperti: Islam, Hindu, Khong Hu Cu, dan Budha itu sendiri. Di daerah lain yang tidak jauh dari Vihara itu, juga terdapat sebuah Gereja yang penganutnya adalah Kristen Katolik. Menurut Budianto di lingkungannya lebih dominan ummat yang memeluk agama Islam dari pada Katolik. Ummat yang menganut agama Katolik berjumlah sekitar 508 orang. Namun, dengan banyaknya agama dalam satu wilayah tersebut tidak membuat Pamekasan menjadi kota konflik antar pemeluk agama lain.
Kerukunan hidup antar umat beragama bukanlah hal yang given, melainkan butuh proses dan upaya dari berbagai pihak. Mewujudkan hidup yang rukun baik antar maupun inter umat beragama, dalam masyarakat yang plural bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini disebabkan dengan banyaknya faktor yang terkait, misal faktor sosial, pendidikan, ekonomi, politik termasuk ideologi dari masing-masing pemeluk.
Menurut Dr. Koentjaraningrat terdapat tiga unsur penting dalam sistem religi yang sudah kita sebutkan di atas, antara lain:
a.    Sistem keyakinan

Mengenai sistem keyakinan para ahli antropologi biasanya menaruh perhatian terhadap konsepsi tentang dewa-dewa, sifat dan tanda dewa. Dari kelima agama yang dianut di atas terntunya mereka memiliki kepercayaan masing-masing yang berbeda agama ang satu dengan yang lain. Islam memiliki keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan mereka, Kristen adalah Yesus, dan begitu pula agama lainnya. Kitab dan juga Nabi yang mereka yakini dari masing-masing penganut juga berbeda.
b.    Sistem upacara keagamaan

Sistem keagamaan secara khusus mengandung empat aspek yang menjadi perhatian khusus dari para ahli antropologi ialah:
a.)    Tempat melakukan upacara keagamaan
1.    Masjid/langgar merupakan tempat ummat Islam dalam melaksanakan upacara keagamaan.
2.    Gereja merupakan tempat ibadah ummat Kristen.
3.    Vihara merupakan tempat  ibadah ummat Budha.
4.    Pura merupakan tempat ibadah ummat Hindu.
5.    Li Thang/Klenteng tempat ibadah ummat Khong Hu Cu.

b).    Saat-saat upacara keagaman dilaksanakan/hari-hari besar keagamaan

1.    Hari besar agama Budha yakni Waisak yang merupakan peringatan dari 3 peristiwa. Yaitu, kelahiran Pangeran Siddharta, hari pencapaian Penerangan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari sang Budha wafat
2.    Hari Raya Nyepi bagi ummat Hindu yang dirayakan setiap tahun baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai sebagai hari penyucian dewa-dewa yang berada di samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Hari Raya Nyepi tidak ada aktifitas apapun di dalamnya. Segala aktifitas pelayanan umum ditiadakan kecuali Rumah Sakit,
3.    Hari Raya Idul Adha bagi ummat Islam, di hari raya ini dilakukan penyembelihan hewan kurban untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai ganti putranya.
4.    Hari Natal bagi ummat kristen yang diperingati setiap tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus
5. Hari Raya imlek bagi ummat Khong Hu Cu
    Selain hari-hari besar dari semua agama, juga terdapat kegiatan keagamaan yang lainnya seperti bagi ummat Islam yang berpuasa ketika bulan Ramadhan. Begitu juga dengan ummat Kristen Katolik, mereka juga melakukan puasa dan juga shalawatan selama satu bulan penuh. “ummat Katolik melakukan shalawat pada bulan Mei dan Oktober” ungkap Budianto, pengurus gereja di salah satu daaerah di Pamekasan.
   
 Dengan adanya tempat peribadatan lain selain vihara, melambangkan persatuan antar umat beragama di tempat ini. Kerukunan beragama adalah terwujudnya sikap dan kesadaran untuk saling mengerti, saling menghormati dan saling menghargai di antara pemeluk agama yang berbeda. Bahkan terkadang ada ummat agama lain seperti penganut Khog Hu Cu tidak hanya menyembah di Klenteng saja, namun mereka juga beribadah di Pura dan juga Vihara yang ada di sana.
Referensi : Liliweri, Alo. (2003). Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta



7.    KESENIAN
Kesenian menurut Koentjoroningrat adalah kompleksitas dari ide-ide , norma-norma, gagasan,nilai-nilai, serta peraturan dimana kompleks aktivitas dan tindakan tersebut berpola dari manusia itu sendiri dan pada umumnya berwujud berbagai benda-benda hasil ciptaan manusia. Dipandang dari sudut kesenian sebagai ekspresi hasrat manusia akan keindahan itu dinikmati, maka ada dua lapangan besar, yaitu : a) seni rupa, atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan mata, dan b) seni suara, atau kesenian yang dinikmati manusia dengan telinga. Seni rupa yang terdapat di Vihara Avalokitesvara ini berupa patung-patung. Sedangkan seni suara yaitu adanya barongsai dan juga wayang kulit. Kesenian tersebut biasanya dipertunjukkan pada saat hari-hari besar atau perayaan budha. Pertunjukan kesenian ini dilakukakan di sekitar wilayah vihara. Untuk wayang kulit sendiri mereka telah menyediakan tempat tepat didepan vihara tersebut.
Barongsai merupakan kesenian untuk mengiring para tamu yang datang. Para tamu tersebut bukan hanya berasal dari sekitar pamekasan tetapi juga dari luar daerah atau kota untuk beribadah. Biasanya terdapat dua barongsai untuk mengiring. Setelah mengiring sampai pintu masuk mereka berhenti sejenak untuk memainkan tabuhan khas barongsai dan barongsaipun mulai mempertunjukkan aksinya.Acara ini biasanya berlangsung selama 3 hari. Dua hari untuk penyambutan tamu dari vihara-vihara lain yang membawa patung.  Untuk wayang kulit diadakan pada malam hari.
Dalam penelitian yang ada di gereja dekat alun-alun pamekasan, masyarakat disana mempunyai kesenian yang bernama Ul-Daul. Sebagian besar orang berpendapat bahwa Ul-Daul  berasal dari kata “Gaul, Ul-Gaul” dan kemudian diperaktiskan menjadi “Ul-Daul”. Musik Ul-Daul  merupakan musik kontemporer yang memiliki suatu ciri khas tersendiri, yang berasal dari salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat madura.
Berdirinya musik ini berawal dari suatu kebiasaan masyarakat madura yang sering kali memanfaatkan barang-barang ditempat sekitar atau barang bekas yang sudah tidak bisa dipakai lagi, untuk dijadikannya sebagai instrumen dalam memainkan bunyi-bunyian sehingga membentuk suatu nada-nada yang etnik dan juga sangat khas. Musik ini mulai berkembang pesat pada era tahun 1990-an yang mempadukan dengan berbagai macam aliran musik mulai dari musik dangdut, gambus, kasidah, dan hingga lagu-lagu daerah.
Musik Ul-Daul merupakan inovasi musik tong-tong, sehingga sebagian besar alat-alat musik yang digunakan untuk memainkannya terbuat dari bambu. Ada beberapa alat musik yang terbuat dari potongan bambu memiliki jenis ukuran yang berbeda-beda dan sesuai dengan bunyi yang akan dihasilkannya nanti, mulai dari ukuran besar panjang sekitar setengah sampai mencapai satu meter dengan diameter 40-50 cm. Sehingga akan melahirkan bunyi yang sangat nyaring dan besar. Dan selanjutnya memiliki jenis ukuran yang semakin kecil sesuai dengan kebutuhan irama yang diperlukan untuk dapat mempadukan dan menghasilkan nada-nada yang indah sehingga enak untuk didengarkan. Cara memainkan musik ini dengan menggunakan pukulan monoton sehingga melahirkan irama yang dinamis. Semakin eksisnya keberadaan dan bertambahnya perkumpulan musik Ul-Daul dimadura ini menjadikan sebagai bukti bahwa madura merupakan tanah yang kaya raya akan seni dan kebudayaan yang memiliki ciri-ciri khas tersendiri.
Dalam hari-hari besar musik Ul-Daul ini dimainkan. Mereka pun telah memiliki alat-alat musik sendiri. Ul-Daul yang dimainkan adalah murni Ul-Daul bukan ada campuran alat musik lain. Gereja ini pernah memenangkan lomba tingkat SMP di probolinggo.
Referensi : Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

Komunikasi Lintas Budaya : Sistem Kebudayaan Masyarakat di Mojokerto

Komunikasi Lintas Budaya : Sistem Kebudayaan Masyarakat di Mojokerto
I.    BAHASA
Agama Budha barasal dari kerajaan kosala kapilawatsu dan peninggalan - peninggalan jaman Budha ada di sekitar India dan Nepa, pada jaman itu saat  sang Budha menyampaikan ajarannya di daerah itu mengunakan  bahasa Pali dan Sansekerta.

Sansekerta merupakan salah satu bahasa tertua di India bahasa ini di gunakan sansekerta  veda pada tahun 1500 SM, namun di duga sansekerta berumur lebih tua mengingat sebelumnya tradisi menulis belum berkembang sehingga sulit untuk memastikan bahasa kuno ini,bahasa Indonesia di kenal sebagai bahasa indo – arya yaitu sebuah cabang besar dan beragam dari keluarga bahasa indo -eropa dengan sansekera paling berpengaruh dan terkenal,kata sansekerta di terjemahkan dalam beberapa arti berbeda seperti (lengkap,sempurna dan menarik bersama-sama) asal dari bahasa sansekerta berasal pada dialek lisan yang kemudian di organisasi sehingga menjadi bentuk yang lebih moderen sekitar tahun 500 SM selain itu sansekerta  adalah bahasa klasik dari india kuno yang lazim di gunakan oleh semua anggota masyarkat kelas tinggi dan berbudaya, salah satu contoh bahasa sansektra yaitu "Dosa".

Bahasa pali  merupakan sebuah bahasa indo – arya dan merupakan sebuah bahasa partnernya atau perakit kata palii sendiri  artinya adalah baris atau garis arau teks (konanik) dan sekarang di golongkan dalam bahasa sastra,sementara tidaklah pasti apakah bahasa palu di gunakan dalam bahasa sehari hari, kosakata pali berakar dari bahasa sansekerta  namun dengan makna yang sedikit berbeda  di sesuaikan dengan ajaran budha,kosakata yang serupa anatara sansekerta dan bahasa palu justru menunjukkan perlawannan kata,contohnya  kalangan budha tidak menyuka adanya jiwa atau sifat  esensial pada suatu benda, sehingga di gunakan istilah "dhamma" untuk merefleksikan hal tersebut ( dalama bahas sansekerta bearti dharma ) bahasa palu sering di pandang  sebagai bahasa suci melebihi  bahasa sansekerta,karna sang budha di perkiakan mengunakan bahasa bahasa palu sewaktu menyampaikan ajarannya.

Jadi pada saat ini dua bahasa tersebut tetap di pakai namun dengan  seiring dengan berjalannya waktu  agam itu berkembang ke daerah – daerah tertentu  yang mana di dalam agama budha mengikuti adat  budaya dan bahasa daerah tersebut yang artinya di dalam agama budha mau pakai bahasa apapun  tidak masalah, akan tetapi lebih banyak dan dominan memakai bahasa palii  dan sansekerta.bukan karna bahasa pali dan sansekerta itu bahsa yang suci  yang penting arti dari bahasa palu itu apa dan dalam bahasa sansekerta itu apa.
Dalam agama budha tahu atau hafal doa dalam agama budha  tetapi tidak tahu arti bahasa indonesianya percuma ,jadi mau pakai bahasa jawa ,indonesia ,madura tidak masalah  yang penting tahu artiny namun dalam ritual tata caranya mereka memakai bahasa tertentu, misalnya pali dan sansekerta,salah satu contoh bahasa sansekerta dan pali saat beribadah( namo sang yang adi budhaya ) yang artinya terpujilah Tuhan Yang Maha Esa.

