Komunuikasi Lintas Budaya : Sistem Budaya Masyarakat Gunung Kelud

Komunuikasi Lintas Budaya : Sistem Budaya Masyarakat Gunung Kelud
1.    Bahasa yang Digunakan Masyarakat Kawasan Gunung Kelud
 
Dalam kehidupan bermamsyarakat, sebuah bahasa merupakan salah satu cara untuk melakukan komunikasi antar individu satu dengan individu lainnya dengan menggunakan bahasa yang sudah disepakati bersama baik itu bahasa verbal maupun non verbal. Bahasa verbal itu sendiri adalah bahasa yang disampaikan secara lisan oleh komunikator dengan komunikan dan berharap mendapatkan respon dari komunikan tersebut. Sedangkan bahasa non verbal ialah bahasa yang pengungkapannya tidak dilakukan secara lisan, namun berupa simbol atau tanda yang sudah disepakati bersama.
 
Saussure mengajarkan bahwa tanda, termasuk juga bahasa dan dapat berubah-ubah. Ia mencatat bahwa bahasa yang berbeda menggunakan kata kata yang berbeda untuk hal yang sama dan biasanya ada hubungan secara fisik antara sebuah kata dan acuannya. Oleh karena itu, tanda adalah kaidah yang ditata oleh aturan (Littlejhon, 2009:156). Teori mengenai tanda dikembangkan lagi oleh Saussur, dia berpendapat bahwa bahasa adalah fenomena budaya, dan menghasilkan makna dalam cara yang khusus. Bahasa menghasilkan makna melalui sistem hubungan dengan menciptakan jaringan persamaan dan perbedaan (Ziauddin, 2005:11).
 
Dari hasil penelitian yang dilakukan di masyarakat sekitar kaki Gunung Kelud, tepatnya di Desa Sugih Waras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri pada hari Sabtu tanggal 1 April 2017. Masayarakat desa tersebut masih menggunakan bahasa jawa yaitu bahasa Ngukuh, dimana bahasa tersebut merupakan campuran dari bahasa ngoko halus dan bahasa jawa kasar. “Bahasa Ngukuh itu mas bahasa sehari hari orang-orang disini, yo kasar ndak kasar nemen halus yo ndak halus nemen” kata Ratno (23) salah satu remaja yang menjadi penggerak radio Kelud FM.
 
Menurut  Pak Sukemi (42), selaku kepala desa di Desa Sugih Waras tersebut merupakan bahasa turunan dari sesepuh mereka dan tetap dipertahankan sampai saat ini. Bahkan setelah dibangunnya wisata Gunung Kelud, tidak ada perubahan yang signifikan pada bahasa kesehariannya dimana budaya luar yang dibawa oleh pengunjung Gunung Kelud masih bisa di filter oleh masyarakat setempat. “Untungnya setalah dibangunnya wisata Gunung Kelud, tidak ada pergeseran budaya yang cukup signifikan dari masyarakat disini” Jelas Pak Sukemi.
 
Selain bahas verbal, hasil dari penelitian kami ada juga bahasa non verbal yang cukup banyak dan mudah dipahami oleh masyarakat sekitar maupun pendatang. Ketika memasuki kawasan wisata Gunung Kelud, para pendatang pasti melihat banyak sekali pedagang buah nanas di pinggir jalan yang menuju ke Gunung Kelud, bahkan ada sebuah tulisan yang mangatakan “Pengunjung Bisa Petik Sendiri Nanas Madu, 10 ribu/kilo”. Hal tersebut sudah bisa menandakan bahwa hasil bumi dari masyarakat gunung kelud adalah buah nanas, sedangkan mayoritas mata pencahariannya adalah petani dan pedagang. 
 
Menurut langer, tanda (sign) adalah sebuah stimulus yang menandakan kehadiran dari suatu hal. Seperti halnya awan dapat menjadi tanda untuk hujan, warna merah sebagai tanda peringatan, hubungan sederhana ini disebut pemaknaan (signification). Sebaliknya, simbol digunakan dengan cara lebih kompleks dengan membuat seseorang untuk berpikir tentang sesuatu yang terpisah dari kehadirannya. Simbol adalah sebuah konseptualisasi manusia tentang satu hal. (Littlejhon, 2009:154)
Saat pengunjung mulai memasuki kawasan gunung kelud, di pinggir-pinggir jalan pasti melihat banyak simbol yang menggambarkan situasi daerah tersbut. Mulai dari simbol tebing curam, belokan tajam, dan simbol untuk berhati-hati ketika berada di kawasan Gunung Kelud. Simbol tersebut dibuat oleh pemerintah setempat untuk memberikan peringatan kepada masyarakat gunung kelud maupun para pengunjung agar lebih waspada ketika berkendara disana. Selain simbol tersebut, ada juga simbol yang menandakan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan tidak membuat kegaduhan di kawasan Gunung kelud, agar masyarakat dan para pengunjung tida mencemari lingkungan dan tetap menjaga ketentraman di Gunung Kelud.
 
2.    Sistem Mata Pencaharian Masyarakat Kawasan Gunung Kelud (Kediri)
    
Menurut Philipsen (dalam Griffin, 2003) mendeskripsikan budaya sebagai suatu konstruksi sosial dan pola simbol, makna-makna, pendapat dan aturan-aturan yang dipancarkan secara mensejarah. Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar, berpikir, merasa, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Budaya menampakkan diri dalam pola-pola bahasa dan dalam bentuk kebiasan maupun kegiatan yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan adaptasi diri yang memainkan peran penting dalam kehidupan manusia. Dalam  Lintas Budaya menurut Koentjaraningrat terdapat 7 unsur budaya yakni: bahasa, sistem pengetahuan, sistem masyarakat, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. Salah satunya adalah sistem mata pencaharian, dimana yang dimaksud disini adalah suatu usaha atau kerja ekonomi yang bertujuan untuk memperoleh kebutuhan hidup sehari-hari atau untuk memperoleh bahan kehidupan untuk jangka waktu tertentu. Banyak jenis ragam mata pencaharian yang ditekuni oleh masyarakat. Setiap daerahpun memiliki sumber mata pencaharian yang berbeda-beda tergantung dari iklim, keadaan geografis, tingkat pendidikan dan juga tingkat kebutuhan masyarakat itu sendiri. Mata pencaharian pada masyarakat pedesaan masih sangat tradisional, berbeda dengan mata pencaharian di kota yang sangat kompleks di segala bidang. Koentjaraningrat secara tradisonal mengklasifikasikan mata pencaharian masyarakat desa terdiri dari; (a) berburu dan meramu, (b) beternak, (c) bercocok tanam di ladang, (d) menangkap ikan dan bercocok tanam menetap dengan irigasi (Koentjaraningrat, 2002: 358).
 
Dalam study kasus ini masyarakat sekitar Gunung Kelud lah yang menjadi objek, tepatnya di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Dari hasil penelitian yang dilakukan dilapangan masyarakat sekitar kawasan Gunung Kelud mayoritas bekerja sebagai petani dan pedagang. Tak heran jika sepanjang jalan menuju Gunung Kelud banyak terhampar sawah hijau.  Hampir 80% warga bekerja sebagai petani, yag ditanam pun beragam, mulai dari nanas, cengkeh, tebu hingga sayuran. Dan 5% lagi warga bekerja sebagai pegawai di kantor kelurahan maupun kecamatan di desa tersebut. Tak hanya itu, ada pula warga yang bekerja sebagai pedagang, namun perkerjaan tersebut sebagai sampingan atau untuk menjual hasil panen mereka. Sebagian lagi ada yang bekerja sebagai peternak kambing dan sapi perah. Kendati demikian, tetap saja yang mata pencaharian yang paling dominan adalah petani, karena faktor lingkungan yang cukup mempuni.
 
Menurut Dr. P.J Bouman dan Bertha (1982: 26) desa adalah salah satu bentuk kuno dari kehidupan bersama sebanyak beberapa ribu orang, hampir semuanya saling mengenal, kebanyakan yang termasuk di dalamnya hidup dari pertanian, perikanan dan sebagainya, usaha-usaha yang dapat dipengaruhi oleh hukum dan kehendak alam. Kehidupan dengan mengerjakan sawah ataupun ladang orang dapat membuat mereka memungut hasil dari tempat dimana mereka tinggal.  Kondisi tersebut tak lepas dari keadaan geografis. Udara yang sejuk, subur nya tanah dan luas serta longgarnya daerah yang dapat dipekerjakan juga sebagai faktor banyaknya masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani.
 
Desa yang merupakan suatu wilayah yang pada umumnya memiliki potensi alam yang sangat tinggi. Masyarakat sekitar Gunung Kelud tak hanya menanam padi tetapi juga menanam nanas dan tebu. Nanas yang ditanam pun bukan nanas lokal, melainkan nanas madu yang rasanya cukup manis dan nikmat. Nanas di daerah tesebut menjadi hasil bumi yang dapat tumbuh dengan subur, disepanjang jalan menuju daerah wisata Gunung Kelud pun banyak pedagang yang menjajakan buah nanas. Nanas madu tersebut menjadi ciri khas daerah tersebut karena hanya dapat ditemukan di daerah sekitar kawasan Gunung Kelud. Nanas tak hanya dapat dikonsumsi langsung tetapi juga dapat diolah menjadi olahan lain seperti selai dan keripik nanas. Biasanya para kaum wanita lah yang mengolah nanas menjadi berbagai inovasi makanan yang dapat menarik minat pengunjung.
 
Tidak hanya sebagai makanan, Nanas disini juga dijadikan sebagai sesajen saat berlangsungnya ritual “Larung Sesaji”, yakni ritual rutin tahunan yang diadakan di kawah Gunung Kelud. Tak kehabisan akal, penduduk sekitar pun juga memanfaatkan lahan mereka yang ditanami nanas sebagai mata pencaharian lain, dengan bekerjasama dengan pihak pariwisata pengelola wisata Gunung Kelud. Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat, sehingga membawa dampak terhadap masyarakat setempat. Pariwisata mempunyai energi dobrak yang luar biasa, yang mampu membuat masyarakat setempat mengalami metamorphose dalam berbagai aspeknya ( I Gede Pitana dan Putu G. Gayantri, 2005: 109). Terdapat beberapa pedagang yang membuka lapak “Petik Nanas Sendiri”. Mereka bekerja sama dengan biro wisata off road di kawasan Gunung Kelud. Sehingga bagi pengunjung yang menyewa mobil off road maka otomatis akan diantarkan ke kebun nanas untuk dapat memetik nanas sendiri. Harganya pun ccukup terjangkau yaitu Rp. 10.000/kg. Dari kegiatan bertani, berdagang dan beternak tersebut mereka mengaku cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Bahkan mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka hingga bangku kuliah.
 