II.    SISTEM PENGETAHUAN

Masyarakat Mojokerto tergolong pada masyarakat yang pada jaman modern ini masih menghormati kebudayaan dan melestarikannya. Kebudayaan Majapahit yang hingga saat ini ada dan menjadi salah satu objek wisata dan cagar budaya yang berada di Mojokerto. Wisata religi umat Budha merupakan lokasi yang biasa menjadi pilihan saat mengunjungi Kabupaten Mojokerto.
Sistem pengetahuan bagi masyarakat Mojokerto khususnya kecamatan Trowulan, masyarakat sekitar memiliki pendidikan yang standard sama seperti daerah lain. Hanya saja ketika kita menyinggung kebudayaan Budha dalam sistem pengetahuannya berbeda dengan masyarakat Madura yang mayoritas beragama Islam. Ketika di Madura masyarakat yang beragama islam melakukan pendidikan sekolah madrasah dan mengaji di “Langgar”, masyarakat Budha tidak miliki rutinitas semacam itu. Tetapi ketika seseorang menginginkan menjadi seorang biksu.
Memiliki berbagai macam kebudayaan terutama pada kebudayaan Majapahit menjadi hal positif bagi masyarakat sekitar. Kerajaan Majapahit dulu berada di Mojokerto tanpa membawa identitas agama, bahasa atau ras, rombongan Kerajaan Majapahit datang ke Indonesia khususnya di wilayah Mojokerto untuk mempererat dan menyatukan Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagaisuku, agama dan bahasa serta kebudayaan.
Tidak semua kecamatan yang ada di Mojokerto memiliki wisata dan cagar budaya Budha disetiap wilayahnya. Dari ke 19 kecamatan yang ada di Kota Mojokerto, hanya satu kecamatan yang memiliki wisata dan cagar budaya ini, yaitu Kecamatan Trowulan. Berada pada wilayah perbatasan dan berada pada paling barat Mojokerto dan hampir berada pada wilayah timur Jombang.Trowulan di katakan sebagai Kompleks Peninggalan Kerajaan Majapahit. Terlihat ketika sudah masuk wilayah trowulan kita akan dijumpai dengan adanya nuansa Budha dengan bangunan bangunan disepanjangj alan menuju lokasi cagar budaya seperti pada wisata religi Patung Budha Tidur. Memberikan nuansa candi ini dilakukan oleh pemerintah kota Mojokerto bekerjasama dengan masyarakat Trowulan.
Dalam tingkat formal, budaya merupakan sebuah tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh suatu masyarakat secara turun menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pada tingkatan informal, budaya banyak diteruskan oleh suatu masyarakat dari generasi ke generasi berikutnya melalui apa yang didengar, dilihat, dipakai, dan dilakukan tanpa diketahui alasannya mengapa hal itu dilakukan.
Padatingkat teknis, bukti-bukti dana turan-aturan merupakan hal yang paling penting. Sehingga terdapat penjelasan logis mengapa sesuatu harus dilakukan dan yang lain tidak boleh dilakukan.Keberadaanbenda-benda masa lampau yang kini dikonsepkan sebagai benda cagar budaya dapat menunjukkan pada kita dan pada generasi mendatang tentang beragam informasi yang terjadi pada masa lampau. Benda cagar budaya tidak dibiarkan menjadi benda mati belaka, tetapi dirawat dan dipelihara beserta lingkungannya sehingga memiliki daya tarik dan nilai jual.
Menyingkapi terjadinya kerusakan situs cagar budaya melalui kesadaran lokal, maka yang harus dilakukan pemerintah memberikan penyuluhan secara berkesinambungan memberikan pelatihan dan ketarampilan terhadap pengembangan usaha pahat patung dalam meningkatkan dan sekaligus ikut dalam mempromosikan cagar budaya di masyarakat luar daerah bahkan manca negara. Mengadakan pendekatan sosial melalui peran tokoh masyarakat dalam ikut menanamkan kesadara masyarakat dalam melestarikan cagar budaya, Serta perlunya penegakan supremasi hukum terhadap siapapun yang melanggar dan merusak cagar budaya yang menjadi aset daerah. Di dalamkerangkakesejarahan, kitamemandangmanusiahidupdalamduadimensi, yaknisebagaipasiendanpelakusejarah.Keberadaan museum Trowulanbagiaspekpendidikanmemberikankontribusi yang sangatbesar. Di dalam museum TrowulanterdapatberbagaipeninggalanMajapahitdanbukti-buktikebesaranMajapahit. Museum ini dapat memberikan pengetahuan dari peninggalan-peninggalan yang ada. Masyarakat dan khususnya para pelajar dapat mempelajari peninggalan-peninggalan di museum untuk di kembangkan dan merekonstruksi kehidupan. Majapahit pada masa lalu. Sehingga dapat di ketahui corak pemerintahan, kehidupan social dan budaya Majapahit. Majapahit merupakan kerajaaan terbesar di Nusantara dan wilayahnya hampir seluruh wilayah Negara kita dan mencakup negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan lain-lain. Kejayaan Majapahit memberikan kebanggaan bagi kita dan memberikan semangat untuk menjadi bangsa yang besar. Hal ini memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan bahwa negara kita dahulu merupakan Negara yang besar yang memiliki kekuasaan yang luas.Selain itu Museum Trowulan harus terus dilestarikan memiliki nilaisejarah yang tinggi terutama sejarah Majapahit yang merupakan kerajaan terbesar di Nusantara. Museum Trowulan memberikan nilai-nilai edukatif yang sangat bermanfaat bagi generasi penerus bangsa agar mengetahui kebesaran Majapahit. Dengan demikian keberadaan museum Trowulan harus di jaga bersama untuk diwariskan kepada generasi selanjutnya.

III.    SISTEM RELIGI

Sistem religi selalu dikaitkan dengan kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat setempat, penelitian yang kami lakukan di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto membawa hasil bahwa penduduk desa  setempat menganut system religi islami dan hanya beberapa yang menganut sistem religi budha itupun hanya dari pendatang saja. Dari penduduk asli desa setempat tidak ada yang beragam Budha, mayoritas beragama Islam meskipun kental dengan kebudayaan budha.
Kegiatan religi Islam yang dilakukan disana yaitu pengajian dan hadrah. Sedangkan kegiatan religi Budha yaitu peringatan houl kematian. Selain itu penduduk yang beragama budha mengadakan kegiatan di hari besar , yaitu seperti Hari Raya Waisak. Kegiatan di hari Raya Waisak yaitu sembahyang, memberikan sesajen, berdoa sambil mengelilingi patung budha tidur.
Masyarakat di dataran rendah sangat beraneka-ragam bentuk kebudayaan serta adat-istiadatnya. Masyarakat dataran rendah dapat didefinisikan sebagai  masyarakat yang ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama anggota warga desa sehingga seseorang merasa diri nyamerupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat tempat dia hidup, serta rela berkorban demi masyarakatnya, saling menghormati, serta mempunyai hak dan tanggungjawab yang sama di dalam masyarakat terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama. Adapun ciri-ciri masyarakat dataran rendah antara lain; Setiap warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan warga masyarakat di luarbatas-batas wilayahnya.
Pada masa Kerajaan Majapahit berkembang agama Hindu Syiwa dan Buddha. Kedua umat beragama itu memiliki toleransi yang besar sehingga tercipta kerukunan umat beragama yang baik. Raja HayamWuruk beragama Syiwa, sedangkan Gajah Mada beragama Buddha. Namun, mereka dapat bekerja sama dengan baik.

Rakyat ikut meneladaninya, bahkan Empu Tantular menyatakan bahwa kedua agama itu merupakan satu kesatuan yang disebut Syiwa–Buddha. Hal itu ditegaskan lagi dalam Kitab Sutasoma dengan kalimat Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa. Artinya, walaupun beraneka ragam, tetap dalam satu kesatuan, tidak ada agama yang mendua.Urusan keagamaan diserahkan kepada pejabat tinggi yang disebut Dharmmaddhyaksa. Jabatan itu dibagi dua, yaitu Dharmmad dhyaksa Ring Kasaiwan untuk urusan agama Syiwa dan Dharmmaddhyaksa Ring Kasogatan untuk urusan agama Buddha. Kedua pejabat itu dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang disebut dharmmaupatti. Pejabat itu, pada zaman HayamWuruk yang terkenal ada tujuh orang yang disebut sang upattisapta. Di samping sebagai pejabat keagamaan, para upatti juga dikenal sebagai kelompok cendekiawan atau pujangga. Misalnya, Empu Prapanca adalah seorang Dharmmaddhyaksa dan juga seorang pujangga besar dengan kitabnya Negarakertagama.Untuk keperluan ibadah, raja juga melakukan perbaikan dan pembangunan candi – candi.

IV.    SISTEM TEKNOLOGI

Dapat kita ketahui bahwa sebelum adanya teknologi yang berkembang secara cepat, secepat penyebaran informasi pada zaman sekarang bahwa masyarakat.  Desa Trowulan masih memiliki tradisi yang sangat kental dari peninggalan kerajaan-kerajaan Majapahit dulu,seperti adanya kegiatan syukuran dipemakaman,atau ditempat-tempat yang dianggap keramat,serta pohon-pohon besar yang dianggap keramat atau biasa disebut Andil. Masyarakat setempat melakukan syukuran tersebut untuk meminta keselamatan jika Desa tersebut mengalami sebuah masalah yang berhubungan dengan berbaumistik.Kelancaran jika desa tersebut akan melaksanakan suatu acara baik perkawinan, khitanan, atau pun memperingati hari kelahiran desa tersebut. Kepercayaan terhadap kegiatan itu akan mendatangkan rejeki jika orang tersebut percaya dengan kekuatan- kekuatan yang bisa terwujud.

Tidak hanya demikian,namun interaksi masyarakat Desa Trowlan sebelum adanya perkembangan teknologi yang masuk di wilayahnya,masyarakat sangat akrab, dalam bahasa Sosiologi disebut Gemeinscaft atau Paguyuban, paguyuban adalah kelompok atau kehidupan bersama dimana para anggotanya diikat oleh suatu hubungan batin yang murni, bersifat alamiah dan kekal, dan didasarkan pada perasaan cinta atau perasaan batin yang kuat.

Sistem teknologi yang digunakan oleh masyarakat budha masih menggunakan sistem tradisional. Dalam acara yang dilakukan oleh masyarakat Budha terutama dalam hal acara adat. Melakukan upacara memperingati hari kematian (haul) dilakukan dengan sederhana. Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto yang terletak cukup jauh dari daerah Kota. Lokasi menuju Trowulan pengunjung akan merasakan nuansa kebudayaan Budha. Bangunan yang ada disamping rumah dengan arsitektur jaman Majapahit akan dijumpai. Walaupun masyarakat Trowulan tidak beragama Budha tetapi bangunan yang didirikan atas bantuan pemerintah kota sudah disetujui oleh masyarakat.
Masyarakat di kecamatan Trowulan tidak terlalu terbelakang, berbagai macam masyarakat dari berbagai sistem pencaharian yang berbeda banyak yang menggunakan tekhnologi modern yang bisa digunakan dalam mempermudah kegiatan sehari-hari bahkan mendapatkan berbagai informasi dari tekhnologi yang sering digunakan.

Arus yang mengalir dengan deras pada kemajuan teknologi komunikasi dan informasi menyebabkan terjadinya pada perubahnya nilai – nilai pelestarian dan ciri khas budaya yang terdapat pada suatu daerah yang sudah ada sejak dahulu kala. Banyak sekali penyebaran dan masuknya kebudayaan atau kebiasaan dari negara lain yang masuk ke dalam kebudayaan Indonesia. Penyebab yang terjadi dari keadaan tersebut dikarenakan luasnya pengetahuan yang didapat oleh perkembangan media teknologi komunikasi dan informasi, dapat merubah nilai-nilai serta memberikan kesalahan persepsi terhadap keyakinan dan anutan yang tersebar luas di masyarakat .

Berbagai macam perpaduan yang ada dalam masyarakat tidak hanya dalam masyarakat yang beragama hindu budha tetapi masyarakat yang muslim juga mendominasi dalam perkembangan teknolgi ini . Untuk kegiatan keagamaan sitem yang dianut hindu budha masih menggunakan sistem tradisional , karena dalam sistem tradisional semua alat-alat yang digunakan dalam beribadah menggunakan dupa, sesajen , buah-buahan yang tediri dari alam. Berbeda dengan masyarakat yang dominan muslim sudah menggunakan tekhnologi yang ada contohnya mengunakan aplikasi yang ada pada gadget berupa al-quran terjemahan online serta aplikasi adzan dan yang lainnya. Tetapi untuk kegiatan keagaaman yang dianut agama kristen, hindu, budha serta protestan masih menggunakan tekhnologi manual yang harus datang langsung ketempat peribadatan .

Dari waktu ke waktu perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan dalam penyebaran informasi serta pengadaan hari-hari besar yang mengundang seluruh umat hindu budha untuk bersama- sama mengadakan ritual secara menyeluruh baik diseluruh penjuru Indonesia maupun sampai keluar negeri. Pemanfaatan teknologi sebagian oleh masyarakat yang bukan tetgolong seperti pendeta , karena berbagai orang-orang yang mengabdikan diri sebagai kegiatan keagamaan atau bitsu hanya mendekatkan diri kepada pencipta.Teknolgi yang digunakan juga tidak selamanya menggunakan alat, tetapi untuk pemakaman atau pembakaran mayat yang menggunakan alat untuk menyegerakan dalam membakar jenazah, tidak hanya seperti kayu bakar, sekarang mulai menggunakan gas serta teknologi pembakar agar dapat mempercepat dan menghemat kayu bakar  mengifesienkan waktu yang digunakan dalam pembakaran mayat. Sehingga dalam kegiatan keagamaan, kegiatan adat maupun tradisi yang dianut oleh masyarakat menggunakan teknologi tidak merubah tradisi yang dilakukan secara turun temurun.

V.    MATA PENCAHARIAN

Mata pencaharian penduduk pasti tidak lepas pendidikan yang dimiliknya, sebagian besar warganya bermata pencaharian petani dan pengrajin batu bata. Pada Desa Bejijong Kecamatan Trowulan Mojokerto di tempat pariwisata Mahavihara Majapahit (Budha Tidur) warga sekitar tempat tersebut banyak sekali berjualan pernak-pernik, jajanan, makanan, oleh-oleh, bahkan sebelum sampai ke tempat wisata Buddha Tidur kita dapat melihat pinggir-pinggir rumah warga sekitar terdapat patung budha yang sangat berbagai macam.

Sedari dulu di Trowulan adalah kawasan  yang subur, letaknya di pinggiran sungai brantas membuat lahan pertanian diusahakan sepanjang musim, selain bertani, masyarakat Trowulan juga mengembangkan seni kerajian dari tanah liat, batu dan logam sebgai mata pencaharian.Di Trowulan juga terdapat banyak industri pembuatan batu bata sebagai salah satu bahan pokok bangunan tempat tinggal, industri ini bisa ditemui hampir setiap sudut desa di Trowulan.Kerajinan memahat batu, mengolah logam dan pembuatan terakota juga banyak ditemukan di kawasan ini terutama di Desa Bejijong.Dan warisan dari nenek moyang terdahulu masih terpelihara sampai kini di Trowulan.

Mata pencaharian penduduk sebagian besar cenderung ke arah lapangan usaha perdagangan, angkutan, industri pengolahan dan jasa pariwisata. Potensi sub sektor peternakan di Kota Mojokerto masih sangat mungkin untuk dikembangkan mengingat kebutuhan daging untuk masyarakat Mojokerto dan sekitarnya sangat tinggi.Untuk meningkatkan jumlah populasi ternak, baik ternak besar maupun ternak kecil perlu dikembangkan pola-pola kemitraan yang terkait dengan pihak swasta. Lahan budidaya perikanan di Kota Mojokerto seluas 16,5 ha sedangkan yang dikelola baru 6,1 dengan demikian baru sebagian kecil yang dapat dieksploitasi.

Perairan umum yang terdiri dari sungai, sawah yang dapat dimanfaatkan untuk perikanan seluas 10,6 ha, sedangkan waduk seluas 1,1 ha. Pada saat ini berkembang pula petani penangkar bibit ikan lele yang dapat membantu ketersediaan bibit lele di wilayah Kota Mojokerto.

Beberapa produk unggulan wilayah ini antara lain industri sepatu dan sandal kulit, kerajinan dari gips, kerajinan bambu, miniatur perahu layar, industri pengecoran aluminium untuk peralatan masak, batik, konveksi dan bordir, dan beberapa industri makanan.

Kota yang juga dikenal dengan makanan khas onde-ondenya itu mempunyai tiga lokasi wisata yang diunggulkan. Ketiga lokasi wisata itu antara lain Tempat Pemandian Tirta Suam, Kawasan Wisata Air Kali Barantas, dan Pemandian Sekarsari. Mayoritas mata pencarian penduduk bergerak dibidang pertanian dan pengajin Patung.  Permasalahan yang sering muncul berkaitan dengan mata pencaharian penduduk adalah tersedianya lapangan pekerjaan yang kurang memadai dengan perkembangan penduduk sebagaimana tertuang dalam perencanaan pembangunan daerah Kabupaten Mojokerto.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pembangunan desa adalah melakukan usaha perluasan kesempatan kerja dengan melakukan penguatan usaha kecil pemberian kredit sebagai modal untuk pengembangan usaha khususnya di bidang perdagangan.Sebenarnya, tidak dipungkiri juga bahwa industri manufaktur modern juga mulai menunjukkan pengaruhnya, ada pergeseran pola pikir dan kenyataan yang tak bisa dihindari masyarakat bahwa pabrik beroperasi di sekitar mereka, ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka untuk mempertahankan nilai-nilai dan tradisi lama agar tetap memberikan manfaat atau mengikuti arus industry modern yang pelan-pelan menggerogoti warisan budaya mereka.

VI.    KESENIAN

Beberapa kesenian yang masih dilakukan serta dilestarikan oleh masyarakat di Mojokerto :

1)    Seni Bantengan.

Kesenian rakyat Bantengan berasal dari Kecamatan Pacet tepatnya di desa Made yang dahulunya merupakan desa yang berdekatan dengan lereng Gunung Welirang. Konon kawasan hutan tersebut banyak hidup bermacam-macam hewan liar termasuk diantaranya Banteng yang saat ini sudah punah. Pada saat itu, seorang penduduk desa Made yang bernama Paimin tengah memasuki hutan dan mendapatkan seonggok kerangka Banteng yang masih lengkap. Kerangka Banteng itu dengan susah payah dibawah pulang dan dibersihkan kemudian ditempatkan di salah satu tempat rumahnya.Dari kejadian itu Paimin mendapat inspirasi untuk mengenang satwa Banteng dengan sebuah atraksi Atraksi itu dimainkan dua orang, 1 orang didepan memainkan kepala dan sekaligus sebagai kaki depan dan 1orang dibelakang sebagai pinggul sekaligus sebagai kaki belakang. Antraksi gerakannya menggambarkan, gerakan – gerakan dan sikap banteng sewaktu sedang berkelahi. Untuk menyemarakkan atraksi itu dilengkapi dengan musik terbang dan jidor. Dalam atraksi ditampilkan banteng sedang berlaga dengan satwa lain seperti harimau, kera dan burung bahkan mulai dikembangkan dengan kesenian pencak silat dan barongsai.

2)    Pakaian Adat Pengantin Mojoputri

Tata rias Pengantin Mojoputri sekar kedaton diangkat dari hasil penelitian sejarah. Busana Pengantin Mojoputri merupakan hasil akulturasi budaya yang berkembang sejak abad 13 hingga kini. Ciri yang mencolok, tata rias ini mengikuti corak dandanan jaman Mojopahit, jaman kebesaran Islam Demak, Mataram dan jaman penjajahan Belanda.

3)    Upacara Adat Temu Manten Mayang Kubro

Upacara adat ini diangkat dari perpaduan antara nilai tradisi Jawa atau Mojopahit dengan nilai Islami. Kata Mayang diambil dari kebesaran nama Raden Wijaya pada saat penobatan menjadi raja Mojopahit menggunakan mahkota dengan nama mayang mekar. Kubro bermakna agung, biasa dikaitkan dengan kegiatan ritual yang bernuansa Islam. Upacara adat Mayang Kubro di Kabupaten Mojokerto ini telah berhasil menjadi penyaji terbaik pada festival upacara adat se Jatim di Surabaya.

4)    Ujung
Kesenian Ujung tumbuh menjadi kesenian rakyat sebagai visualisasi perjuangan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, pada saat mengalahkan bala tentara Tartar. Dalam atraksi kesenian ujung, dua orang petarung atau lebih melakukan aksi saling cambuk satu sama lain menggunakan rotan. Pertarungan dilakukan secara sportif dan dalam suasana bersahabat meski terkadang sampai bercucuran darah. Rotan adalah simbol senjata “Sodo Lanang” yang digunakan Raden Wijaya dalam pertempuran melawan bala tentara Tar-tar.

Pertunjukan seni ujung sendiri biasa digelar saat ada hajatan baik ruwat desa, acara pernikahan maupun khitanan.Selain itu, seni ujung konon juga dipercayai bisa mendatangkan hujan saat kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan hingga sulitnya mendapatkan air bersih lantaran sumber mata air sudah tak berfungsi lagi.

5)    Grebeg Suro Majapahit

Tradisi tahunan yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Suro kalender Saka. Tradisi ini di pelopori oleh Yayasan Among Tani. Rangkaian kegiatannya antara lain : Ziarah ke makam leluhur dan pahlawan, pentas kesenian dan makanan rakyat, grebeg suro (arak-arakan dengan kostum era kejayaan Majapahit dan ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Tradisi Grebeg Suro secara keseluruhan dimaksudkan sebagai bagian dari ruwat agung  bagi bumi nusantara. Selama proses Ruwatan, warga dilarang kemana-mana  dimana maksud dari ruwatan untuk mendapatkan kesejahteraan desa. Diiringi musik gamelan yang mengiringi kedatangan rombongan pembawa tumpeng dengan pakaian khas yang beriringan , ada beberapa kelompok yang ikut serta dalam barisan panjang. Setiap kelompok memiliki tema sendiri untuk kostum yang mereka kenakan mewakili dari berbagai kalangan baik dari petani, nelayan, pamong desa sertta para pelajar.Tampilan para pengikut acara dimulai dari tampilan gadis berpakaian petani yang menyimbolkan kesuburan dan kemakmuran. Kemudian  ada pula rombongan delapan pemuda yang membawa liong-liong atau naga yang biasa digunakan sebagai tradisi etnis Tionghoa sebagai lambang keagaan yang berpartisipasi.

VII.    SISTEM MASYARAKAT DI DAERAH VIHARA MOJOKERTO

Dalam kegiatan bermasyarakat atau berinteraksi kuhsusnya di daerah vihara budha yang ada di kota Mojokerto Trowulan umumnya sama dengan kegiatan masyarakat lainnya di luar kota tersebut. Agama Budha termasuk agama minoritas yang ada di daerah tersebut kebanyakan ditempati orang-orang islam, namun hebatnya masyakarat disana sangat menghormati dengan adanya vihara budha atau tempat beribadah tersebut. dalam system masyarakat atau kegiatan sosial yang dilakukan oleh pihak Vihara, banyak sekali kegiatan sosial yang diselenggarakan disana dan kegiatan tersebut sangat menguntungkan bagi pihak masyarakat disekitar tersebut, mungkin kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa terima kasih terhadap masyarakat mayoritas dengan menerima Vihara sebagai tempat beribadah orang-orang budha. Contoh dari kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak Vihara yaitu Bakti Sosial yand di dalamnya terdapat pengobatan gratis yang ditujukan khususnya kepada masyarakat di sekitar vihara jadi masyarakat bisa mendapat semua itu dengan gratis dan juga sekaligus dapat mendonorkan darahnya kepada pihak vihara yang akan disalurkan kepada pihak rumah sakit dan sebagainnya terus ada juga kegiatan yang yang lain seperti gotong royong dan lain sebagainya tidak jauh beda dengan daerah yang lain, namun ada pula kegiatan dari luar organisasi masyarakat seperti kegiatan yang dilakukan SMK Sanwis Surabaya, Bali, dan dari Surabaya sunan ampel banyak sekali kegiatan yang melibatkan vihara budha ini. Vihara budha mojokerto memang agama minoritas namun tempat ini sudah dikenal keberbagai penjuru nusantara ini artinya banyak pengunjung yang sudah pernah mengunjungi tempat ini menurut saryono yaitu yang mengurus tempat vihara terbilang 10.000 ribu orang yang sudah tercatat dan bahkan lebih dari itu.  Adapun sejarah dan kebudayan masyarakat mojokerto yaitu dari bermulanya kerajaan mojopahit.

Dengan melihat sinyal pada pasal-pasal dua Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Mojokerto Nomor 22/Tap/Kdh/1973 tanggal 12 September 1973, bahwa Ketetapan tentang hari jadi tersebut bersifat sementara, maka pada masa kepemimpinan Bupati Mojokerto H. Mahmoed Zain, SH, M Si sejak awal menjabat, mulai mengadakan pendekatan, mengingat hari jadi Kabupaten Mojokerto yang telah ditetapkan pada Mojokerto yang mempunyai akar sejarah berkaitan erat dengan kebesaran Kerajaan Mojopahit. Maka mulailah dilakukan berbagai upaya untuk menelusuri hari jadi Mojokerto yang lebih berakar kepada perjuangan para pendahulu bangsa ketika pada saat kejayaannya, untuk dijadikan semangat dalam membangun dan mengabdi kepada Negara dan Bangsa saat ini serta dapat memberikan gambaran untuk mampu memberikan loncatan prestasi dimasa mendatang dengan menggali potensi.
Upaya pendekatan tersebut antara lain :

1.    Pada tanggal 20 Agustus 1991 dilaksanakan “Seminar Sehari” dengan thema “Kabupaten Mojokerto Menyongsong Hari Esok.
2.    Pada tanggal 8 September 1992, dilaksanakan simposium Menyongsongg Tujuh Abad Mojopahit, yang dihadiri oleh Bapak Sekjen Depdagri, Gubernur Kepala Daerah tingkat I Jawa Timur, Javanologi Surabaya, Pakar-pakar sejarah baik yang datangnya dari Kabupaten Mojokerto sendiri maupun dari luar daerah.

3.    Disamping itu, berbagai pihak telah memberikan sumbang saran seperti dari kalangan Cerdik Cendikiawan, dari perguruan tinggi dari instansi baik yang datangnya dari Kabupaten Mojokerto sendiri maupun dari luar daerah.

4.    Pembentukan Tim Penulisan Sejarah dengan Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Mojokerto Nomor 438 Tahun 1992 tentang Pembentukan Tim Penulisan Sejarah Mojokerto.
Dengan memperhatikan rentetan peristiwa yang terjadi maka dapat ditetapkan 8(delapan) alternatif untuk dipertimbangkan sebagai Hari Jadi Mojokerto yaitu :

1. Pertemuan antara Perdana Menteri Mojopahit, Shi - nan - da - cha - ya dengan shih-pi, Panglima tertinggi pasukan Tar-Tar, dapat dipandang sebagai wujud pengakuan diplomatik atas Negara berdaulat dalam rangka kerjasama Internasional untuk menyerang Doho. Hal ini akan mengacu pada tanggal 1 bulan ke 3 Tarikh Cina atau tanggal 8 April 1293.

2. Pada saat Raden Wijaya mulai mengatur strategi untuk melawan pasukan Tar-tar, saat ia memperoleh ijin dari kota Kediri ke Mojopahit pada tanggal 2 bulan ke 4 Tarikh Cina. Titik waktu ini merupakan titik awal kemenangan diplomatik dan militer dipihak Raden Wijaya, karena mulai saat tersebut secara bertahab ia berhasil mengalahkan pasukan Tar-Tar. Dalam Tarikh Masehi peristiwa tersebut adalah tanggal 9 Mei 1293.