3.    Sistem Religi Masyarakat Kawasan Gunung Kelud (Kediri)
 
Religi berasal dari kata latin yaitu Relegere yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Menurut itu juga sejalan dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara mengabdi pada Tuhan yang terkumpul dalam kitab suci yang harus di baca.
Menurut Mangun wijaya (dalam Burhan Nurgiyanto, 2010: 326-327) bahwa bahwa perbedaan agama dengan regiliustas agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian pada Tuhan dengan hukum – hukum yang resmi sedangkan religiutas bersifat mengatasi lebih dalam dan lebih menonjolkan eksistensinya sebaga manusia.
 
Menurut Ratno (23) penyiar Radio Kelud FM tepat nya di desa Sugi waras kec. Ngancar, Kediri. Bahwa di desa tersebut lebih di dominasi oleh agama Islam dan kristen akan tetapi lebih sekitar 80% lebih banyak islam dari pada kristen. Walau banyak yang menganut agama Islam didesa ini masih masih menganut kepercayaan nenek moyang. Di desa ini masih melestarikan kepercayaan nenek moyang yaitu dengan melakukan ritual setiap tahunnya pada setiap bulan Suro ( Muaharram dalam Islam ). Menurut  Ratno bahwaa ritual tersebut dinamakan Larung sesaji dengan persiapan yaitu membawa buceng/ keduren ( tumpeng ). Ritual tersebut dilakukan oleh seluruh masyarakat se kecamatan Ngancar yang berlangsung malam dan siang hari. Hal tersebut dialkaukan agar ketika gunung Kelud maletus tidak terlalu banyak dampaknya terhadap masyarakat.
 
Menurut Sidi Gazalba bahwa religi adalah kecenderungan rohani manusia, yang berhubugan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna dalam sesuatu yang yang terakhir, hakikat dari semuanya itu. Manusia mmengakui adanya dan bergantung mutlak pada yang kudus, yang dihayati sebagai tenaga di atas manusia dan di luar kontrolnya, untuk mendapatkan pertolongan daripadanya, manusia dengan cara bersama-sama menjalankan ajaran, upacara, dan tindakan dalam usahanya.
 
Dari teori diatas sama seperti yang di lakukan oleh masyarakat di desa Sugi waras kecamatan Ngancar yang melakukan ritual agar tehindar dari hal-hal yang tidak inginkan oleh masyarakat yang ada di sana. Mereka melakukan ritual tiap tahun pada bulan suro.
Menurut pak Sukemi seorang kepala desa sugi waras  yang menjabat mulai 2013 (42) tahun. Mengatakan bahwa ritual Larung sesaji ini dilakukan karena masyarakat beranggapan u yang tinggal di sekitar lereng gunung Kelud tersebut.
 
Suatu sistem religi dalam suatu kebudayaan selalu mempunyai ciri-ciri untuk sedapat mungkin memelihara emosi keagamaan itu di antara pengikut-pengikutnya. Emosi keagamaan merupakan unsur penting dalam suatu religi bersama tiga unsur penting dalam suatu religi bersama dengan tiga unsur yang lainnya. A. Sistem keyakinan. B. sistem upacara. C. Suatu umat yang menganut religi itu.
Di desa Sugih waras melakukan tiga unsur tersebut masyarakat meyakini bahwa jika melakukan ritual ini mereka akan mendapatkan keselamatan apabila terjadi gunung meletus. Ritual ini di lakukan setiap tahun yang tanggalnya ditentukan oleh sesepuh/ juru kunci gunung Kelud yang diketui oleh mbah Ronggo. Ritual ini menjadi daya tarik pariwisata, saat ada ritual di Kelud jumalh pengungjung bertambah banyak. Ritual ini  menggunakan baju hitam yang dilakukan seluruh masyarakat baik muda ataupun tua. sebelum ritual di buka masih ada persembahan tari-tarian. Ritual ini berdasarkan tanggal yang telah di tentukan oleh sesepuh/ atau juru kunci gunung Kelud. Kemudian, memberitahu kepada kebuapaten dari kabupaten memberi instruksi kepada masyarakat agar mempersiapkan unruk ritual tersebut. biasanya tempat titik kumpul di balai desa. Sehari sebelum ritual dilakukan mereka melakukan penyadranan kemudian melakukan punden (tempat keramat)  kemudian pada malam harinya mereka melaksanakan kulonuwon ke gunung Kelud hingga paginya merupakan merupakan acara intinya.
 
4.    Sistem Organisasi Sosial Masyarakat Kawasan Gunung Kelud (Kediri)
   
 Herskovits dalam Harsojo (1967), mengatakan bahwa organisasi sosial itu meliputi lembaga-lembaga yang menetapkan posisi dari laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat, dan karenanya melahirkan relasi antar masyarakat.
Ahli antropologi lain yaitu W.H.R. Rivers, dalam Harsojo (1967) melihat organisasi sosial sebagai proses yang menyebabkan individu disosialisasikan dalam kelompok. Ia berpendapat, bahwa dia dapat juga mengganti studi mengenai organisasi sosial menjadi studi tentang social groupings, dan bagian-bagian dari fungsi sosial yang mengiringi pengelompokan itu. Ia mengatakan bahwa ruang lingkup penyelidikan mengenai organisasi sosial meliputi struktur dan fungsi dari pada kelompok. Adapun fungsi tersebut dapat dibagi dalamduabagian:
     a. fungsi yang berhubungan antara kelompok dengan kelompok dan
     b. fungsi yang bermacam-macam dari pada kelompok sosial itu adalah
          pranata- pranata sosial.
    
Raymond firth, dalam Harsojo (1967) mengemukakan arti yang khusus bagi konsep organisasi sosial. Dalam bukunya “elements of social organization”, ia mengemukakan bahwa Antropologi sosial menyelidiki “human social process comparatively”. Dengan proses sosial disini dimaksudkan operasi dari kehidupan sosial, cara bagaimana aksi dan existensi dari pada manusia hidup itu mempengaruhi manusia lain yang hidup dalam suau relasi tertentu.
    
Organisasi adalah institusi masyarakat yang dominan di dalam kehidupan manusia. Seseorang mungkin dilahirkan di rumah sakit, dididik di sekolah formal, mencari nafkah dengan bekerja di suatu perusahaan, mengadakan kegiatan sosial dengan aktif di organisasi kemasyarakatan, mengikuti perkumpulan yang menyalurkan hobi tertentu, mengikuti salah satu partai politik, dan pada saat meninggal kematiannya diatur oleh organisasi tertentu. Organisasi telah meliputi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Setiap hari seseorang hampir selalu berhubungan dengan berbagai organisasi dan sebagian besar waktunya dihabiskan dalam aktivitas organisasi. Hanya masyarakat primitif dan terasing saja yang tidak mempunyai organisasi (Ibrahim, 2003:63).
 
Menurut Ratno (23) penyiar Radio Kelud FM tepatnya di Desa Sugi Waras  Kec. Ngancar, Kediri. Bahwa di desa tersebut ada organisasi sosial seperti Karang Taruna yang penggeraknya adalah para pemuda di desa tersebut yang masih aktif sampai sekarang. Ada juga kegiatan yang diadakan oleh organisasi tersebut seperti acara agustusan. “Pokoknya acara-acara didesa itu Karang Taruna yang melaksanakan. Ada juga Organisasi Sosial atau juga bisa disebut komunitas “Radio Kelud FM” yang juga dipelopori oleh para pemuda Desa Sugi Waras. “Sekumpulan remaja yang ingin bersiaran, selain bersiaran juga menyiarkan tentang bencana aja”. Ujar Ratno. “Menurut Stephen Robbins (dalam Sobirin, 2007:5) organisasi adalah unit sosial yang sengaja didirikan untuk jangka waktu yang relatif lama, beranggotakan dua orang atau lebih yang bekerja bersama-sama dan terkoordinasi, mempunyai pola kerja tertentu yang terstruktur, dan didirikan untuk mencapai tujuan bersama atau satu set tujuan yang telah  ditentukan sebelumnya. Organisasi sosial dapat diartikan sebagai perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa  dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri. Organisasi sosial merupakan tata cara yg telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia dalam sebuah wadah yangdisebut dengan Asosiasi. Asosiasi memiliki seperangkat aturan, tata tertib, anggota dan tujuan yang jelas, sehingga berwujud kongkrit.
   
 Menurut Pak Sukemi (42), seorang Kepala Desa di Desa Sugiwaras mengatakan bahwa didesa tersebut juga ada organisasi yang diberi nama Jamaah Rutinan, yang kegiatannya mengadakan pengajian. Organisasi ini dibagi menjadi empat bagian yaitu laki-laki dewasa (bapak-bapak), remaja putra, perempuan dewasa (ibu-ibu), dan remaja putri. JBAF Maijor Polak (1985:254) mengemukakan bahwa organisasi sosial dalam arti sebagai sebuah asosiasi adalah sekelompok manusia yang mempunyai tujuan tertentu, kepentingan tertentu, menyelenggarakan kegemaran tertentu atau minat-minat tertentu.
5.    Sistem kesenian Masyarakat Kawasan Gunung Kelud (Kediri)
 
Perhatian terhadap kesenian atau segala ekspresi hasrat manusia akan keindahan, dalam kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa mula-mula bersifat deskriptif. Para pengarang etnogarfi masa akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 dalam karangan-karangan ereka seringkali memuat suatu deskriptif mengenai benda-benda hasil seni, seni rupa, terutama seni patung, seni ukir , atau seni hias, pada benda alat sehari-hari. Deskriptif –deskriptif itu terutama memperhatikan bentuk, teknik pembuatan, motif hiasan, dan gaya dari benda-benda kesenian tadi.
 
Selain benda hasil seni rupa, lapangan kesenian lain yang juga sering mendapat tempat dalam sebuah karangan etnografi adalah musik, seni tari, dan drama. Bahan mengenai seni musik setiap kali hanya terbatas pada deskripsi mengenai alat bunyi-bunyian bahkan mengenai seni tari  biasanya hanya menguraikan jalannya suatu tarian, tetapi jarang suatu keterangan koreografi  tentang gerak-gerak tarinya sendiri, sedangka bahkan seni drama sering juga terbatas hanya pada uraian mengenai dongengnya saja, atau karena seni drama pada banyak suku bangsa di dunia ada hubungannya dengan religi maka seni drama sering juga dibicarakan dengan upacra-upacara keagamaan.
 