3. Titik waktu tentara Mojopahit memperoleh kemenangan total terhadap pasukan Tar-tar. ini berarti mengacu pada keputusan pimpinan pasukan Tar-tar untuk meninggalkan Pat-shieh, pada tanggal 24 bulan 4 Tarikh Cina atau tanggal 31 Mei 1293. Titik waktu ini ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Surabaya.

4. Titik waktu penobatan Raden Wijaya sebagaimana diceritakan pada Kitab Harsa Wijaya atau Titik waktu penerbitan Prasasti     Gunung Botak

5.  Dari Khasanah Kidung, juga menunjukkan titk waktu peristiwa penting dalam sejarah Mojopahit.

6. Dari khasanah prasasti juga ditemukan titk waktu peristiwa yang erat kaitannya dengan sejarah 
Mopahit. Kidung Harsa Wijaya menyebutkan bahwa Penobatan Raden Wijaya sebagai Raja Terjadi pada tanggal 12 Nopember 1293 (1215 C). Titik waktu ini dikemudian dikenal sebagai Hari Mojopahit. Prasasti Gunung Botak yang diterbitkan pada tanggal 11 September 1294 memberitakan secara panjang lebar riwayat Rajakuta Mojopahit.

7.    Perjanjian Gianti yang tangani pada tanggal 13 Pebruari 1755.

8.    Saat ditanda tangani penyerahan Kabupaten Japan pada tanggal 1 Agustus 1812 oleh Kesultanan Jogyakarta kepada Perintah Inggris di Jawa.
Selanjutnya setelah melalui proses pembahasan didalam sidang-sidang Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Mojokerto, mengenai Hari Jadi Kabupaten Mojokerto telah disepakati bahwa Hari Jadi Kabupaten Mojokerto adalah tanggal 9 Mei 1293 Masehi, dengan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Nomor : 09 Tahun 1993 tanggal 8 Mei 1993, tentang persetujuan Penetapan Hari Jadi Kabupaten Mojokerto, maka Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Mojokerto saat itu H. Mahmoed Zain, SH mengeluarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Mojokerto Nomor : 230 Tahun 1993 tanggal 8 Mei 1993 tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten Mojokerto.
Dari uraian-uraian tersebut diatas disimpulkan bahwa :
Dengan tidak diberlakukannya Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Mojokerto tanggal 12 September 1973 Nomor : 22/TAP/Kdh/1973 tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten Mojokerto, maka Hari jadi Mojokerto adalah tanggal 09 Mei 1293 Masehi yang selanjutnya ditetapkan sebagai Hari jadi Kabupaten Mojokerto.

Komunuikasi Lintas Budaya : Sistem Budaya Masyarakat Gunung Kelud

Komunuikasi Lintas Budaya : Sistem Budaya Masyarakat Gunung Kelud
1.    Bahasa yang Digunakan Masyarakat Kawasan Gunung Kelud
 
Dalam kehidupan bermamsyarakat, sebuah bahasa merupakan salah satu cara untuk melakukan komunikasi antar individu satu dengan individu lainnya dengan menggunakan bahasa yang sudah disepakati bersama baik itu bahasa verbal maupun non verbal. Bahasa verbal itu sendiri adalah bahasa yang disampaikan secara lisan oleh komunikator dengan komunikan dan berharap mendapatkan respon dari komunikan tersebut. Sedangkan bahasa non verbal ialah bahasa yang pengungkapannya tidak dilakukan secara lisan, namun berupa simbol atau tanda yang sudah disepakati bersama.
 
Saussure mengajarkan bahwa tanda, termasuk juga bahasa dan dapat berubah-ubah. Ia mencatat bahwa bahasa yang berbeda menggunakan kata kata yang berbeda untuk hal yang sama dan biasanya ada hubungan secara fisik antara sebuah kata dan acuannya. Oleh karena itu, tanda adalah kaidah yang ditata oleh aturan (Littlejhon, 2009:156). Teori mengenai tanda dikembangkan lagi oleh Saussur, dia berpendapat bahwa bahasa adalah fenomena budaya, dan menghasilkan makna dalam cara yang khusus. Bahasa menghasilkan makna melalui sistem hubungan dengan menciptakan jaringan persamaan dan perbedaan (Ziauddin, 2005:11).
 
Dari hasil penelitian yang dilakukan di masyarakat sekitar kaki Gunung Kelud, tepatnya di Desa Sugih Waras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri pada hari Sabtu tanggal 1 April 2017. Masayarakat desa tersebut masih menggunakan bahasa jawa yaitu bahasa Ngukuh, dimana bahasa tersebut merupakan campuran dari bahasa ngoko halus dan bahasa jawa kasar. “Bahasa Ngukuh itu mas bahasa sehari hari orang-orang disini, yo kasar ndak kasar nemen halus yo ndak halus nemen” kata Ratno (23) salah satu remaja yang menjadi penggerak radio Kelud FM.
 
Menurut  Pak Sukemi (42), selaku kepala desa di Desa Sugih Waras tersebut merupakan bahasa turunan dari sesepuh mereka dan tetap dipertahankan sampai saat ini. Bahkan setelah dibangunnya wisata Gunung Kelud, tidak ada perubahan yang signifikan pada bahasa kesehariannya dimana budaya luar yang dibawa oleh pengunjung Gunung Kelud masih bisa di filter oleh masyarakat setempat. “Untungnya setalah dibangunnya wisata Gunung Kelud, tidak ada pergeseran budaya yang cukup signifikan dari masyarakat disini” Jelas Pak Sukemi.
 
Selain bahas verbal, hasil dari penelitian kami ada juga bahasa non verbal yang cukup banyak dan mudah dipahami oleh masyarakat sekitar maupun pendatang. Ketika memasuki kawasan wisata Gunung Kelud, para pendatang pasti melihat banyak sekali pedagang buah nanas di pinggir jalan yang menuju ke Gunung Kelud, bahkan ada sebuah tulisan yang mangatakan “Pengunjung Bisa Petik Sendiri Nanas Madu, 10 ribu/kilo”. Hal tersebut sudah bisa menandakan bahwa hasil bumi dari masyarakat gunung kelud adalah buah nanas, sedangkan mayoritas mata pencahariannya adalah petani dan pedagang. 
 
Menurut langer, tanda (sign) adalah sebuah stimulus yang menandakan kehadiran dari suatu hal. Seperti halnya awan dapat menjadi tanda untuk hujan, warna merah sebagai tanda peringatan, hubungan sederhana ini disebut pemaknaan (signification). Sebaliknya, simbol digunakan dengan cara lebih kompleks dengan membuat seseorang untuk berpikir tentang sesuatu yang terpisah dari kehadirannya. Simbol adalah sebuah konseptualisasi manusia tentang satu hal. (Littlejhon, 2009:154)
Saat pengunjung mulai memasuki kawasan gunung kelud, di pinggir-pinggir jalan pasti melihat banyak simbol yang menggambarkan situasi daerah tersbut. Mulai dari simbol tebing curam, belokan tajam, dan simbol untuk berhati-hati ketika berada di kawasan Gunung Kelud. Simbol tersebut dibuat oleh pemerintah setempat untuk memberikan peringatan kepada masyarakat gunung kelud maupun para pengunjung agar lebih waspada ketika berkendara disana. Selain simbol tersebut, ada juga simbol yang menandakan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan tidak membuat kegaduhan di kawasan Gunung kelud, agar masyarakat dan para pengunjung tida mencemari lingkungan dan tetap menjaga ketentraman di Gunung Kelud.
 
2.    Sistem Mata Pencaharian Masyarakat Kawasan Gunung Kelud (Kediri)
    
Menurut Philipsen (dalam Griffin, 2003) mendeskripsikan budaya sebagai suatu konstruksi sosial dan pola simbol, makna-makna, pendapat dan aturan-aturan yang dipancarkan secara mensejarah. Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar, berpikir, merasa, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Budaya menampakkan diri dalam pola-pola bahasa dan dalam bentuk kebiasan maupun kegiatan yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan adaptasi diri yang memainkan peran penting dalam kehidupan manusia. Dalam  Lintas Budaya menurut Koentjaraningrat terdapat 7 unsur budaya yakni: bahasa, sistem pengetahuan, sistem masyarakat, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. Salah satunya adalah sistem mata pencaharian, dimana yang dimaksud disini adalah suatu usaha atau kerja ekonomi yang bertujuan untuk memperoleh kebutuhan hidup sehari-hari atau untuk memperoleh bahan kehidupan untuk jangka waktu tertentu. Banyak jenis ragam mata pencaharian yang ditekuni oleh masyarakat. Setiap daerahpun memiliki sumber mata pencaharian yang berbeda-beda tergantung dari iklim, keadaan geografis, tingkat pendidikan dan juga tingkat kebutuhan masyarakat itu sendiri. Mata pencaharian pada masyarakat pedesaan masih sangat tradisional, berbeda dengan mata pencaharian di kota yang sangat kompleks di segala bidang. Koentjaraningrat secara tradisonal mengklasifikasikan mata pencaharian masyarakat desa terdiri dari; (a) berburu dan meramu, (b) beternak, (c) bercocok tanam di ladang, (d) menangkap ikan dan bercocok tanam menetap dengan irigasi (Koentjaraningrat, 2002: 358).
 
Dalam study kasus ini masyarakat sekitar Gunung Kelud lah yang menjadi objek, tepatnya di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Dari hasil penelitian yang dilakukan dilapangan masyarakat sekitar kawasan Gunung Kelud mayoritas bekerja sebagai petani dan pedagang. Tak heran jika sepanjang jalan menuju Gunung Kelud banyak terhampar sawah hijau.  Hampir 80% warga bekerja sebagai petani, yag ditanam pun beragam, mulai dari nanas, cengkeh, tebu hingga sayuran. Dan 5% lagi warga bekerja sebagai pegawai di kantor kelurahan maupun kecamatan di desa tersebut. Tak hanya itu, ada pula warga yang bekerja sebagai pedagang, namun perkerjaan tersebut sebagai sampingan atau untuk menjual hasil panen mereka. Sebagian lagi ada yang bekerja sebagai peternak kambing dan sapi perah. Kendati demikian, tetap saja yang mata pencaharian yang paling dominan adalah petani, karena faktor lingkungan yang cukup mempuni.
 
Menurut Dr. P.J Bouman dan Bertha (1982: 26) desa adalah salah satu bentuk kuno dari kehidupan bersama sebanyak beberapa ribu orang, hampir semuanya saling mengenal, kebanyakan yang termasuk di dalamnya hidup dari pertanian, perikanan dan sebagainya, usaha-usaha yang dapat dipengaruhi oleh hukum dan kehendak alam. Kehidupan dengan mengerjakan sawah ataupun ladang orang dapat membuat mereka memungut hasil dari tempat dimana mereka tinggal.  Kondisi tersebut tak lepas dari keadaan geografis. Udara yang sejuk, subur nya tanah dan luas serta longgarnya daerah yang dapat dipekerjakan juga sebagai faktor banyaknya masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani.
 
Desa yang merupakan suatu wilayah yang pada umumnya memiliki potensi alam yang sangat tinggi. Masyarakat sekitar Gunung Kelud tak hanya menanam padi tetapi juga menanam nanas dan tebu. Nanas yang ditanam pun bukan nanas lokal, melainkan nanas madu yang rasanya cukup manis dan nikmat. Nanas di daerah tesebut menjadi hasil bumi yang dapat tumbuh dengan subur, disepanjang jalan menuju daerah wisata Gunung Kelud pun banyak pedagang yang menjajakan buah nanas. Nanas madu tersebut menjadi ciri khas daerah tersebut karena hanya dapat ditemukan di daerah sekitar kawasan Gunung Kelud. Nanas tak hanya dapat dikonsumsi langsung tetapi juga dapat diolah menjadi olahan lain seperti selai dan keripik nanas. Biasanya para kaum wanita lah yang mengolah nanas menjadi berbagai inovasi makanan yang dapat menarik minat pengunjung.
 
Tidak hanya sebagai makanan, Nanas disini juga dijadikan sebagai sesajen saat berlangsungnya ritual “Larung Sesaji”, yakni ritual rutin tahunan yang diadakan di kawah Gunung Kelud. Tak kehabisan akal, penduduk sekitar pun juga memanfaatkan lahan mereka yang ditanami nanas sebagai mata pencaharian lain, dengan bekerjasama dengan pihak pariwisata pengelola wisata Gunung Kelud. Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat, sehingga membawa dampak terhadap masyarakat setempat. Pariwisata mempunyai energi dobrak yang luar biasa, yang mampu membuat masyarakat setempat mengalami metamorphose dalam berbagai aspeknya ( I Gede Pitana dan Putu G. Gayantri, 2005: 109). Terdapat beberapa pedagang yang membuka lapak “Petik Nanas Sendiri”. Mereka bekerja sama dengan biro wisata off road di kawasan Gunung Kelud. Sehingga bagi pengunjung yang menyewa mobil off road maka otomatis akan diantarkan ke kebun nanas untuk dapat memetik nanas sendiri. Harganya pun ccukup terjangkau yaitu Rp. 10.000/kg. Dari kegiatan bertani, berdagang dan beternak tersebut mereka mengaku cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Bahkan mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka hingga bangku kuliah.
 
3.    Sistem Religi Masyarakat Kawasan Gunung Kelud (Kediri)
 
Religi berasal dari kata latin yaitu Relegere yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Menurut itu juga sejalan dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara mengabdi pada Tuhan yang terkumpul dalam kitab suci yang harus di baca.
Menurut Mangun wijaya (dalam Burhan Nurgiyanto, 2010: 326-327) bahwa bahwa perbedaan agama dengan regiliustas agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian pada Tuhan dengan hukum – hukum yang resmi sedangkan religiutas bersifat mengatasi lebih dalam dan lebih menonjolkan eksistensinya sebaga manusia.
 
Menurut Ratno (23) penyiar Radio Kelud FM tepat nya di desa Sugi waras kec. Ngancar, Kediri. Bahwa di desa tersebut lebih di dominasi oleh agama Islam dan kristen akan tetapi lebih sekitar 80% lebih banyak islam dari pada kristen. Walau banyak yang menganut agama Islam didesa ini masih masih menganut kepercayaan nenek moyang. Di desa ini masih melestarikan kepercayaan nenek moyang yaitu dengan melakukan ritual setiap tahunnya pada setiap bulan Suro ( Muaharram dalam Islam ). Menurut  Ratno bahwaa ritual tersebut dinamakan Larung sesaji dengan persiapan yaitu membawa buceng/ keduren ( tumpeng ). Ritual tersebut dilakukan oleh seluruh masyarakat se kecamatan Ngancar yang berlangsung malam dan siang hari. Hal tersebut dialkaukan agar ketika gunung Kelud maletus tidak terlalu banyak dampaknya terhadap masyarakat.
 
Menurut Sidi Gazalba bahwa religi adalah kecenderungan rohani manusia, yang berhubugan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna dalam sesuatu yang yang terakhir, hakikat dari semuanya itu. Manusia mmengakui adanya dan bergantung mutlak pada yang kudus, yang dihayati sebagai tenaga di atas manusia dan di luar kontrolnya, untuk mendapatkan pertolongan daripadanya, manusia dengan cara bersama-sama menjalankan ajaran, upacara, dan tindakan dalam usahanya.
 
Dari teori diatas sama seperti yang di lakukan oleh masyarakat di desa Sugi waras kecamatan Ngancar yang melakukan ritual agar tehindar dari hal-hal yang tidak inginkan oleh masyarakat yang ada di sana. Mereka melakukan ritual tiap tahun pada bulan suro.
Menurut pak Sukemi seorang kepala desa sugi waras  yang menjabat mulai 2013 (42) tahun. Mengatakan bahwa ritual Larung sesaji ini dilakukan karena masyarakat beranggapan u yang tinggal di sekitar lereng gunung Kelud tersebut.
 
Suatu sistem religi dalam suatu kebudayaan selalu mempunyai ciri-ciri untuk sedapat mungkin memelihara emosi keagamaan itu di antara pengikut-pengikutnya. Emosi keagamaan merupakan unsur penting dalam suatu religi bersama tiga unsur penting dalam suatu religi bersama dengan tiga unsur yang lainnya. A. Sistem keyakinan. B. sistem upacara. C. Suatu umat yang menganut religi itu.
Di desa Sugih waras melakukan tiga unsur tersebut masyarakat meyakini bahwa jika melakukan ritual ini mereka akan mendapatkan keselamatan apabila terjadi gunung meletus. Ritual ini di lakukan setiap tahun yang tanggalnya ditentukan oleh sesepuh/ juru kunci gunung Kelud yang diketui oleh mbah Ronggo. Ritual ini menjadi daya tarik pariwisata, saat ada ritual di Kelud jumalh pengungjung bertambah banyak. Ritual ini  menggunakan baju hitam yang dilakukan seluruh masyarakat baik muda ataupun tua. sebelum ritual di buka masih ada persembahan tari-tarian. Ritual ini berdasarkan tanggal yang telah di tentukan oleh sesepuh/ atau juru kunci gunung Kelud. Kemudian, memberitahu kepada kebuapaten dari kabupaten memberi instruksi kepada masyarakat agar mempersiapkan unruk ritual tersebut. biasanya tempat titik kumpul di balai desa. Sehari sebelum ritual dilakukan mereka melakukan penyadranan kemudian melakukan punden (tempat keramat)  kemudian pada malam harinya mereka melaksanakan kulonuwon ke gunung Kelud hingga paginya merupakan merupakan acara intinya.
 
4.    Sistem Organisasi Sosial Masyarakat Kawasan Gunung Kelud (Kediri)
   
 Herskovits dalam Harsojo (1967), mengatakan bahwa organisasi sosial itu meliputi lembaga-lembaga yang menetapkan posisi dari laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat, dan karenanya melahirkan relasi antar masyarakat.
Ahli antropologi lain yaitu W.H.R. Rivers, dalam Harsojo (1967) melihat organisasi sosial sebagai proses yang menyebabkan individu disosialisasikan dalam kelompok. Ia berpendapat, bahwa dia dapat juga mengganti studi mengenai organisasi sosial menjadi studi tentang social groupings, dan bagian-bagian dari fungsi sosial yang mengiringi pengelompokan itu. Ia mengatakan bahwa ruang lingkup penyelidikan mengenai organisasi sosial meliputi struktur dan fungsi dari pada kelompok. Adapun fungsi tersebut dapat dibagi dalamduabagian:
     a. fungsi yang berhubungan antara kelompok dengan kelompok dan
     b. fungsi yang bermacam-macam dari pada kelompok sosial itu adalah
          pranata- pranata sosial.
    
Raymond firth, dalam Harsojo (1967) mengemukakan arti yang khusus bagi konsep organisasi sosial. Dalam bukunya “elements of social organization”, ia mengemukakan bahwa Antropologi sosial menyelidiki “human social process comparatively”. Dengan proses sosial disini dimaksudkan operasi dari kehidupan sosial, cara bagaimana aksi dan existensi dari pada manusia hidup itu mempengaruhi manusia lain yang hidup dalam suau relasi tertentu.
    
Organisasi adalah institusi masyarakat yang dominan di dalam kehidupan manusia. Seseorang mungkin dilahirkan di rumah sakit, dididik di sekolah formal, mencari nafkah dengan bekerja di suatu perusahaan, mengadakan kegiatan sosial dengan aktif di organisasi kemasyarakatan, mengikuti perkumpulan yang menyalurkan hobi tertentu, mengikuti salah satu partai politik, dan pada saat meninggal kematiannya diatur oleh organisasi tertentu. Organisasi telah meliputi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Setiap hari seseorang hampir selalu berhubungan dengan berbagai organisasi dan sebagian besar waktunya dihabiskan dalam aktivitas organisasi. Hanya masyarakat primitif dan terasing saja yang tidak mempunyai organisasi (Ibrahim, 2003:63).
 
Menurut Ratno (23) penyiar Radio Kelud FM tepatnya di Desa Sugi Waras  Kec. Ngancar, Kediri. Bahwa di desa tersebut ada organisasi sosial seperti Karang Taruna yang penggeraknya adalah para pemuda di desa tersebut yang masih aktif sampai sekarang. Ada juga kegiatan yang diadakan oleh organisasi tersebut seperti acara agustusan. “Pokoknya acara-acara didesa itu Karang Taruna yang melaksanakan. Ada juga Organisasi Sosial atau juga bisa disebut komunitas “Radio Kelud FM” yang juga dipelopori oleh para pemuda Desa Sugi Waras. “Sekumpulan remaja yang ingin bersiaran, selain bersiaran juga menyiarkan tentang bencana aja”. Ujar Ratno. “Menurut Stephen Robbins (dalam Sobirin, 2007:5) organisasi adalah unit sosial yang sengaja didirikan untuk jangka waktu yang relatif lama, beranggotakan dua orang atau lebih yang bekerja bersama-sama dan terkoordinasi, mempunyai pola kerja tertentu yang terstruktur, dan didirikan untuk mencapai tujuan bersama atau satu set tujuan yang telah  ditentukan sebelumnya. Organisasi sosial dapat diartikan sebagai perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa  dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri. Organisasi sosial merupakan tata cara yg telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia dalam sebuah wadah yangdisebut dengan Asosiasi. Asosiasi memiliki seperangkat aturan, tata tertib, anggota dan tujuan yang jelas, sehingga berwujud kongkrit.
   
 Menurut Pak Sukemi (42), seorang Kepala Desa di Desa Sugiwaras mengatakan bahwa didesa tersebut juga ada organisasi yang diberi nama Jamaah Rutinan, yang kegiatannya mengadakan pengajian. Organisasi ini dibagi menjadi empat bagian yaitu laki-laki dewasa (bapak-bapak), remaja putra, perempuan dewasa (ibu-ibu), dan remaja putri. JBAF Maijor Polak (1985:254) mengemukakan bahwa organisasi sosial dalam arti sebagai sebuah asosiasi adalah sekelompok manusia yang mempunyai tujuan tertentu, kepentingan tertentu, menyelenggarakan kegemaran tertentu atau minat-minat tertentu.
5.    Sistem kesenian Masyarakat Kawasan Gunung Kelud (Kediri)
 
Perhatian terhadap kesenian atau segala ekspresi hasrat manusia akan keindahan, dalam kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa mula-mula bersifat deskriptif. Para pengarang etnogarfi masa akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 dalam karangan-karangan ereka seringkali memuat suatu deskriptif mengenai benda-benda hasil seni, seni rupa, terutama seni patung, seni ukir , atau seni hias, pada benda alat sehari-hari. Deskriptif –deskriptif itu terutama memperhatikan bentuk, teknik pembuatan, motif hiasan, dan gaya dari benda-benda kesenian tadi.
 
Selain benda hasil seni rupa, lapangan kesenian lain yang juga sering mendapat tempat dalam sebuah karangan etnografi adalah musik, seni tari, dan drama. Bahan mengenai seni musik setiap kali hanya terbatas pada deskripsi mengenai alat bunyi-bunyian bahkan mengenai seni tari  biasanya hanya menguraikan jalannya suatu tarian, tetapi jarang suatu keterangan koreografi  tentang gerak-gerak tarinya sendiri, sedangka bahkan seni drama sering juga terbatas hanya pada uraian mengenai dongengnya saja, atau karena seni drama pada banyak suku bangsa di dunia ada hubungannya dengan religi maka seni drama sering juga dibicarakan dengan upacra-upacara keagamaan.
 
Dipandang dari sudut cara kesenian sebagai ekspresi hasil manusia akan keindahan itu dinikmati, maka ada dua lapangan besar yaitu: (a) seni rupa, atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan mata, dan (b) seni suara, atau kesenian yang dinikamati oleh manusia dan telinga.
Kesenian berkaitan erat dengan rasa keindahan (estetika) yang dimiliki oleh setiap manusia dan masyarakat. Rasa keindahan inilah melahirkan berbagai bentuk seni yang berbeda-beda antara kebudayaan yang satu dan kebudayaan yang lain.
 
Kesenian yang ada di desa Sugi Waras kecamatan Ngancar ini masih mempertahakan kesenian jaranan yang di mainkan tidak hanya orang tua akan tetapi para pemuda disana tetap mmepertahankan kesenian jaranan ini. Kesenian jaranan ini di tampilkan saatada acara tahunan yang ada di sana.  Jaranan ini di mainkan oleh masyarakat lokal yang ada di sana.
 
Menurut Ratno salah satu warga yang ada disana yang juga merupakan penyiar radio Kelud FM ini mengatakan bahwa. “ di daerah ini masih mempertahankan kesenian jaranan yang biasa tampil di sebuah acara tahunan yaitu adanya ritual sesaji yang di laksanakan sama seperti ritual gunung Kelud bulannya. Bahkan  kesenian ini ada organisasinya akan tetapi ratno ini mengetahui nama organisasinya.
 
Kesenian berkatan erat dengan rasa keindahan yang diilki oleh setiap manusia dan masyarakat.  Rasa keindahan inilah melahirkan berbagai bentuk seni yang berbeda-beda antara kebudayaan yang satu dan kebudayaan yang lain. Bahwa dengan adanya kesenian  Jaranan ini mempunai daya tarik tersendiri dan masih di pertahankan oleh anak muda yang ada di sana. Keindahan dari kesenian Jaranan ini, jaranan ini di hanya ada di watu tertentu yaiu saat ada ritual di gunung Kelud.
 
6.    Sistem teknologi
Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda-benda tersebut. Perhatian awal para antropolog dalam memahami kebudayaan mannusia berdasarkan unsur teknologi yang dipakai masyarakat berupa benda-benda yang dijadikan sebagai peralatan dengan membentuk dan teknologi yang masih sederhana. Dengan demikian, bahasan tentang unsur kebudayaan yang termasuk dalam peralatan hidup dan teknologi merupakan Bahasa kebudayaan fisik.
 
Penggunaan istilah “Teknologi” (Bahasa inggris: technology) telah berubah secara signifikan lebih dari 200 tahun terakhir. Sebelum abad ke 20, istlah ini tidak lazim dalam bahsa inggris, dan biasanya merujuk pada penggambaran atau pengkajian seni terapan.
 