Dipandang dari sudut cara kesenian sebagai ekspresi hasil manusia akan keindahan itu dinikmati, maka ada dua lapangan besar yaitu: (a) seni rupa, atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan mata, dan (b) seni suara, atau kesenian yang dinikamati oleh manusia dan telinga.
Kesenian berkaitan erat dengan rasa keindahan (estetika) yang dimiliki oleh setiap manusia dan masyarakat. Rasa keindahan inilah melahirkan berbagai bentuk seni yang berbeda-beda antara kebudayaan yang satu dan kebudayaan yang lain.
 
Kesenian yang ada di desa Sugi Waras kecamatan Ngancar ini masih mempertahakan kesenian jaranan yang di mainkan tidak hanya orang tua akan tetapi para pemuda disana tetap mmepertahankan kesenian jaranan ini. Kesenian jaranan ini di tampilkan saatada acara tahunan yang ada di sana.  Jaranan ini di mainkan oleh masyarakat lokal yang ada di sana.
 
Menurut Ratno salah satu warga yang ada disana yang juga merupakan penyiar radio Kelud FM ini mengatakan bahwa. “ di daerah ini masih mempertahankan kesenian jaranan yang biasa tampil di sebuah acara tahunan yaitu adanya ritual sesaji yang di laksanakan sama seperti ritual gunung Kelud bulannya. Bahkan  kesenian ini ada organisasinya akan tetapi ratno ini mengetahui nama organisasinya.
 
Kesenian berkatan erat dengan rasa keindahan yang diilki oleh setiap manusia dan masyarakat.  Rasa keindahan inilah melahirkan berbagai bentuk seni yang berbeda-beda antara kebudayaan yang satu dan kebudayaan yang lain. Bahwa dengan adanya kesenian  Jaranan ini mempunai daya tarik tersendiri dan masih di pertahankan oleh anak muda yang ada di sana. Keindahan dari kesenian Jaranan ini, jaranan ini di hanya ada di watu tertentu yaiu saat ada ritual di gunung Kelud.
 
6.    Sistem teknologi
Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda-benda tersebut. Perhatian awal para antropolog dalam memahami kebudayaan mannusia berdasarkan unsur teknologi yang dipakai masyarakat berupa benda-benda yang dijadikan sebagai peralatan dengan membentuk dan teknologi yang masih sederhana. Dengan demikian, bahasan tentang unsur kebudayaan yang termasuk dalam peralatan hidup dan teknologi merupakan Bahasa kebudayaan fisik.
 
Penggunaan istilah “Teknologi” (Bahasa inggris: technology) telah berubah secara signifikan lebih dari 200 tahun terakhir. Sebelum abad ke 20, istlah ini tidak lazim dalam bahsa inggris, dan biasanya merujuk pada penggambaran atau pengkajian seni terapan.
 
Pada tahun 1937, seorang sosiolog amerika, Read Bain, menulis bahwa technology includes all tools, machines, utensils, weapons, instruments, housing, cloting, communicating and transporting devices and the skills by which we produce and use them (teknologi meliputi semua alat, mesin, aparat,perkakas, senjata, perumahan, pakaian, peranti pengangkut atau pemindah dan pengomunikasi dan keterampilan yang memungkinkan kita menghasilkan semua itu). Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Penggunaan teknologi oleh manusia duawali dengan pegubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sedrhana. Perkembangan teknologi terbaru, termasuk diantaranya mesin cetak, telepon, dan internet.
 
Menurut castells (2004,107) seorang ahli sosiologi mendefinisikan teknologi sebagai “kumpulan alat, aturan atau prosedur yang merupakan penerapan pengetahuan ilmiah terhadap suatu pekerjaan tertentu dalam cara memungkinkan pengulangan.
 
Dari hasil penelitian yang dilakukan di masyarakat sekitar kaki gunung kelud, tepatnya di desa sugihwaras, kecamatan ngancar, kabupaten Kediri pada hari sabtu 1 april 2017. Masyrakat di gunung kelud khususnya desa sugihwaras, dari teknologi itu sendiri sudah memadai seperti halnya mempromosikan tempat wisata dan budaya-budaya yang ada digunung kelud dengan menggunakan media sosial supaya banyak diketahui oleh masyrakat. Dan juga di gunung kelud sudah ada radio yang bernama radio kelud fm, yang berguna untuk menyampaikan sebuah informasi apabila nanti ada sebuah bencana disekitar kaki gunung kelud.
 
7.    Sistem Pendidikan atau Sistem pengetahuan Masyarakat Gunung Kelud (Kediri)
            Dalam pandangan Talcott Parsons masyarakat dan suatu organisme hidup merupakan sistem yang terbuka yang berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan lingkungannya. sistem kehidupan ini dapat dianalisis melalui dua dimensi yaitu:
          Interaksi antar bagian-bagian atau elemen-elemen yang membentuk sistem dan interaksi dan pertukaran antar sistem itu dengan lingkungannya. Talcott parsons membangun sebuah teori sistem umum Grand theory yang berisi empat unsur utama yang tercakup dalam segala sistem kehidupan yaitu: Adaptation, Goal Attainment, Integration dan latent pattern Maintenance. Salah satunya di sintem pendidikan atau sistem pengetahuan.
 
Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Adapun tujuan pendidikan secara umum adalah membawa anak kearah tingkat kedewasaan. Suatu pendidikan menyangkut tiga unsur pokok, yaitu unsur masukan, unsur proses usaha itu sendiri, dan unsur hasil usaha. Pendidikan merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan  dari kehidupan manusia. Pendidikan menduduki posisi penting dalam pembangunan suatu bangsa. Pendidikan berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang sangat menentukan nasib bangsa. Dunia pendidikan tidaklah sebatas mengetahui ilmu dan memahaminya, akan tetapi dalam dunia pendidikan sangat berhubungan dengan dunia luar yang nyata. Pendidikan terdiri dari berbagai elemen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan yang diharapkan bersama, dari hal itu dapat disebut bahwa pendidikan sebagai suatu sistem pendidikan tidak dapat dipisahkan dari lingkingannya baik fisik maupun makhluk hidup yang lain, karena pelajaran tidak hanya didapat dari pelajaran sekolah ataupu lembaga pendidikan formal, namun pendidikan juga membutuhkan pelajaran dari alam atau lingkungan sekitar.
 
Sitem berasal dari bahasa yunani systema, yang berarti sehimpunan bagan atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan. Istilah sistem adalah suatu konsep yang abstrak. Definisi tradisional menyatakan bahwa sistem adalah seperangkat komponen atau unsur unsur yang saling berkaitan saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Dan dalam lintas budaya menurut Koentjaraningrat terdapat 7 unsur budaya yakni: Bahasa, Sistem pengetahuan, Sistem masyarakat, Sistem teknologi, Sistem mata pencaharian, Sistem religi, dan kesenian. salah satunya sistem pendidikan dimana yang telah dijelaskan di atas. Menurut Ratno (23) salah satu warga di desa sugih waras, kecamatan ngancar, kabupaten kediri. Dari hasil penelitian yang dilakukan di lapangan sekitar kawasan gunung kelud mayoritas sistem pendidikan atau sistem pengetahuan hampir 80% masyarakatnya sudah lebih mengejar pendidikan S1 nya,rata-rata pendidikan S1 berada di wilayah kota kediri dan sedangkan di daerah pedesaan itu terdapat di desa wates. Di desa sugih waras sendiri terdapat 3 SD, 4 SMP, 4 SMA dan tingkat perguruan tinggi ada di daerah kotanya. Dan di desa ini juga ada kebudayaan yang sangat unik dan juga dilestarikan, nama kebudayaan tersebut ialah larung sesaji, Namum setelah tidak adanya kawah gunung sesaji ritula tersebut berubah menjadi ritual sesaji yang di adakan setiap tanggal suro atau bulan suro.(koenjaraningrat,2002,358).


Daftar Pustaka
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Littlejhon, Stephen W. 2012. Teori Komunikasi Theories of Human Communication Edisi 9. Jakarta : Salemba Humanika.
Sardar, Ziauddin. Loon, Borin Van. 2005. Seri Mengenal dan Memahami Cultural Studies. Batam: Scientific Press

Komunikasi Lintas Budaya : Masyarakat Pasir di Kabupaten Sumenep

Komunikasi Lintas Budaya : Masyarakat Pasir di Kabupaten Sumenep

1.    BAHASA

Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. Dalam hal ini maka Ernts Cassirer menyebut manusia sebagai animal symbolicum, makhluk yang mempergunakan simbol, yang secara generik mempunyai cakupan yang lebih luas dari pada Homo Sapiens yakni makhluk yang berfikir, sebab dalam kegiatan berpikirnya manusia mempergunakan simbol. Tanpa mempunyai kemampuan berbahasa ini maka kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak mungkin dapat dilakukan. Lebih lanjut lagi, tanpa kemampuan berbahasa ini maka manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaan nya, sebab meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi yang satu kepada generasi selanjutnya. “Tanpa bahasa” simpul Aldous Huxley, “manusia tak berbeda dengan anjing dan monyet”.
Salah satu contoh yang ada adalah Bahasa Daerah Madura yang mana meski madura hanya ada satu pulau tetapi keberagaman bahasa madura sangat lah banyak dan unik, seperti halnya dari cara penyampaiannya dan juga kata-katanya. Untuk bahasa yang terdapat pada masyarakat Legung Timur, Barat, dan Depende Sumenep sendiri yang sesuai dengan observasi kami, disini terdapat suatu fakta yang unik dimana masyarakat sumenep dalam tata  cara penyampaian nya lebih halus dan pelan berbeda dengan masyarakat madura yang berada di kabupaten bangkalan yg identik dengan penyampaian nya yang  lantang sehingga terkesan kasar, tidak hanya itu dalam bahasa yang ada pun sangatlah berbeda meskipun tidak banyak salah satunya adalah “Lok oning” dan “Tak oning” disini “lok” dan “tak” mempunyai makna yang sama yakni tidak, dan untuk bahsa yang pengucapannya sama dan maknanya beda tidak terdapat dalam bahasa madura, dan juga bahasa nonverbal mereka juga mempunyai makna yang sama.
Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak dimana obyek-obyek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai sesuatu obyek tertentu meskipun obyek terebut secara faktual tidak berada ditempat dimana kegiatan berpikir itu dilakukan. Binatang mampu berkomuniksi dengan binatang lainnya namun hal ini terbatas selama obyek yang dikomunikasikan itu berada secara faktual waktu proses komunikasi itu dilakukan. Tanpa kehadiran obyek secara faktual maka komunikasi tidak bisa dilaksanakan.
Kalau kita telaah lebih lanjut, bahasa mengkomunikasikan tiga hal yakni buah pikiran, perasaan, dan sikap. Atau seperti dinyatakan oleh Kneller bahasa dalam kehidupan menusia mempunyai fungsi simbolik, emotif dan afektif. Fungsi simbolik dari bahasa menonjol dalam komunikasi ilmiah sedangkan fungsi emotif menonjol dalam komunikasi estetik. Komunikasi dengan mempergunakan bahasa akan mengandung unsur simbolik dan emotif ini. Dalam komunikasi ilmiah sebenarnya proses komunikasi itu harus terbebas dari unsur emotif ini, agar pesan yang disampaikan bisa di terima secara reproduktif, artinya identik dengan pesan yang dikirimkan. Namun dalam prakteknya hal ini sukar untuk dilaksanakan kecuali informasi yang terdapat dalam buku pedoman telepon. Inilah yang merupakan salah satu kelemahan bahasa sebagai sarana komunikasi ilmiah dimana menurut Kemeny bahasa mempunyai kecenderungan emosional