Pada tahun 1937, seorang sosiolog amerika, Read Bain, menulis bahwa technology includes all tools, machines, utensils, weapons, instruments, housing, cloting, communicating and transporting devices and the skills by which we produce and use them (teknologi meliputi semua alat, mesin, aparat,perkakas, senjata, perumahan, pakaian, peranti pengangkut atau pemindah dan pengomunikasi dan keterampilan yang memungkinkan kita menghasilkan semua itu). Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Penggunaan teknologi oleh manusia duawali dengan pegubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sedrhana. Perkembangan teknologi terbaru, termasuk diantaranya mesin cetak, telepon, dan internet.
 
Menurut castells (2004,107) seorang ahli sosiologi mendefinisikan teknologi sebagai “kumpulan alat, aturan atau prosedur yang merupakan penerapan pengetahuan ilmiah terhadap suatu pekerjaan tertentu dalam cara memungkinkan pengulangan.
 
Dari hasil penelitian yang dilakukan di masyarakat sekitar kaki gunung kelud, tepatnya di desa sugihwaras, kecamatan ngancar, kabupaten Kediri pada hari sabtu 1 april 2017. Masyrakat di gunung kelud khususnya desa sugihwaras, dari teknologi itu sendiri sudah memadai seperti halnya mempromosikan tempat wisata dan budaya-budaya yang ada digunung kelud dengan menggunakan media sosial supaya banyak diketahui oleh masyrakat. Dan juga di gunung kelud sudah ada radio yang bernama radio kelud fm, yang berguna untuk menyampaikan sebuah informasi apabila nanti ada sebuah bencana disekitar kaki gunung kelud.
 
7.    Sistem Pendidikan atau Sistem pengetahuan Masyarakat Gunung Kelud (Kediri)
            Dalam pandangan Talcott Parsons masyarakat dan suatu organisme hidup merupakan sistem yang terbuka yang berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan lingkungannya. sistem kehidupan ini dapat dianalisis melalui dua dimensi yaitu:
          Interaksi antar bagian-bagian atau elemen-elemen yang membentuk sistem dan interaksi dan pertukaran antar sistem itu dengan lingkungannya. Talcott parsons membangun sebuah teori sistem umum Grand theory yang berisi empat unsur utama yang tercakup dalam segala sistem kehidupan yaitu: Adaptation, Goal Attainment, Integration dan latent pattern Maintenance. Salah satunya di sintem pendidikan atau sistem pengetahuan.
 
Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Adapun tujuan pendidikan secara umum adalah membawa anak kearah tingkat kedewasaan. Suatu pendidikan menyangkut tiga unsur pokok, yaitu unsur masukan, unsur proses usaha itu sendiri, dan unsur hasil usaha. Pendidikan merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan  dari kehidupan manusia. Pendidikan menduduki posisi penting dalam pembangunan suatu bangsa. Pendidikan berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang sangat menentukan nasib bangsa. Dunia pendidikan tidaklah sebatas mengetahui ilmu dan memahaminya, akan tetapi dalam dunia pendidikan sangat berhubungan dengan dunia luar yang nyata. Pendidikan terdiri dari berbagai elemen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan yang diharapkan bersama, dari hal itu dapat disebut bahwa pendidikan sebagai suatu sistem pendidikan tidak dapat dipisahkan dari lingkingannya baik fisik maupun makhluk hidup yang lain, karena pelajaran tidak hanya didapat dari pelajaran sekolah ataupu lembaga pendidikan formal, namun pendidikan juga membutuhkan pelajaran dari alam atau lingkungan sekitar.
 
Sitem berasal dari bahasa yunani systema, yang berarti sehimpunan bagan atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan. Istilah sistem adalah suatu konsep yang abstrak. Definisi tradisional menyatakan bahwa sistem adalah seperangkat komponen atau unsur unsur yang saling berkaitan saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Dan dalam lintas budaya menurut Koentjaraningrat terdapat 7 unsur budaya yakni: Bahasa, Sistem pengetahuan, Sistem masyarakat, Sistem teknologi, Sistem mata pencaharian, Sistem religi, dan kesenian. salah satunya sistem pendidikan dimana yang telah dijelaskan di atas. Menurut Ratno (23) salah satu warga di desa sugih waras, kecamatan ngancar, kabupaten kediri. Dari hasil penelitian yang dilakukan di lapangan sekitar kawasan gunung kelud mayoritas sistem pendidikan atau sistem pengetahuan hampir 80% masyarakatnya sudah lebih mengejar pendidikan S1 nya,rata-rata pendidikan S1 berada di wilayah kota kediri dan sedangkan di daerah pedesaan itu terdapat di desa wates. Di desa sugih waras sendiri terdapat 3 SD, 4 SMP, 4 SMA dan tingkat perguruan tinggi ada di daerah kotanya. Dan di desa ini juga ada kebudayaan yang sangat unik dan juga dilestarikan, nama kebudayaan tersebut ialah larung sesaji, Namum setelah tidak adanya kawah gunung sesaji ritula tersebut berubah menjadi ritual sesaji yang di adakan setiap tanggal suro atau bulan suro.(koenjaraningrat,2002,358).


Daftar Pustaka
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Littlejhon, Stephen W. 2012. Teori Komunikasi Theories of Human Communication Edisi 9. Jakarta : Salemba Humanika.
Sardar, Ziauddin. Loon, Borin Van. 2005. Seri Mengenal dan Memahami Cultural Studies. Batam: Scientific Press

Komunikasi Lintas Budaya : Masyarakat Pasir di Kabupaten Sumenep

Komunikasi Lintas Budaya : Masyarakat Pasir di Kabupaten Sumenep

1.    BAHASA

Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. Dalam hal ini maka Ernts Cassirer menyebut manusia sebagai animal symbolicum, makhluk yang mempergunakan simbol, yang secara generik mempunyai cakupan yang lebih luas dari pada Homo Sapiens yakni makhluk yang berfikir, sebab dalam kegiatan berpikirnya manusia mempergunakan simbol. Tanpa mempunyai kemampuan berbahasa ini maka kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak mungkin dapat dilakukan. Lebih lanjut lagi, tanpa kemampuan berbahasa ini maka manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaan nya, sebab meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi yang satu kepada generasi selanjutnya. “Tanpa bahasa” simpul Aldous Huxley, “manusia tak berbeda dengan anjing dan monyet”.
Salah satu contoh yang ada adalah Bahasa Daerah Madura yang mana meski madura hanya ada satu pulau tetapi keberagaman bahasa madura sangat lah banyak dan unik, seperti halnya dari cara penyampaiannya dan juga kata-katanya. Untuk bahasa yang terdapat pada masyarakat Legung Timur, Barat, dan Depende Sumenep sendiri yang sesuai dengan observasi kami, disini terdapat suatu fakta yang unik dimana masyarakat sumenep dalam tata  cara penyampaian nya lebih halus dan pelan berbeda dengan masyarakat madura yang berada di kabupaten bangkalan yg identik dengan penyampaian nya yang  lantang sehingga terkesan kasar, tidak hanya itu dalam bahasa yang ada pun sangatlah berbeda meskipun tidak banyak salah satunya adalah “Lok oning” dan “Tak oning” disini “lok” dan “tak” mempunyai makna yang sama yakni tidak, dan untuk bahsa yang pengucapannya sama dan maknanya beda tidak terdapat dalam bahasa madura, dan juga bahasa nonverbal mereka juga mempunyai makna yang sama.
Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak dimana obyek-obyek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai sesuatu obyek tertentu meskipun obyek terebut secara faktual tidak berada ditempat dimana kegiatan berpikir itu dilakukan. Binatang mampu berkomuniksi dengan binatang lainnya namun hal ini terbatas selama obyek yang dikomunikasikan itu berada secara faktual waktu proses komunikasi itu dilakukan. Tanpa kehadiran obyek secara faktual maka komunikasi tidak bisa dilaksanakan.
Kalau kita telaah lebih lanjut, bahasa mengkomunikasikan tiga hal yakni buah pikiran, perasaan, dan sikap. Atau seperti dinyatakan oleh Kneller bahasa dalam kehidupan menusia mempunyai fungsi simbolik, emotif dan afektif. Fungsi simbolik dari bahasa menonjol dalam komunikasi ilmiah sedangkan fungsi emotif menonjol dalam komunikasi estetik. Komunikasi dengan mempergunakan bahasa akan mengandung unsur simbolik dan emotif ini. Dalam komunikasi ilmiah sebenarnya proses komunikasi itu harus terbebas dari unsur emotif ini, agar pesan yang disampaikan bisa di terima secara reproduktif, artinya identik dengan pesan yang dikirimkan. Namun dalam prakteknya hal ini sukar untuk dilaksanakan kecuali informasi yang terdapat dalam buku pedoman telepon. Inilah yang merupakan salah satu kelemahan bahasa sebagai sarana komunikasi ilmiah dimana menurut Kemeny bahasa mempunyai kecenderungan emosional

2.    SISTEM PENGETAHUAN

Seorang filsuf berpantun
“Ada orang yang tahu di tahunya
Ada orang yang tahu di tidak tahunya
Ada orang yang tidak tahu di tahunya
Ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya”
Dalam hal Ilmu Pengetahuaan, anak - anak suku Madura sudah semenjak kecil disuruh untuk mencari ilmu dan mengaji  Al-Quran, agar mereka bisa mendapatkan pembelajaran mengenai etika, bahkan di Madura bagi orang – orang yang tidak sopan dalam hidup bermasyarakat entah remaja ataupun orang tua, bisa dikatakan orang yang tidak mengenal tak battonna langgar kata - kata ini bisa di artikan orang yang tidak pernah belajar etika karena tidak pernah pergi mengaji.  Mungkin mereka kurang sopan karena belum pernah pergi ke institusi pendidikan yang di Madura di kenal dengan Langgar atau surau yang digunakan sebagai tempat belajar.
Melemahnya kwalitas pendidikan masyarakat Madura disini tidak terlepas dari pengaruh sistem pendidikan nasional yang selama ini kita kembangkan, di mana, sistem pendidikan nasioal jauh dari akar budaya dan jauh lingkungan anak didik. Pada gilirannya, anak didik sebagai generasi yang diharapkan menjadi suri tauladan didaerahnya, terasing dari lingkungan masyarakatnya sendiri. Pendidikan yang tidak berlandaskan kebudayaan akan menghasilkan generasi yang tercerabut dari kehidupan masyarakatnya sendiri. Anak didik pandai di negeri orang, tetapi bodoh di negeri sendiri.
Realitas tersebut merupakan implikasi dari perubahan sistem pendidikan kita yang hanya mengandalkan pada silabus yang mengarah pada satu sistem pendidikan dan tidak berlandaskan pada kebudayaan, dan hal itu akan menghasilkan anak didik yang mekanik seperti mesin serta manusia-manusia yang orentasi pemikirannya pada kerja, bukan pengetahuan. Dengan kata lain, sistem pendidikan kita memberi kesan bahwa kesuksesan sebuah proses pendidikan hanya terletak pada satu instrumen teknis-operasional yakni kurikulum. Lembaga pendidikan yang tidak mengacu pada kurikulum yang telah ditetapkan oleh pusat (mendiknas) maka proses pendidikan yang dijalankan akan mengalami kegagalan. Sehingga masyarakat Madura yang beragam dan agamis serta lebih mengedepankan nilai-nilai kebudayaan disulap menjadi masyarakat yang lupa pada akar budayanya. Tak jarang orang Madura yang tidak tahu bahasa Madura. Tidak sedikit putra-putri Madura yang tidak mengerti kebudayaan Madura. Bahkan ada yang merasa asing dengan tanah kelahirannya sendiri.
Dari itu, sistem pendidikan yang hanya bergantung pada satu instrumen tersebut, atau lebih tepatnya disebut dengan sistem pendidikan individual itu, tidak akan mampu mencerdaskan dan mengangkat derajat masyarakat Madura khususnya dan bangsa secara menyeluruh. Hal tersebut, yang menjadi faktor utama adalah karena sistem pendidikan yang dihasilkan selama ini hanya berangkat dari konsep segelintir orang yang cendrung meniru pola pikir dari barat bukan dari hasil pengamatan dan penelitian terhada budaya, terutama di Madura.

KONDISI PESERTA DIDIK SUMENEP DALAM MEMAHAMI BUDAYA

Selaras dengan masalah yang dialami Sumenep secara umum terkait budaya, seharusnya peserta didik harus memiliki kecerdasan yang lebih dalam memandang budaya, namun kondisi tersebut tidak tercermin dalam diri peserta didik dikabupaten Sumenep. Pemangku Kebijakan diSumenep dituntut dapat mengembangkan peserta didik sesuai tuntutan zaman global dan kondisi lingkungan lokal. Sebagaimana tuntutan tersebut terangkum dalam berbagai aspek kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional serta kecerdasan social (Ary Ginanjar Agustian, 2006). Namun penulis menillai perlu ada kriteria kecerdasan penyempurna untuk peserta didik yaitu terkait kecerdasan cultural.
Kabupaten Sumenep harus menerapkan sistem pendidikan yang memenuhi 5 konsep kecerdasan diatas. Apalagi kabupaten sumenep dipahami sebagai kabupaten yang sangat terkenal dengan kekuatan dan keragaman budayanya. Secara penerapan sistem pendidikan Sumenep selama telah memenuhi beberapa aspek kecerdasan diatas namun tidak pada segi kecerdasan cultural. Kabupaten Sumenep  dalam sektor pendidikan dinilai belum melaksanakan penerapan sistem yang mengarah terhadap perkembangan kecerdasan kultur pada peserta didiknya. Peserta didik cenderung bersifat dan bersikap kebarat-baratan, hal ini dipengaruhi oleh keterbukaan informasi yang dibingkis dengan virus westernesasi dan pada  menggerus kultur lokal pada diri peserta didik.