2.    SISTEM PENGETAHUAN

Seorang filsuf berpantun
“Ada orang yang tahu di tahunya
Ada orang yang tahu di tidak tahunya
Ada orang yang tidak tahu di tahunya
Ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya”
Dalam hal Ilmu Pengetahuaan, anak - anak suku Madura sudah semenjak kecil disuruh untuk mencari ilmu dan mengaji  Al-Quran, agar mereka bisa mendapatkan pembelajaran mengenai etika, bahkan di Madura bagi orang – orang yang tidak sopan dalam hidup bermasyarakat entah remaja ataupun orang tua, bisa dikatakan orang yang tidak mengenal tak battonna langgar kata - kata ini bisa di artikan orang yang tidak pernah belajar etika karena tidak pernah pergi mengaji.  Mungkin mereka kurang sopan karena belum pernah pergi ke institusi pendidikan yang di Madura di kenal dengan Langgar atau surau yang digunakan sebagai tempat belajar.
Melemahnya kwalitas pendidikan masyarakat Madura disini tidak terlepas dari pengaruh sistem pendidikan nasional yang selama ini kita kembangkan, di mana, sistem pendidikan nasioal jauh dari akar budaya dan jauh lingkungan anak didik. Pada gilirannya, anak didik sebagai generasi yang diharapkan menjadi suri tauladan didaerahnya, terasing dari lingkungan masyarakatnya sendiri. Pendidikan yang tidak berlandaskan kebudayaan akan menghasilkan generasi yang tercerabut dari kehidupan masyarakatnya sendiri. Anak didik pandai di negeri orang, tetapi bodoh di negeri sendiri.
Realitas tersebut merupakan implikasi dari perubahan sistem pendidikan kita yang hanya mengandalkan pada silabus yang mengarah pada satu sistem pendidikan dan tidak berlandaskan pada kebudayaan, dan hal itu akan menghasilkan anak didik yang mekanik seperti mesin serta manusia-manusia yang orentasi pemikirannya pada kerja, bukan pengetahuan. Dengan kata lain, sistem pendidikan kita memberi kesan bahwa kesuksesan sebuah proses pendidikan hanya terletak pada satu instrumen teknis-operasional yakni kurikulum. Lembaga pendidikan yang tidak mengacu pada kurikulum yang telah ditetapkan oleh pusat (mendiknas) maka proses pendidikan yang dijalankan akan mengalami kegagalan. Sehingga masyarakat Madura yang beragam dan agamis serta lebih mengedepankan nilai-nilai kebudayaan disulap menjadi masyarakat yang lupa pada akar budayanya. Tak jarang orang Madura yang tidak tahu bahasa Madura. Tidak sedikit putra-putri Madura yang tidak mengerti kebudayaan Madura. Bahkan ada yang merasa asing dengan tanah kelahirannya sendiri.
Dari itu, sistem pendidikan yang hanya bergantung pada satu instrumen tersebut, atau lebih tepatnya disebut dengan sistem pendidikan individual itu, tidak akan mampu mencerdaskan dan mengangkat derajat masyarakat Madura khususnya dan bangsa secara menyeluruh. Hal tersebut, yang menjadi faktor utama adalah karena sistem pendidikan yang dihasilkan selama ini hanya berangkat dari konsep segelintir orang yang cendrung meniru pola pikir dari barat bukan dari hasil pengamatan dan penelitian terhada budaya, terutama di Madura.

KONDISI PESERTA DIDIK SUMENEP DALAM MEMAHAMI BUDAYA

Selaras dengan masalah yang dialami Sumenep secara umum terkait budaya, seharusnya peserta didik harus memiliki kecerdasan yang lebih dalam memandang budaya, namun kondisi tersebut tidak tercermin dalam diri peserta didik dikabupaten Sumenep. Pemangku Kebijakan diSumenep dituntut dapat mengembangkan peserta didik sesuai tuntutan zaman global dan kondisi lingkungan lokal. Sebagaimana tuntutan tersebut terangkum dalam berbagai aspek kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional serta kecerdasan social (Ary Ginanjar Agustian, 2006). Namun penulis menillai perlu ada kriteria kecerdasan penyempurna untuk peserta didik yaitu terkait kecerdasan cultural.
Kabupaten Sumenep harus menerapkan sistem pendidikan yang memenuhi 5 konsep kecerdasan diatas. Apalagi kabupaten sumenep dipahami sebagai kabupaten yang sangat terkenal dengan kekuatan dan keragaman budayanya. Secara penerapan sistem pendidikan Sumenep selama telah memenuhi beberapa aspek kecerdasan diatas namun tidak pada segi kecerdasan cultural. Kabupaten Sumenep  dalam sektor pendidikan dinilai belum melaksanakan penerapan sistem yang mengarah terhadap perkembangan kecerdasan kultur pada peserta didiknya. Peserta didik cenderung bersifat dan bersikap kebarat-baratan, hal ini dipengaruhi oleh keterbukaan informasi yang dibingkis dengan virus westernesasi dan pada  menggerus kultur lokal pada diri peserta didik.

KONSEP CULTURE-BASED EDUCATION SYSTEM

Ketika kami melihat realitas terkait kabupaten sumenep yang mengalami degradasi kebudayaan yang berimbas terhadap peserta didik dikabupaten Sumenep, sehingga peserta didik memiliki kecendungan yang tidak menggambarkan budayanya, akhirnya hasil analisa dan penelitian kami mengahasilkan suatu konsep yang dimana dapat dilakukan pada kalangan peserta didik dengan menginovasi penerapan sistem pendidikan dikabupaten Sumenep.
Dimana jika dalam berbagai teori tentang peserta didik peserta didik dituntut untuk menguasai berbagai skill yang meliputi intelektual skill, spiritual skill, emosional skill, dan sosial skill. Kondisi peserta didik Sumenep memiliki suatu tuntutan untuk menguasai suatu skill kecerdasan kultur, yang diamana dengan adanya perpaduan beberapa skill tersebut diharapkan dapat membentuk persons peserta didik yang berotak global dan berjiwa lokal Janet (Wolff, 2007).
Maka disini kami mencoba memberikan solusi penerapan sistem yang berbasis kultur. Sehingga kultur yang telah mengalami degradasi dapat direvitalisasi kembali khususnya dikalangan peserta didik kabupaten Sumenep. Solusi yang kami tawarkan yaitu suatu gagasan yang menjadi solusi atas degradasi kultur yang dialami oleh peserta didik, gagasan tersebut berjudul “Konsep Culture-Based Education System ; Sistem Pendidikan Berbasis Budya Lokal sebagai solusi Mengatasi Degradasi Budaya pada Peserta Didik Kabupaten Sumenep“  yaitu sebuah konsep sistem pendidikan yang berbasis kultur khususnya kultur lokal (Kabupaten Sumenep). Konsep sistem ini dalam perumusannya mengacu berbagai aspek kebudayaan khususnya kebudayaan Sumenep, mulai dari sarana prasanan pendidikan, Etika /Gaya Hidup Peserta didik, Bahasa Keseharian Peserta didik, Cara berpakaian Peserta didik, Hingga Sistem Kurikulum Akademiknya.
Adapun beberapa hal yang harus dirumuskan dalam Konsep Culture-Based Education System dikabupaten Sumenep ini, meliputi:
1.      Perumusan Desain Sarana dan Prasarana Pendidikan
Perlu adanya suatu pengaturan ruangan pembejaran yang memuat tentang kultur Sumenep, misalnya ; Adanya suatu lukisan-lukisan ruangan pembelajaran yang sesuai dengan rumah adat Sumenep, Dekorasi Banguanan bergambarkan Budaya-budaya Sumenep (Tandek, Sape Sonok dan lain-lain).
2.      Perumusan Aturan Etika/ Gaya Hidup Peserta Didik Sumenep
Adanya suatu peraturan etika atau gaya hidup yang melambangkan cara hidup masyarakat sumenep yaitu pekerja keras, lembut, agamis menjunjung tinggi Etika misalnya menyambut peserta didik dengan bersalim, Mengucapkan salam Saat mengawali Komunikasi atau bertemu dan lain-lain.
3.      Perumusan Aturan Berpakaian Khas Sumenep Diakhir Pekan
Adanya pembuatan aturan agar peserta didik berpakain rapi dengan batik yang berciri khaskan masyarakat Sumenep, bahkan jika memungkinkan dapat berpakaian tebek dan bersampir bagi kaum perempuan disetiap akhir pekan (hari Sabtu).
4.      Perumusan Sistem Kurikulum Pengajaran Berbasis Budaya Lokal
Dalam kurikulum pendidikan secara penilaian dengan menambahkan kriteria penilaian terhadap etika, cara berpakaian serta perlu adanya suatu mata pelajaran wajib yang membahas tentang budaya.