KONSEP CULTURE-BASED EDUCATION SYSTEM

Ketika kami melihat realitas terkait kabupaten sumenep yang mengalami degradasi kebudayaan yang berimbas terhadap peserta didik dikabupaten Sumenep, sehingga peserta didik memiliki kecendungan yang tidak menggambarkan budayanya, akhirnya hasil analisa dan penelitian kami mengahasilkan suatu konsep yang dimana dapat dilakukan pada kalangan peserta didik dengan menginovasi penerapan sistem pendidikan dikabupaten Sumenep.
Dimana jika dalam berbagai teori tentang peserta didik peserta didik dituntut untuk menguasai berbagai skill yang meliputi intelektual skill, spiritual skill, emosional skill, dan sosial skill. Kondisi peserta didik Sumenep memiliki suatu tuntutan untuk menguasai suatu skill kecerdasan kultur, yang diamana dengan adanya perpaduan beberapa skill tersebut diharapkan dapat membentuk persons peserta didik yang berotak global dan berjiwa lokal Janet (Wolff, 2007).
Maka disini kami mencoba memberikan solusi penerapan sistem yang berbasis kultur. Sehingga kultur yang telah mengalami degradasi dapat direvitalisasi kembali khususnya dikalangan peserta didik kabupaten Sumenep. Solusi yang kami tawarkan yaitu suatu gagasan yang menjadi solusi atas degradasi kultur yang dialami oleh peserta didik, gagasan tersebut berjudul “Konsep Culture-Based Education System ; Sistem Pendidikan Berbasis Budya Lokal sebagai solusi Mengatasi Degradasi Budaya pada Peserta Didik Kabupaten Sumenep“  yaitu sebuah konsep sistem pendidikan yang berbasis kultur khususnya kultur lokal (Kabupaten Sumenep). Konsep sistem ini dalam perumusannya mengacu berbagai aspek kebudayaan khususnya kebudayaan Sumenep, mulai dari sarana prasanan pendidikan, Etika /Gaya Hidup Peserta didik, Bahasa Keseharian Peserta didik, Cara berpakaian Peserta didik, Hingga Sistem Kurikulum Akademiknya.
Adapun beberapa hal yang harus dirumuskan dalam Konsep Culture-Based Education System dikabupaten Sumenep ini, meliputi:
1.      Perumusan Desain Sarana dan Prasarana Pendidikan
Perlu adanya suatu pengaturan ruangan pembejaran yang memuat tentang kultur Sumenep, misalnya ; Adanya suatu lukisan-lukisan ruangan pembelajaran yang sesuai dengan rumah adat Sumenep, Dekorasi Banguanan bergambarkan Budaya-budaya Sumenep (Tandek, Sape Sonok dan lain-lain).
2.      Perumusan Aturan Etika/ Gaya Hidup Peserta Didik Sumenep
Adanya suatu peraturan etika atau gaya hidup yang melambangkan cara hidup masyarakat sumenep yaitu pekerja keras, lembut, agamis menjunjung tinggi Etika misalnya menyambut peserta didik dengan bersalim, Mengucapkan salam Saat mengawali Komunikasi atau bertemu dan lain-lain.
3.      Perumusan Aturan Berpakaian Khas Sumenep Diakhir Pekan
Adanya pembuatan aturan agar peserta didik berpakain rapi dengan batik yang berciri khaskan masyarakat Sumenep, bahkan jika memungkinkan dapat berpakaian tebek dan bersampir bagi kaum perempuan disetiap akhir pekan (hari Sabtu).
4.      Perumusan Sistem Kurikulum Pengajaran Berbasis Budaya Lokal
Dalam kurikulum pendidikan secara penilaian dengan menambahkan kriteria penilaian terhadap etika, cara berpakaian serta perlu adanya suatu mata pelajaran wajib yang membahas tentang budaya.

3.    SISTEM MASYARAKAT / ORGANISASI SOSIAL

Sistem organisasi atau sistem sosial yang ada di Desa Legung Timur, Legung Barat, Dapenda, Kecamatan Batang Batang, Kabupaten Sumenep masih sangat kental dengan nuansa kekeluargaannya. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya acara kumpulan antar warga atau organisasi masyarakat. Organisasi masyarakat adalah sekelompok masyarakat yang anggotanya merasa satu dengan sesamanya. Di Desa Legung Timur ini, ada beberapa organisasi masyarakat atau perkumpulan warga antara lain ada organisasi atau perkumpulan Diba' yang dilaksanakan rutin setiap malam Jumat. Diba' ini adalah membaca kitab yang berisi bacaan shalawat dan riwayat hidup Nabi secara singkat yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman ad-Diba’i. Acara ini diikuti oleh kaum perempuan dari berbagai kalangan, selain untuk membaca shalawat, diba' juga sebagai ajang silaturahmi antat warga yang ada di desa ini. Karena suasananya yang masih pedesaan, maka masih banyak warga yang turut andil dalam acara ini. Selain itu, ada lagi acara khataman yang rutin diselenggarakan setiap 6 bulan sekali. Khataman ini diikuti oleh seluruh warga, warga akan pergi ke masjid desa setempat untuk melakukan khataman quran bersama. Biasanya khataman quran akan dibagi per kelompok akan dapat satu jus dan dikhatamkan. Untuk organisasi kepemudaan seperti karang taruna, di desa ini masih tidak ada.
Ketika ada anggota keluarga yang menikah, maka akan tetap tinggal satu rumah dengan anggota keluarga sebelumnya, tidak mendirikan rumah sendiri. Karena masih banyak rumah yang berbentuk tanean lanjheng dimana rumah ini banyak memiliki ruang dan juga panjang sehingga terbilang cukup luas untuk anggota keluarga yang besar atau banyak. Untuk warga yang akan pindah dari tempat itu, biasanya mereka juga membawa pasir dari daerah sana untuk dipakai atau digunakan sebagai kasur pasir di daerah pindahnya, seperti salah satu keluarga dimana anaknya pindah rumah ke pamekasan, anggota keluarga itu akan membawa pasir dari daerah asalnya.
Organisasi sosial oleh Koentjoroningrat dikategorisasikan sebagai salah satu unsur kebudayaan universal. Unsur-unssur budaya ada dan dapat diperoleh dari berbagai macam kebudayaan yang ada diseluruh dunia. Koentjoroningrat menguraikan posisi organisasi sosial ini menjadi kian penting dalam sebuah masyarakat terutama dalam meneliti masyarakat desa atau masyarakat yang belum modern. Dalam masyarakat pedesaan, sistem kekerabatan masih sangat erat sehingga dalam pemenuhan kebutuhan satu sama lain, akan banyak membutuhkan peranan seseorang atau individu yang lainnya. Berbeda dengan masyarakat yang sudah  modern. Karena dengan perkembangan zaman serta perkembangan tekhnologi yang begitu cepat serta mudah, mereka juga dengan mudahnya akan mendapatkan yang mereka inginkan dengan cepat, bahkan tanpa perantara individu lainnya, maka dari itu masyarakat Modern didaerah perkotaan cenderung lebih apatis dan tertutup dibandingkan masyarakat pedesaan yang lebih terbuka dengan kedaan sosial.
Adanya kesamaan Organisasi di Desa Legung Timur yakni dalam bidang keagamaan, membuktian bahwa masyarakat disana sistem kekerabatannya masih sangat tinggi. Terbukti dengan diadakannya rutinan Diba’ dan Khataman setiap 6 bulan sekali membuat warga masih dalam kategori masyarakat sosial yang masih terbuka. Selain itu, dari demografi dimana mereka bertempat tinggal di tepi pantai juga menjadi salah satu faktor masyarakat masih menjunjung toleransi dan kekerabatan satu sama lain. Masyarakat pesisir akan saling bantu membantu dalam urusan mencari ikan dan urusan kelautan lainnya seperti mendorong perahu ke laut. Dengan hal sederhana ini, membuktikan bahwa masyarakat masih respect antara satu warga dengan warga lainnya. Selain itu, rumah penduduk yang masih khas pedesaan yakni tanpa adanya pagar tinggi menjulang, dan adanya kursi didepan halaman warga membuat antar tetangga bisa leluasa dalam bertamu ke satu rumah ke rumah lainnya. Beda halnya dengan rumah perkotaan yang memiliki pagar yang tinggi menjulang sehingga sekitarnya juga menjadi enggan untuk bertamu.

4.    SISTEM TEKNOLOGI

Pada masyarakat legung itu sendiri termasuk masyarakat yang mulai modern karena mereka mulai mengenal teknologi-teknologi yang sudah berkembang luas dimasyarakat. Teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer ( softwerw & hardwere) yang digunakan untuk memproses atau menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk untuk mengirimkan informasi (martin 1999) . Dimasyarakat legung ini khususnya legung barat mereka sudah ikut serta memanfaatkan teknologi komunikasi yang ada, para orang tua mulai mengenalkan teknologi yang ada kepada anak-anaknya. Menurut kepala desa (klebun) di desa legung itu bukan hanya remajanya yang menggunakan HP namun mulai dari semua kalangan bahkan anak SD pun sudah mengenal HP android, hp android itu biasanya digunakan untuk main game dan untuk mencari materi tugas sekolah. Bukan hanya HP namun masyarakat llegung barat itu juga mulai mengenal teknologi informasi yang lainya seperti TV, setiap rumah yang ada di pinggiran pesisir itu hampir mayoritas sudah memiliki televisi mereka memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendapatkan informasi dari luar. Dengan adanya teknologi yang semakin maju ini tidak mengubah budaya dari masyarakat legung itu sendiri, mereka masih kekeh mempertahankan budaya mereka, meskipun dengan adanya televisi mereka bisa mendapatkan informasi atau iklan-iklan yang ada namun mereka masih tetap mempertahankan tradisi mereka dengan tidur atas pasir yang sudah mereka sediakan pada petak-petak kamar didalam rumah mereka masing-masing, meskipun iklan pada tayangan televisi memberikan informasi tentang tempat tidur yang nyaman dan aman. Bukan hanya pada masyarakat legung namun keadaan ini juga terdapat pada masyarakat legung barat dan juga dapenda. Masyarakat legung barat ataupun depande juga sama mereka masih menjaga budaya yang sudah ada sejak zaman dahulu.

5.    SISTEM MATA PENCAHARIAN

Warga batang sumenep yang biasa disebut dengan manusia pasir, mayoritas mata pencariannya dikenal sebagai nelayan dan sebagain lainnya pedagang dan bertani . Mata pencarian nelayan warga batang sumenep tingkat kompetisinya lebih tinggi dibandingkan pedagang dan bertani hal tersebut dibuktikan dengan tersedianya lapangan kerja yang  cukup banyak sebagai nelayan yang disebabkan oleh lingkungan yang dikelilingi lautan. 
Warga batang juga mengelola pembedayaan kelautan untuk mata pencariannya, diantara lainnya adalah:
1.    Budidaya laut
melihat dari kondisi lingkungan dan indikasi dari hasil tangkapan ikan karang yang cukup besar didesa lombang kecamatan batang batang mempunyai prospek untuk dikembangkan budidaya ikan karang.  Beberapa hal yang mendukung upaya pengembangan budidaya ikan karang di lautan lombang antara lain :
-    Mempunyai potensi wilayah yang cocokuntuk usaha budidaya ikan karang
-    Tingkat curah hujan rendah
-    Berada diantara pulau pulau yang tidak terjadi erosi dan mempunyai air yang stabil
2.    Sektor pariwisata bahari
Didesa lombang kecamatan batang batang sumenep memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai wisata bahari. Lokasi yang dapat dikembangkan sebagai wisata bahari tersebut terdapat dilautan lombang. Lautan lombang memiliki keindahan alam berupa pasir putih gading yang sangat lembut dan keindahan terumbu karang.

    Mata pencarian warga batang batang juga bercocok tanam pohon cemara udang, pohon cemara udang disana memiliki harga yang cukup mahal dan tinggi, cemara udang tersebut hanya terdapat dikota sumenep. 