3.    SISTEM MASYARAKAT / ORGANISASI SOSIAL

Sistem organisasi atau sistem sosial yang ada di Desa Legung Timur, Legung Barat, Dapenda, Kecamatan Batang Batang, Kabupaten Sumenep masih sangat kental dengan nuansa kekeluargaannya. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya acara kumpulan antar warga atau organisasi masyarakat. Organisasi masyarakat adalah sekelompok masyarakat yang anggotanya merasa satu dengan sesamanya. Di Desa Legung Timur ini, ada beberapa organisasi masyarakat atau perkumpulan warga antara lain ada organisasi atau perkumpulan Diba' yang dilaksanakan rutin setiap malam Jumat. Diba' ini adalah membaca kitab yang berisi bacaan shalawat dan riwayat hidup Nabi secara singkat yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman ad-Diba’i. Acara ini diikuti oleh kaum perempuan dari berbagai kalangan, selain untuk membaca shalawat, diba' juga sebagai ajang silaturahmi antat warga yang ada di desa ini. Karena suasananya yang masih pedesaan, maka masih banyak warga yang turut andil dalam acara ini. Selain itu, ada lagi acara khataman yang rutin diselenggarakan setiap 6 bulan sekali. Khataman ini diikuti oleh seluruh warga, warga akan pergi ke masjid desa setempat untuk melakukan khataman quran bersama. Biasanya khataman quran akan dibagi per kelompok akan dapat satu jus dan dikhatamkan. Untuk organisasi kepemudaan seperti karang taruna, di desa ini masih tidak ada.
Ketika ada anggota keluarga yang menikah, maka akan tetap tinggal satu rumah dengan anggota keluarga sebelumnya, tidak mendirikan rumah sendiri. Karena masih banyak rumah yang berbentuk tanean lanjheng dimana rumah ini banyak memiliki ruang dan juga panjang sehingga terbilang cukup luas untuk anggota keluarga yang besar atau banyak. Untuk warga yang akan pindah dari tempat itu, biasanya mereka juga membawa pasir dari daerah sana untuk dipakai atau digunakan sebagai kasur pasir di daerah pindahnya, seperti salah satu keluarga dimana anaknya pindah rumah ke pamekasan, anggota keluarga itu akan membawa pasir dari daerah asalnya.
Organisasi sosial oleh Koentjoroningrat dikategorisasikan sebagai salah satu unsur kebudayaan universal. Unsur-unssur budaya ada dan dapat diperoleh dari berbagai macam kebudayaan yang ada diseluruh dunia. Koentjoroningrat menguraikan posisi organisasi sosial ini menjadi kian penting dalam sebuah masyarakat terutama dalam meneliti masyarakat desa atau masyarakat yang belum modern. Dalam masyarakat pedesaan, sistem kekerabatan masih sangat erat sehingga dalam pemenuhan kebutuhan satu sama lain, akan banyak membutuhkan peranan seseorang atau individu yang lainnya. Berbeda dengan masyarakat yang sudah  modern. Karena dengan perkembangan zaman serta perkembangan tekhnologi yang begitu cepat serta mudah, mereka juga dengan mudahnya akan mendapatkan yang mereka inginkan dengan cepat, bahkan tanpa perantara individu lainnya, maka dari itu masyarakat Modern didaerah perkotaan cenderung lebih apatis dan tertutup dibandingkan masyarakat pedesaan yang lebih terbuka dengan kedaan sosial.
Adanya kesamaan Organisasi di Desa Legung Timur yakni dalam bidang keagamaan, membuktian bahwa masyarakat disana sistem kekerabatannya masih sangat tinggi. Terbukti dengan diadakannya rutinan Diba’ dan Khataman setiap 6 bulan sekali membuat warga masih dalam kategori masyarakat sosial yang masih terbuka. Selain itu, dari demografi dimana mereka bertempat tinggal di tepi pantai juga menjadi salah satu faktor masyarakat masih menjunjung toleransi dan kekerabatan satu sama lain. Masyarakat pesisir akan saling bantu membantu dalam urusan mencari ikan dan urusan kelautan lainnya seperti mendorong perahu ke laut. Dengan hal sederhana ini, membuktikan bahwa masyarakat masih respect antara satu warga dengan warga lainnya. Selain itu, rumah penduduk yang masih khas pedesaan yakni tanpa adanya pagar tinggi menjulang, dan adanya kursi didepan halaman warga membuat antar tetangga bisa leluasa dalam bertamu ke satu rumah ke rumah lainnya. Beda halnya dengan rumah perkotaan yang memiliki pagar yang tinggi menjulang sehingga sekitarnya juga menjadi enggan untuk bertamu.

4.    SISTEM TEKNOLOGI

Pada masyarakat legung itu sendiri termasuk masyarakat yang mulai modern karena mereka mulai mengenal teknologi-teknologi yang sudah berkembang luas dimasyarakat. Teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer ( softwerw & hardwere) yang digunakan untuk memproses atau menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk untuk mengirimkan informasi (martin 1999) . Dimasyarakat legung ini khususnya legung barat mereka sudah ikut serta memanfaatkan teknologi komunikasi yang ada, para orang tua mulai mengenalkan teknologi yang ada kepada anak-anaknya. Menurut kepala desa (klebun) di desa legung itu bukan hanya remajanya yang menggunakan HP namun mulai dari semua kalangan bahkan anak SD pun sudah mengenal HP android, hp android itu biasanya digunakan untuk main game dan untuk mencari materi tugas sekolah. Bukan hanya HP namun masyarakat llegung barat itu juga mulai mengenal teknologi informasi yang lainya seperti TV, setiap rumah yang ada di pinggiran pesisir itu hampir mayoritas sudah memiliki televisi mereka memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendapatkan informasi dari luar. Dengan adanya teknologi yang semakin maju ini tidak mengubah budaya dari masyarakat legung itu sendiri, mereka masih kekeh mempertahankan budaya mereka, meskipun dengan adanya televisi mereka bisa mendapatkan informasi atau iklan-iklan yang ada namun mereka masih tetap mempertahankan tradisi mereka dengan tidur atas pasir yang sudah mereka sediakan pada petak-petak kamar didalam rumah mereka masing-masing, meskipun iklan pada tayangan televisi memberikan informasi tentang tempat tidur yang nyaman dan aman. Bukan hanya pada masyarakat legung namun keadaan ini juga terdapat pada masyarakat legung barat dan juga dapenda. Masyarakat legung barat ataupun depande juga sama mereka masih menjaga budaya yang sudah ada sejak zaman dahulu.

5.    SISTEM MATA PENCAHARIAN

Warga batang sumenep yang biasa disebut dengan manusia pasir, mayoritas mata pencariannya dikenal sebagai nelayan dan sebagain lainnya pedagang dan bertani . Mata pencarian nelayan warga batang sumenep tingkat kompetisinya lebih tinggi dibandingkan pedagang dan bertani hal tersebut dibuktikan dengan tersedianya lapangan kerja yang  cukup banyak sebagai nelayan yang disebabkan oleh lingkungan yang dikelilingi lautan. 
Warga batang juga mengelola pembedayaan kelautan untuk mata pencariannya, diantara lainnya adalah:
1.    Budidaya laut
melihat dari kondisi lingkungan dan indikasi dari hasil tangkapan ikan karang yang cukup besar didesa lombang kecamatan batang batang mempunyai prospek untuk dikembangkan budidaya ikan karang.  Beberapa hal yang mendukung upaya pengembangan budidaya ikan karang di lautan lombang antara lain :
-    Mempunyai potensi wilayah yang cocokuntuk usaha budidaya ikan karang
-    Tingkat curah hujan rendah
-    Berada diantara pulau pulau yang tidak terjadi erosi dan mempunyai air yang stabil
2.    Sektor pariwisata bahari
Didesa lombang kecamatan batang batang sumenep memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai wisata bahari. Lokasi yang dapat dikembangkan sebagai wisata bahari tersebut terdapat dilautan lombang. Lautan lombang memiliki keindahan alam berupa pasir putih gading yang sangat lembut dan keindahan terumbu karang.

    Mata pencarian warga batang batang juga bercocok tanam pohon cemara udang, pohon cemara udang disana memiliki harga yang cukup mahal dan tinggi, cemara udang tersebut hanya terdapat dikota sumenep. 


6.    SISTEM RELIGI
Semua orang didaerah sana semua mayoritas orang islam .terdapat 4 orang yang menganut agama tionghoa itupun kata warga sudah ada yang pindah tidak diketaui jelas apa yang membuat mereka lebih memilih pergi meningalkan daerah tersebut .semua warga disana belum terkontaminasi dengan budaya asing .mereka selalu memberikan selametan untuk laut tetepi disini selametanya unik yaitu setiap desa perwakilan 15 orang .dan ada 3 desa masing masing 15 orang perdesa yang mengadakan selametan .selametan diadakan setiap tahun sekali yaitu dengan tumpang didoakan di  tepi sungai lalu diarak ke laut untuk persembahan.
Selain itu warga masyarakat rumah pasir juga mengadakan ritual jikalau ada keluarga yang membuat pasir untuk dijadikan kasur atau tempat tidur di pindahkan dengan meggunakan ritual yaitu berdoa bersama tradisi  itu sudah dilestarikan sejak nenek moyang atau turun temurun .
Sedangkan menurut pandangan islam pasir di pinggir pantai itu terdapat kotoran hewan yang bisa saja itu najis dan orang orang dipinggir pantai itu tidak mensucikan pasir tersebut. Sedangkna orang orang yang tidur dikasur pasir itu rata rata beragama islam dan melaksanakan sholat. Orang-orang yang menggunakan pasir tersebut hanya diayak sampai lembut dan tidak mensucikan pasir tersebut.
Masyarakat juga mengkhitan perempuan, warga setempat menjalankan khitan perempuan untuk menjalankan syariat agama islam dan sunah rosul yang sudah menjadi tradisi di tengah masyarakat pasir meski mereka banyak yang salah presepsi terhadap hukum menghkitan perempuan yang sesuia dengan syariat agama Islam. Namun mereka tetap melakukannya karena anggapan untuk mengislamkan si anak dan sudah menjadi tradisi masyarakat yang susah untuk di hapuskan meski banyak yang kontroversi yang timbul didalam maupun luar negeri.
Pernikahan  merupakan salah satu unsur kebudayaan yang berpengaruh dan cukup penting bagi masyarakat. Istilah pengantan tadhu secara garis besar berarti pengantin yang diusung menggunakan tadhu, sedangkan pengertian secara lengkap adalah adat pernikahan masyarakat legung kecamatan batang batang kabupaten sumenep yang setiap proses tahapan pelaksanaan mempelai wanita di usung menggunakan tadhu. Pernikahan dilakukan secara agama islam fungsinya sebagai alat mempertebal rasa solidaritas secara kolektif sebagai alat pndidikan sebagai alat peningkatan ekonomi sebagai pengesahan dan pelestarian kebudaayaan sebagai sarana rekreatif an sebagai upaya pelaksaanaan melaksanaakan keturunan. Makna simbolik yang terkandung dalam tradisi adalah menjunjun tingg nilai pernikaha serta kehormatan terhadap kaum waanita yang sudah bersuami .selain itu juga bermakna bahwa di tengah tengah arus globalisasi, mereka tetap konsisten dalam menjaga kebudayaan mereka. Begitu juga kehidupan gotong royong yang masih kental dan rasa keberamaan merupakan karakter khas dari masyarakat. Nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut berujung pada nilai moral sosial yang meliputi niai ketuhanan, menghormati orang lain, kegotong royongan, mempererat hubugan kekeluargaan, kerukunan begitu juga pada nilai moral individu yang meliputi tanggung jawab, permohonan restu, kemandirian, kesabaran, kepatuah dan rela berkorban.
Nilai agama berfungsi sebagai sumber moral bagi segenap kegiatan. Hakikat semua upaya manusia dalam lingkup kebudayaan haruslah ditujukan untuk meningkatkan martabat manusia. Sebab kalau tidak maka hal ini bukanlah proses pembudayaan melainkan dekadensi, keruntuhan peradaban. Dalam hal ini maka agama memberikan kompas dan tujuan : sebuah makna, semacam arti, yang membedakan seorang manusia dari ujud berjuta galaksi. Kemajuan pesat di bidang ilmu dan teknologi yang ternyata tidak memberikan kebahagiaan yang hakiki menyebabkan manusia berpaling kembali kepada nilai-nilai agama. Seperti juga seni dengan ilmu maka pun agama dengan ilmu saling melengkapi kalau ilmu bersifat nisbi dan pragmatis maka agama adalah mutlak dan abadi. Kiranya tak ada orang yang lebih tepat selain Albert Einstein untuk mengungkapkan hakikat ini dengan kata-kata, “ ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Dan ilmuan terkemuka ini pulailah yang lebih dari lima puluh tahun yang lalu terbata, “mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita?”

7.    KESENIAN
Seni adalah segala sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan dan mampu membangkitkan perasaan orang lain. Istilah seni berasal dari kata sanskerta darikata sani yang diartikan pemujaan, persembahan dan pelayanan yang erat dengan upacara keagamaan yang disebut kesenian. Menurut Padmapusphita dimana seni berasal dari bahasa Belanda genie dalam bahasa latin disebut dengan genius yang artinya kemampuan luar biasa dibawa sejak lahir. Sedangkan menurut Ilmu Eropa bahwa seni berasal dari kata art yang berarti artivisual yaitu suatu media yang melakukan kegiatan tertentu. Kesenian
Disini saya akan menjelaskan kesenian di daerah kampung pasir. Batang batang, sumenep. Disana terdapat banyak sekali buadaya dan kesenian yang bisa di ambil. Sebagai contoh ngejung, ketoprak dan tayub dll. Biasanya kesenian seperti ini diadakan beritngan dengan budaya yang ada. Tidak banyak imformasi yang saya dapat mengenai budaya di daerah tersebut. Tapi saya merasa budaya di daerah tersrbut asli dari nenek moyang pendahulu di daerah tersebut. Kesenian kesenian tadi diakan saat ada upacara upacara adat, dan tasyakuran. Jika mengakaji lebih dalam mengenai kesenian maka kita harus menyentuh kedalam sub sub seni tersebut. Disini saya tidak banyak mengabil sub kesenian di daerah batang batang tersebut. Mungki hanya tiga atau dua saja untuk dijadikan topik pembahasan kita.
Tari muang sankal
Tari muang sangkal adalah salah satu tarian asli Sumenep. Kini tarian tersebut menjadi ikon seni tari di Sumenep. Tari muang sangkal diciptakan oleh Taufikurrachman pada tahun 1972. tarian tersebut sejak diciptakan hingga sekarang sudah dikenal di luar Madura dan luar negeri. Tercetusnya tari muang sangkal dilatar belakangi banyak hal. Antara lain, kepedulian para seniman dalam menerjemahkan alam madura yang sarat karya dan keunikan. Juga mengangkat sejarah kehidupan kraton yang dulu pernah ada di Madura (Sumenep). Secara harfiah, muang sangkal terdiri dari 2 kata dari Bahasa Madura dengan makna yang berbeda. Muang mempunyai arti membuang dan sangkal bermakna petaka. Jadi, muang sangkal bisa diterjemahkan sebagai tarian untuk membuang petaka yang ada dalam diri seseorang. Sebenanya gerakan dalam tari muang sangkal tidak jauh berbeda dengan tarian pada umumnya. Namun, ada keunikan yang menjadi ciri khas tarian tersebut, antara lain: Penarinya harus ganjil, bisa satu, tiga lima atau tujuh dan seterusnya. Busana ala penganti legga dengan dodot khas Sumenep. Penarinya tidak sedang dalam datang bulan (menstruasi). Pada saat menari, para penari memegang sebuah cemong (mangkok kuningan) berisikan kembang aneka macam. Penari berjalan beriringan dengan gerakan tangan sambil menabur bunga yang ada dalam cemong itu serta diiringi gamelan khas kraton.
Macapat
Macapat merupakan sebuah istilah yang sangat asing bagi kalangan pemuda di jaman sekarang, sudah jarang sekali atau dapat dikatakan tidak ada kalangan pemuda yang mengetahui hal tersebut, padahal istilah ini sangatlah populer di era 90-an. Sekarang, macapat hanya sekedar dikenal oleh orang-orang tertentu saja, seperti orang-orang yang masih menjaga nilai budaya dan kesenian serta orang-orang yang masih hidup dari era 90-an sampai sekarang. Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Macapat di Madura lebih dikenal dengan istilah macopat yang mana pembacaan tembangnya lebih mengutamakan pada cengkok, karena memang tradisi ngejung lebih diperindah oleh cengkok pada sebuah syair atau kata-kata, dan hal ini masih banyak dilakukan oleh orang-orang Madura di bagian timur (Sumenep) khususnya daerah batang batang ini. Tapi, pada saat ini macapat hanya dilakukan di acara-acara tertentu saja, seperti pernikahan, tasyakkuran, atau perkumpulan-perkumpulan yang hanya dilakukan 1 bulan sekali, itupun hanya di daerah tertentu saja.
Tayub
Seni Tayub merupakan sejenis kesenian tradisional masyarakat Madura, khususnya di Sumenep, lebih khusus lagi pada masyarakat pedesaan,  yang sedang mengalami dinamika mengejutkan. Eksistensi seni tayub, yang terdiri dari kerawitan (najaga), sinden, tokang tandhang (penayub), dan satu juru gelandang, menjadi semacam tradisi masyarakat bawah yang tidak hanya sarat dengan nilai estetika, tetapi yang tidak kalah penting adalah etika.
Estetika seni tayub terletak pada visualitasnya, apa yang tampak dan bisa diamati serta dinikmati mata, bukan hanya audio dengan cukup mengandalkan suara yang bagus disaat ngejung. Sebab masyarakat lebih tertarik, dan lebih memerhatikan cara tangdhang para penayub, dari pada materi suara mereka. Hal ini wajar dan sah, jika ada beberapa penayub yang hanya bisa nangdhang, tapi tidak bisa ngejung, karena pasti ada salah satu personil kerawitan yang ditugaskan untuk ngejung, sesuai dengan gending yang dipesan penayub. Sehingga sang penayub hanya tinggal menciptakan gerakan-gerakan tertu, mengikuti irama gendang dan gong, tanpa harus nembang / ngejung.Sedangkan etika seni tayub meliputi sejumlah hal yang sangat kompleks; mulai dari busana, cara berjalan dan duduk, cara berbicara, merokok dan makan, bahkan sampai pada materi kejung (tidak boleh ada unsur SARA) dan cara memperlakukan sinden. Semua etika tersebut harus dimiliki oleh para penayub agar mampu meraih simpati dan empati dari masyarakat pengggemar, layaknya bintang sinetron di dunia telenovela.
Ketoprak
Kelompok Ketoprak Madura Rukun Karya merupakan salah satu kelompok yang sudah dikenal oleh masyarakat di sekitar Sumenep. Kelompok ini juga sudah pernah mementaskan beberapa lakon tentang bhabhat Songennep dan beberapa cerita sejarah kerajaan Jawa dan Madura. Kesempurnaan tata artistik panggung dan tata laku pemain, membuat kelompok Rukun Karya menjadi idola masyarakat, sehingga setiap pertunjukan yang dibawakan oleh komunitas ini sangat digemari oleh masyarakat Madura, bahkan sampai ke kota - kota mandalungan di daerah Jawa seperti Probolinggo, Situbondo, Jember, Bondowoso dan kota lainnya, Namun yang menjadi daya tarik adalah salah satu aktor sekaligus pimpinan komunitas ini, yaitu bapak Edy Suharun. Masyarakat sangat menggemari beliau dalam memerankan lawakan. Setiap ada pertunjukan Ketoprak Madura, masyarakat Sumenep khususnya selalu menunggu lawakan Edy Suharun. Komunitas Ketoprak Madura di Sumenep cukup banyak, namun yang sangat dikenal di kalangan masyarakat hanya kelompok Edy Suharun atau komunitas Ketoprak Madura Rukun Karya. Nama Edy Suharun merupakan julukan yang diberikan masyarakat kepada bapak Edy karena merupakan pewaris atau penerus dari bapak Suharun. Nama asli bapak Edy Suharun adalah bapak Edy Suhandi.
Istilah kata loddrok memiliki banyak tafsir bagi masyarakatnya. Mayoritas orang Jawa, begitu mendengar kata loddrok, pemahaman mereka adalah ludruk Jawa Timuran, dan pada masyarakat Madura saat mendengar kata ludruk pemahaman mereka pasti Loddrok Madura. Padahal pengucapan loddrok Madura adalah salah karena merupakan jenis ketoprak Madura. Ketoprak Madura sebagai salah satu kesenian tradisional, keberadaannya sangat terbatas dan termarjinalkan baik oleh masyarakat Sumenep maupun masyarakat luar.