6.    SISTEM RELIGI
Semua orang didaerah sana semua mayoritas orang islam .terdapat 4 orang yang menganut agama tionghoa itupun kata warga sudah ada yang pindah tidak diketaui jelas apa yang membuat mereka lebih memilih pergi meningalkan daerah tersebut .semua warga disana belum terkontaminasi dengan budaya asing .mereka selalu memberikan selametan untuk laut tetepi disini selametanya unik yaitu setiap desa perwakilan 15 orang .dan ada 3 desa masing masing 15 orang perdesa yang mengadakan selametan .selametan diadakan setiap tahun sekali yaitu dengan tumpang didoakan di  tepi sungai lalu diarak ke laut untuk persembahan.
Selain itu warga masyarakat rumah pasir juga mengadakan ritual jikalau ada keluarga yang membuat pasir untuk dijadikan kasur atau tempat tidur di pindahkan dengan meggunakan ritual yaitu berdoa bersama tradisi  itu sudah dilestarikan sejak nenek moyang atau turun temurun .
Sedangkan menurut pandangan islam pasir di pinggir pantai itu terdapat kotoran hewan yang bisa saja itu najis dan orang orang dipinggir pantai itu tidak mensucikan pasir tersebut. Sedangkna orang orang yang tidur dikasur pasir itu rata rata beragama islam dan melaksanakan sholat. Orang-orang yang menggunakan pasir tersebut hanya diayak sampai lembut dan tidak mensucikan pasir tersebut.
Masyarakat juga mengkhitan perempuan, warga setempat menjalankan khitan perempuan untuk menjalankan syariat agama islam dan sunah rosul yang sudah menjadi tradisi di tengah masyarakat pasir meski mereka banyak yang salah presepsi terhadap hukum menghkitan perempuan yang sesuia dengan syariat agama Islam. Namun mereka tetap melakukannya karena anggapan untuk mengislamkan si anak dan sudah menjadi tradisi masyarakat yang susah untuk di hapuskan meski banyak yang kontroversi yang timbul didalam maupun luar negeri.
Pernikahan  merupakan salah satu unsur kebudayaan yang berpengaruh dan cukup penting bagi masyarakat. Istilah pengantan tadhu secara garis besar berarti pengantin yang diusung menggunakan tadhu, sedangkan pengertian secara lengkap adalah adat pernikahan masyarakat legung kecamatan batang batang kabupaten sumenep yang setiap proses tahapan pelaksanaan mempelai wanita di usung menggunakan tadhu. Pernikahan dilakukan secara agama islam fungsinya sebagai alat mempertebal rasa solidaritas secara kolektif sebagai alat pndidikan sebagai alat peningkatan ekonomi sebagai pengesahan dan pelestarian kebudaayaan sebagai sarana rekreatif an sebagai upaya pelaksaanaan melaksanaakan keturunan. Makna simbolik yang terkandung dalam tradisi adalah menjunjun tingg nilai pernikaha serta kehormatan terhadap kaum waanita yang sudah bersuami .selain itu juga bermakna bahwa di tengah tengah arus globalisasi, mereka tetap konsisten dalam menjaga kebudayaan mereka. Begitu juga kehidupan gotong royong yang masih kental dan rasa keberamaan merupakan karakter khas dari masyarakat. Nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut berujung pada nilai moral sosial yang meliputi niai ketuhanan, menghormati orang lain, kegotong royongan, mempererat hubugan kekeluargaan, kerukunan begitu juga pada nilai moral individu yang meliputi tanggung jawab, permohonan restu, kemandirian, kesabaran, kepatuah dan rela berkorban.
Nilai agama berfungsi sebagai sumber moral bagi segenap kegiatan. Hakikat semua upaya manusia dalam lingkup kebudayaan haruslah ditujukan untuk meningkatkan martabat manusia. Sebab kalau tidak maka hal ini bukanlah proses pembudayaan melainkan dekadensi, keruntuhan peradaban. Dalam hal ini maka agama memberikan kompas dan tujuan : sebuah makna, semacam arti, yang membedakan seorang manusia dari ujud berjuta galaksi. Kemajuan pesat di bidang ilmu dan teknologi yang ternyata tidak memberikan kebahagiaan yang hakiki menyebabkan manusia berpaling kembali kepada nilai-nilai agama. Seperti juga seni dengan ilmu maka pun agama dengan ilmu saling melengkapi kalau ilmu bersifat nisbi dan pragmatis maka agama adalah mutlak dan abadi. Kiranya tak ada orang yang lebih tepat selain Albert Einstein untuk mengungkapkan hakikat ini dengan kata-kata, “ ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Dan ilmuan terkemuka ini pulailah yang lebih dari lima puluh tahun yang lalu terbata, “mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita?”

7.    KESENIAN
Seni adalah segala sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan dan mampu membangkitkan perasaan orang lain. Istilah seni berasal dari kata sanskerta darikata sani yang diartikan pemujaan, persembahan dan pelayanan yang erat dengan upacara keagamaan yang disebut kesenian. Menurut Padmapusphita dimana seni berasal dari bahasa Belanda genie dalam bahasa latin disebut dengan genius yang artinya kemampuan luar biasa dibawa sejak lahir. Sedangkan menurut Ilmu Eropa bahwa seni berasal dari kata art yang berarti artivisual yaitu suatu media yang melakukan kegiatan tertentu. Kesenian
Disini saya akan menjelaskan kesenian di daerah kampung pasir. Batang batang, sumenep. Disana terdapat banyak sekali buadaya dan kesenian yang bisa di ambil. Sebagai contoh ngejung, ketoprak dan tayub dll. Biasanya kesenian seperti ini diadakan beritngan dengan budaya yang ada. Tidak banyak imformasi yang saya dapat mengenai budaya di daerah tersebut. Tapi saya merasa budaya di daerah tersrbut asli dari nenek moyang pendahulu di daerah tersebut. Kesenian kesenian tadi diakan saat ada upacara upacara adat, dan tasyakuran. Jika mengakaji lebih dalam mengenai kesenian maka kita harus menyentuh kedalam sub sub seni tersebut. Disini saya tidak banyak mengabil sub kesenian di daerah batang batang tersebut. Mungki hanya tiga atau dua saja untuk dijadikan topik pembahasan kita.
Tari muang sankal
Tari muang sangkal adalah salah satu tarian asli Sumenep. Kini tarian tersebut menjadi ikon seni tari di Sumenep. Tari muang sangkal diciptakan oleh Taufikurrachman pada tahun 1972. tarian tersebut sejak diciptakan hingga sekarang sudah dikenal di luar Madura dan luar negeri. Tercetusnya tari muang sangkal dilatar belakangi banyak hal. Antara lain, kepedulian para seniman dalam menerjemahkan alam madura yang sarat karya dan keunikan. Juga mengangkat sejarah kehidupan kraton yang dulu pernah ada di Madura (Sumenep). Secara harfiah, muang sangkal terdiri dari 2 kata dari Bahasa Madura dengan makna yang berbeda. Muang mempunyai arti membuang dan sangkal bermakna petaka. Jadi, muang sangkal bisa diterjemahkan sebagai tarian untuk membuang petaka yang ada dalam diri seseorang. Sebenanya gerakan dalam tari muang sangkal tidak jauh berbeda dengan tarian pada umumnya. Namun, ada keunikan yang menjadi ciri khas tarian tersebut, antara lain: Penarinya harus ganjil, bisa satu, tiga lima atau tujuh dan seterusnya. Busana ala penganti legga dengan dodot khas Sumenep. Penarinya tidak sedang dalam datang bulan (menstruasi). Pada saat menari, para penari memegang sebuah cemong (mangkok kuningan) berisikan kembang aneka macam. Penari berjalan beriringan dengan gerakan tangan sambil menabur bunga yang ada dalam cemong itu serta diiringi gamelan khas kraton.
Macapat
Macapat merupakan sebuah istilah yang sangat asing bagi kalangan pemuda di jaman sekarang, sudah jarang sekali atau dapat dikatakan tidak ada kalangan pemuda yang mengetahui hal tersebut, padahal istilah ini sangatlah populer di era 90-an. Sekarang, macapat hanya sekedar dikenal oleh orang-orang tertentu saja, seperti orang-orang yang masih menjaga nilai budaya dan kesenian serta orang-orang yang masih hidup dari era 90-an sampai sekarang. Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Macapat di Madura lebih dikenal dengan istilah macopat yang mana pembacaan tembangnya lebih mengutamakan pada cengkok, karena memang tradisi ngejung lebih diperindah oleh cengkok pada sebuah syair atau kata-kata, dan hal ini masih banyak dilakukan oleh orang-orang Madura di bagian timur (Sumenep) khususnya daerah batang batang ini. Tapi, pada saat ini macapat hanya dilakukan di acara-acara tertentu saja, seperti pernikahan, tasyakkuran, atau perkumpulan-perkumpulan yang hanya dilakukan 1 bulan sekali, itupun hanya di daerah tertentu saja.
Tayub
Seni Tayub merupakan sejenis kesenian tradisional masyarakat Madura, khususnya di Sumenep, lebih khusus lagi pada masyarakat pedesaan,  yang sedang mengalami dinamika mengejutkan. Eksistensi seni tayub, yang terdiri dari kerawitan (najaga), sinden, tokang tandhang (penayub), dan satu juru gelandang, menjadi semacam tradisi masyarakat bawah yang tidak hanya sarat dengan nilai estetika, tetapi yang tidak kalah penting adalah etika.
Estetika seni tayub terletak pada visualitasnya, apa yang tampak dan bisa diamati serta dinikmati mata, bukan hanya audio dengan cukup mengandalkan suara yang bagus disaat ngejung. Sebab masyarakat lebih tertarik, dan lebih memerhatikan cara tangdhang para penayub, dari pada materi suara mereka. Hal ini wajar dan sah, jika ada beberapa penayub yang hanya bisa nangdhang, tapi tidak bisa ngejung, karena pasti ada salah satu personil kerawitan yang ditugaskan untuk ngejung, sesuai dengan gending yang dipesan penayub. Sehingga sang penayub hanya tinggal menciptakan gerakan-gerakan tertu, mengikuti irama gendang dan gong, tanpa harus nembang / ngejung.Sedangkan etika seni tayub meliputi sejumlah hal yang sangat kompleks; mulai dari busana, cara berjalan dan duduk, cara berbicara, merokok dan makan, bahkan sampai pada materi kejung (tidak boleh ada unsur SARA) dan cara memperlakukan sinden. Semua etika tersebut harus dimiliki oleh para penayub agar mampu meraih simpati dan empati dari masyarakat pengggemar, layaknya bintang sinetron di dunia telenovela.
Ketoprak
Kelompok Ketoprak Madura Rukun Karya merupakan salah satu kelompok yang sudah dikenal oleh masyarakat di sekitar Sumenep. Kelompok ini juga sudah pernah mementaskan beberapa lakon tentang bhabhat Songennep dan beberapa cerita sejarah kerajaan Jawa dan Madura. Kesempurnaan tata artistik panggung dan tata laku pemain, membuat kelompok Rukun Karya menjadi idola masyarakat, sehingga setiap pertunjukan yang dibawakan oleh komunitas ini sangat digemari oleh masyarakat Madura, bahkan sampai ke kota - kota mandalungan di daerah Jawa seperti Probolinggo, Situbondo, Jember, Bondowoso dan kota lainnya, Namun yang menjadi daya tarik adalah salah satu aktor sekaligus pimpinan komunitas ini, yaitu bapak Edy Suharun. Masyarakat sangat menggemari beliau dalam memerankan lawakan. Setiap ada pertunjukan Ketoprak Madura, masyarakat Sumenep khususnya selalu menunggu lawakan Edy Suharun. Komunitas Ketoprak Madura di Sumenep cukup banyak, namun yang sangat dikenal di kalangan masyarakat hanya kelompok Edy Suharun atau komunitas Ketoprak Madura Rukun Karya. Nama Edy Suharun merupakan julukan yang diberikan masyarakat kepada bapak Edy karena merupakan pewaris atau penerus dari bapak Suharun. Nama asli bapak Edy Suharun adalah bapak Edy Suhandi.
Istilah kata loddrok memiliki banyak tafsir bagi masyarakatnya. Mayoritas orang Jawa, begitu mendengar kata loddrok, pemahaman mereka adalah ludruk Jawa Timuran, dan pada masyarakat Madura saat mendengar kata ludruk pemahaman mereka pasti Loddrok Madura. Padahal pengucapan loddrok Madura adalah salah karena merupakan jenis ketoprak Madura. Ketoprak Madura sebagai salah satu kesenian tradisional, keberadaannya sangat terbatas dan termarjinalkan baik oleh masyarakat Sumenep maupun masyarakat luar.

KESIMPULAN

Budaya merupakan suatu hal yang harus dipertahankan karena itu merukan akar atau asal usul suatu masyarakat meskipun kadang kala masyarakat tersebut hanya mengetahui bahwa budaya itu turun temurun dari nenek moyang dan tidak tahu pasti bagaimana awalnya, disinilah kelemahan dari suatu budaya jika diturunkan melalui lisan tanpa ada suatu catatan historinya. Di dalam hal ini masyarakat pasir legung timur masih mempertahankan budaya mereka yaitu bergelut dengan pasir setiap hari tetapi masyarakat legung barat mulai menerima adanya teknologi meski tidak merata, dan utk masyarakat depende sendiri mereka masih mempertahankan budaya sekaligus teknologi mereka juga mengikuti di barengi dengan upaya cocok tanam cemara udang. 

DAFTAR PUSTAKA

Albert Einstein, “ Pesan kepada Mahasiswa California Institute of Technologhy”, Ilmu dalam Perspektif, ed. Jujun S. Sumantri ( Jakarta: Gramedia, 1978), hlm,284.
Ernst Cassirer, An Essay on Man ( New Heaven: Yale University Press, 1944 )
Aldous Huxley, “Words  and Their Meaning”, The Importance of  Language, ed. Max Black ( Englewood Cliffs, N.J.: Prentice Hall,1962),hlm.5.
George F. Kneller, Introduction to the Philosophy of Education (New York : John Wiley, 1964), hlm,28.
John G. Kemeny, A Philosopher Looks at Science ( New York: Van Nostrand,1959,hlm.5.
Jujun S. Sumantri, “Filsafat Ilmu”, Sebuah Pengantar Populer ( Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2009)