KESIMPULAN

Budaya merupakan suatu hal yang harus dipertahankan karena itu merukan akar atau asal usul suatu masyarakat meskipun kadang kala masyarakat tersebut hanya mengetahui bahwa budaya itu turun temurun dari nenek moyang dan tidak tahu pasti bagaimana awalnya, disinilah kelemahan dari suatu budaya jika diturunkan melalui lisan tanpa ada suatu catatan historinya. Di dalam hal ini masyarakat pasir legung timur masih mempertahankan budaya mereka yaitu bergelut dengan pasir setiap hari tetapi masyarakat legung barat mulai menerima adanya teknologi meski tidak merata, dan utk masyarakat depende sendiri mereka masih mempertahankan budaya sekaligus teknologi mereka juga mengikuti di barengi dengan upaya cocok tanam cemara udang. 

DAFTAR PUSTAKA

Albert Einstein, “ Pesan kepada Mahasiswa California Institute of Technologhy”, Ilmu dalam Perspektif, ed. Jujun S. Sumantri ( Jakarta: Gramedia, 1978), hlm,284.
Ernst Cassirer, An Essay on Man ( New Heaven: Yale University Press, 1944 )
Aldous Huxley, “Words  and Their Meaning”, The Importance of  Language, ed. Max Black ( Englewood Cliffs, N.J.: Prentice Hall,1962),hlm.5.
George F. Kneller, Introduction to the Philosophy of Education (New York : John Wiley, 1964), hlm,28.
John G. Kemeny, A Philosopher Looks at Science ( New York: Van Nostrand,1959,hlm.5.
Jujun S. Sumantri, “Filsafat Ilmu”, Sebuah Pengantar Populer ( Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2009)

Komunikasi Lintas Budaya : Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan

Komunikasi Lintas Budaya : Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan
PENDAHULUAN

Desa Balun atau biasa disebut Desa Pancasila merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Desa ini sudah terbentuk sejak lama bahkan sebelum indonesia merdeka. Pada awalnya masyarakat di Desa Balun merupakan mayoritas beragama islam, namun hal ini menjadi berantakan ketika terjadi masa pergolakan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G-30SPKI). Pada masa itu masyarakat Desa Balun menjatuhkan korban paling banyak diantara seluruh wilayah jawa timur. Hari itu PKI sampai meninggalkan kurang lebih 17 orang di Desa Balun sehingga menimbulkan trauma berkepanjangan di benak masyarakat beragama disana. seiring berjalannya waktu masyarakat mulai mengenal kepercayaan beragama yang baru, saat itu agama yang disahkan Presiden Republik Indonesia ialah Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Masyarakat mulai menganut kepercayaan katolik dan hindu, lambat laun umatnya pun juga bertambah hingga sekarang. Keberagaman agama di satu desa menjadi sesuatu yang unik, tidak seperti perbedaan kepercayaan pada umumnya yang cenderung acuh dan tidak toleran kepada umat lain. Di Desa Balun Toleransi beragama sangatlah besar, bahkan bisa dibilang lebih besar dari ikatan sesama umat. Hal seperti ini menjadi wujud nyata bagaimana menerapkan asas-asas dalam pancasila, sehingga akhirnya Desa Balun hingga saat ini disebut sebagai Desa Pancasila.

PEMBAHASAN

A.Bahasa

    Tidak ada manusia tanpa Bahasa. Pengertian Bahasa itu sendiri menurut Markam (1991) adalah sarana komunikasi antar individu yang di ucapkan kepada individu lainnya.. Bahasa juga merupakan fitur lain yang umum pada setiap budaya, begitu pentingnya bahasa bagi setiap budaya, membuat HAVILAND dan rekannya, mengatkan “ tanpa kapasitas terhadap bahasa yang kompleks budaya manusia yang kita ketahui tidak akan ada”. Bahasa tidak hanya mengizinkan anggotanya untuk berbagi pikiran, perasaan dan informasi, tetapi juga merupakan metode utama dalam menyebarkan budaya. Baik bahasa inggris, cina maupun prancis, banyak kata, arti, tata bahasa, dan semuanya memberikan tanda identitas dalam memberikan budaya khusus.
Tepatnya di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan menggunakan  Bahasa jawa untuk berkomunikasi dalam sehari-hari, karena mereka semua bersal dari jawa tulen atau jawa asli bukan dari luar jawa. Tetapi perbedaan bahasa di sini pada saat mereka berdoa atau melakukan pemujaan terhadap apa yang mereka sembah. Seperti yang di katakana bapak sutrisno sebagai ketua gereja mengatakan bahwa masyarakat yang beragama KRISTEN, mereka melakukan komunikasi dengan tuhan nya menggunakan bahasa Indonesia ketika pagi hari dan bahasa jawa ketika sore hari. Sedangkan yang dikatakan oleh bapak Adiwiyona sebagai guru agama hindhu mengatakan bahwa masyarakat yang beragama HINDHU menggunakan bahasa sansekerta. Dan yang dikatakan oleh bapak rumitno selaku mudin menagatakan bahwa masyarakat desa balun yang beragama ISLAM menggunakan bahasa arab yang tertera dalam kitab al-qur’an. Begitu banyak bahasa atau kata yang berbeda maknanya. Seperti  Kata OGOOGO adalah sebutan masyarakat ketika sedang merayakan perayaan sebelum hari raya nyepi. OGOOGO berasal dari bahasa sansekerta. Sedangkan  Masyarakat yang beragama hindhu menyebut WIWAHA sebagai kata lain dari akad nikah dalam sebuah perkawinan. Adapun masyarakat yang beragama hindhu menyebut NAYAKA sebagai kata lain dari orang yang melaksanakan hajatan. Ada kata NGATURI adalah nama lain dari hajatan, biasanya masyarakat desa balun menyebutnya seperti itu yang di hadiri oleh berbagai masyarakat yang brbeda agama.Bahasa-bahasa itu semua telah di sebarkan terhadap masyarakat yang menganut agama berbeda-beda. pada awalnya masyarakat-masyarakat ada yang tidak mengenal dengan bahasa-bahasa seperti itu. Tetapi lama kelamaan mereka akan mengerti karena sudah terbiasa mendengar dengan bahasa seperti itu. Mereka akan mengerti ketika menjelaskan dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa jawa, karena bahasa kedua tersebut adalah bahasa yang sangat di kenali oleh banyak masyarakat, sedangkan bahasa-bahasa sansekerta tidak semua orang bisa memahami terhadap bahasa tersebut. Hanya sebagian orang seperti yang beragama Hindhu, karena mereka ketika berdoa atau menyembah tuhanya menggunakan bahasa sansekerta.

Masyarakat desa balun ini sangatlah memiliki toleransi yang kuat. Untuk itu ketika berbicara dengan orang yang berbeda agama mereka saling menghormati. Ketika satu dari yang lain ada yang tidak mengerti tentang bahasa yang mereka gunakan mereka akan dengan senang hati menjelaskan nya dengan menggunakan bahasa jawa atau bahsa indonesia. Itu semua yang membuat tanpa adanya konflik yang terjadi dalam masyarakat desa balun tersebut. Masyarakat di desa balun terbagi menjadi 2 bahasa, ada yang  berbahasa jawa HALUS dan ada juga yang KASAR. Sering biasanya bahasa yang kasar di gunakan oleh kalangan anak muda sesama dengan nya. Sedangkan bahasa yang halus di gunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Cara berbicara mereka sangatlah berciri khas Lamongan. Perbedaan agama tidaklah menjadikan perbedaan bahasa juga, karena mereka hanya berbeda bahasa ketika berdo’a atau menyembah saja. Tetapi pada saat berkomunikasi dengan sesame mereka tetap menggunakan bahasa yang sama, contoh seperti ketika meminta bantuan akan ada acara, orang yang beragama islam akan mengadakan sebuah acara dan ingin mengundang orang yang beragama Kristen, maka dia akan meminta bantuan kepada orang Kristen tersebut dengan bahasa yang sesame dan dengan cara yang baik. Orang Kristen tersebut tidak tau acara yang akan di buat oleh orang islam, pada awalnya orang Kristen tersebut hanya mengikuti acara tersebut, lama kelamaan dia akan tau acar-acara orang islam tersebut. Dan begitu sebalik nya. Mereka akan saling mengerti bahasa satu sama lain jika mereka saling memahami. Bahasa yang mereka gunakan akan menjadi bahasa bersama. Tidak akan ada perbedaan agama antara satu sama lain meskipun mereka berbeda agama. 

Daftar pustaka :
1.    Buku Komunikasi lintas budaya communication between cuttines oleh larry A. samovar/ Richard E. Porter/ Edwin R. Mc Daniel. Hal-31
2.    Markam, soemono, 1991. Hubunga fungsi otak dan kemampuan berbahasa pada orang dewasa.

B. Sistem Pengetahuan
 
    Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling keterkaitan secara teratur, sehingga membentuk susunan yang teratur dari semua pandangan, teori dan sebagainya. Sedangkan pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui atau kepandaian yang berkaitan dengan mata pelajaran. Jadi sistem pengetahuan adalah seperangkat unsur yang diketahui atau suatu kepandaian yang dimiliki dari pengalaman maupun melalui belajar.
    Penelitian tentang sistem pengetahuan yang terdapat didaerah Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Pada dasarnya memang sama dengan daerah – daerah lain pada umumnya. Ada tingkatan Paud, SD/MI, SMP/MTS, SMA ataupun Perguruan Tinggi. Akan tetapi di desa Balun sendiri terkenal akan tiga agamanya yang berbeda yaitu agama islam, agama hindu dan agama kristen juga rasa toleransi yang tinggi dari penganut agama masing – masing yang membuat perbedaan sedikit dari daerah – daerah lainnya.
    Yang sedikit unik di desa Balun adalah sekolah untuk tingkatan SD bisa berbaur menjadi satu, tidak ada perbedaan dalam kewajiban menuntut ilmu pengetahuan, semua sama tanpa dibeda – bedakan agama apa yang di anutnya. Akan tetapi ada hari khusus yang diberlakukan di SD 1 Balen yaitu pada setiap hari sabtu yang diberlakukan untuk pelajaran agama. Ada agama islam, agama Kristen dan agama hindu yang dipisah sesuai agama masing – masing murid dari kelas satu hingga kelas enam, yang masing – masing agama diajarkan oleh pengampu yang berbeda yang sesuai dengan agamanya. Selain pelajaran agama murid – murid tersebut belajar dengan sistem pembelajaran sama dengan sekolah – sekolah lain.
    Tetapi untuk penganut agama hindu ada semacam kursus yang diajar oleh bapak Adi Wiyono selaku sekretaris organisasi agama hindu Kabupaten Lamongan yang juga guru agama hindu. Yang beliau mengadakan semacam kursus dihari minggu atau yang biasa disebut sekolah mingguan, yang diadakan dipura desa Balun. Kursus ini tidak terbatas usia, yang biasanya diikuti semua siswa dari SD, SMP, dan SMA, yang belajar tentang bahasa hindu sendiri.
    Untuk agama islam di Desa Balun sendiri juga diadakan pelajaran agama tambahan yang dilakukan dimasjid desa Balun. Yang dilakukan setiap sore hari setelah waktu ashar yang biasa disebut TPQ. Yang ikut dalam belajar agama biasanya terdiri dari remaja – remaja masjid baik laki – laki maupun perempuan.
    Sekilas memang tidak ada perbedaan yang signifikan bila dibandingkan dengan daerah – daerah lain pada umumnya. Karena memang setiap warga Negara Indonesia memiliki hak yang sama dalam menuntut ilmu. Karena memang hal tersebut juga di perkuat dengan rasa toleransi beragama yang sangat tinggi dimasyarakat Desa Balun sendiri. Sehingga tidak ada rasa saling membeda – bedakan dari agama mana mereka berasal. Karena memang seharusnya tidak ada batasan antara agama mana untuk menuntut ilmu setinggi – tingginya. Dengan adanya sikap toleransi tersebut, diharapkan nantinya akan bisa menimbulkan efek timbal balik yang baik antara satu dengan yang lainya.

NO    Tingkat Pendidikan                       Jumlah
1.    Belum Sekolah                                 158 Jiwa
2.    Tidak Tamat Sekolah                        216 Jiwa
3.    Tamat SD / Sederajat                     2.926 Jiwa
4.    Tamat SLTP / Sederajat                    723 Jiwa
5.    Tamat SLTA / Sederajat                    518 Jiwa
6.    Sarjana Muda                                      43 Jiwa
7.    Sarjana                                               135 Jiwa
8.    Pasca Sarjana                                         2 Jiwa

    Berikut adalah deskriptif tentang sistem pengetahuan di desa Balun, Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan, yang kami teliti. Pendidikan memang merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Adapun tujuan umum dari pendidikan adalah membuat anak untuk berfikir lebih dewasa, dan mengetahui baik dan buruk suatu perbuatan. Karena pendidikan adalah salah satu aspek utama yang sangatpenting untuk pembangunan bangsa, dengan adanya sumber daya manusia yang tinggi mka akan menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa.
    Pendidikan harus dimualai dari titik nol yang dijarkan secara bertahap sesuai porsi tingkat umur masing – masing. Agar semuanya berjalan dengan runtut dan teratur, yang nantinya akan menjadi suatu sisitem yang kokoh.
    Adapun ciri – ciri suatu sistem yang baik menurut buku akta mengajar V Depdikbud,1984) yang meliputi :
a.    Adanya tujuan
b.    Adanya fungsi untuk mencapai tujuan
c.    Ada bagian komponen yang melaksanakan fungsi – fungsi tersebut
d.    Adanya interaksi antara komponen satu saling hubungan
e.    Adanya penggabungan yang menimbulkan jalinan keterpaduan
f.    Adanya proses transformasi
g.    Adanya proses umpan balik untuk perbaikan
h.    Adanya daerah batasan dan lingkungan
Seperti di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Untuk mencapai sistem pendidikan yang baik, perlu adanya urutan – urutan yang jelas antara satu dengan lainya. Agar nantinya terjadi sebuah timbal balik yang sesuai antara tenaga pengajar dan murid sebagai penerima ilmu pengetahuan. Sehingga nantinya akan tercipta sebuah sistem yang solid untuk melakukan pembangunan secara berkelanjutan.

C.  Sistem Masyarakat dan Organisasional
 
Masyarakat terdiri atas sekelompok yang menempati daerah tertentu. Menunjukkan integrasi berdasarkan pengalaman bersama berdasarkan kebudayaan, memiliki jumlah lembaga  yang melayani kepentingan bersama, mempunyai kesadaran akan kesatuan tempat tinggal dan bila perlu dapat bertindak bersama.
Abdulsyani (1994) mengatakan sistem adalah himpunan dari bagian-bagian yang saling berkaitan, masing masing bagian bekerja sendiri dan bersama-sama saling mendukung, semuanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan bersama , dan terjadi pada lingkungan yang kompleks. Untuk menelah hubungan antar manusia dalam kehidupan bermasyarakat maka istilah yang digunakan adalah sistem sosial. Hal ini sejalan dengan dilakukan Jhonson (1986) sistem sosial hanya salah satu dari sistem-sistemyang termasuk dalam kenyataan sosial. Sistem-sistem sosial tersebutmerupakan bentukan dari tindakan-tindakansosial individu.
Fungsi dari sisitem sosial masyarakat merupakan sistem sosial pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk mencapai stabilitas. Karena sistem sosial menurut Nasikun (1993) memang sering kali mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan-perubahan yang datang dari luar, baik dengan cara tetap memelihara status dengan cara melakukan bersifat reaksioner.
Sistem nilai dalam masyarakat. Tiap masyarakat memiliki sistem nilainya sendiri yang coraknya berbeda dengan masyarakat lain. Dalam sistem nilai senantiasa terjalin nilai-nilai kebudayaan nasional dengan nilai-nilai yang unik. Dalam nilai-nilai itu terdapat jenjang prioritas, ada nilai yang dianggap lebih tinggi dari pada yang lain yang dapat berbeda menurut pendirian individual.
Dalam masyarakat kota yang mempunyai universitas dan penduduk yang intelektual sikap orang lebih liberal, lebih terbuka bagi modernitas dan pendirian atau bentuk kelakuan yang baru, mulai pakaian dan pergaulan. Sebaliknya dalam masyarakat pedesaan yang mempunyai tradisi yang kuat dan sangat taat pada agama, sikap dan prilaku orang lebih homogen. Penyimpangan yang tidak lazim akan segera mendapat kecaman dan kelakuan setiap orang diawasi dan diatur oleh orang sekitarnya. Dalam kedua masyarakat tersebut anak dididik dengan cara yang berbeda-beda pula, walaupun kedua masyarakat itu berbeda-beda, namun ada pula persamaan yakni mereka semua sama mempunyai kebudayaan nasional yang sama.
Di desa pancasila ini memiliki keragaman masyarakat dan organisasional. Dimana Desa  Balun atau Desa Pancasila ini memiliki keragaman dalam segi religi, dikarenakan didalamnya mempunyai keragaman Agama, yakni Agama Islam, Agama Hindu dan Agama Kristen, dan disetiap agama memiliki sistem organisasional yang berbeda dan fungsi organisasional yang berbeda. Dengan masyarakat yang memiliki prinsip “keluarga, teman dan sahabat”mereka percaya bahwa hidup itu saling ketergantungan dan saling membantu satu sama lain. Sehingga ketika mereka berkumpul masyarakat balun tidak terlihat mana yang beragama Isla, mana yang beragama Kristen dan juga yang beragama Hindu. Sebagai contoh ketika mereka melaksanakan kegiatan syukuran “bancaan” maka mereka duduk bersama tanpa memandang agama apa yang dianutnya dan mereka memakai pakaian satu yakni songkok dan sarung, sehingga hal-hal yang membedakan agama tidak terlihat. Salah satu toleransi yang digunakan salah satunya ketika mereka mengadakan hari-hari besar yang dilaksanakan setiap agama, semisal Agama Islam ketika Halal Bihalal, Agama Kristen ketika Natal dan Agama Hindu ketika perayaan  nyepi “ogoh-ogoh”. Mereka saling membantu semisal ketika Islam mengadakan Halal Bihalal maka pemuda gereja dan pemuda hindu ikut berpartisipasi untuk bidang keamanan dan juga ketertiban. Ketika sedang ada warga yang meninggal maka semua warga perempuan guyub rukun untuk memasak bersama dan saling membantu.
Sistem  Masyarakat Atau Organisasional di Desa Balun
a.    Agama Islam
Ketika proses  interview dengan Bapak Sumitro beliau selaku Modin dan juga Kesmas Desa Balun. Dimana beliau mengatakan bahwa organisasi yang ada di agama Islam adalah : Remaja masjid Pa/Pi dengan agenda kegiatan Shalawat setiap malam Jumat, Mengaji di TPQ untuk pemuda yang belum bisa dan belum lancar membaca Al-quran setiap ba’da magrib di Kantor Remaja Masjid sebelah Masjid baik mengaji Kitab dan Al-quran. Dan anggota Jama’ah Tahlil untuk Bapak-Bapak yang dilaksanakan rutin Jumat malam sabtu dan malam Minggu dilaksanakan Pengajian rutin, dan untuk Ibu-Ibu Muslimat Fatayat kegiatannya setiap malam Rabu untuk membaca yasin,Tahlil dan Istigosah. Meski dengan agama yang beragam namun acara seperti Tabligh Akbar hari besar tetap dilaksanakan dan juga acara rutinan yakni Halal Bihalal yang disitu melibatkan seluruh warga baik beragama Islam,Hindu dan Kristen, namun yang beragama selain Islam berpartisipasi dalam bidang keamanan.
b.    Agama Kristen
Proses Interview kepada narasumber Bapak Sutrisno selaku Ketua Gereja di desa Balun dan juga Guru di SMA N 1 Lamongan. Dimana organisasi yang ada di Agama Kristen yaitu Pemuda Gereja dimana kegiatannya dibagi menjadi 2 yakni acara khusus dan umum, acara yang bersifat khusus adalah Ibadah Pemuda dilayani Pemuda gereja itu sendiri, Persekutuan Doa untuk Pemuda juga dilayani atau dibimbing Pemuda Gereja, Pemahaman Alkitab dilayani Orang-orang  kusus seperti Pendeta, dan Latihan Pujian untuk setiap minggu ditampilkan pujian di Ibadah Minggu. Dan yang bersifat umum setiap sore ketika nganggur digunakan untuk bermain ke gereja sekedar bermain Badminton, mengadakan peringatan Hari Sumpah Pemuda dimana acara ini melibatkan  Remaja Islam dan Remaja Hindu untuk berkolaborasi dengan Pemuda Gereja dengan menampilkan musik dengan aliran masing-masing.
c.    Agama Hindu
Dengan Bapak Adi Wiyono selaku Sekertaris Parisada Kabupaten dan Guru Agama Hindu. Organisasi yang ada di agama Hindu yakni Parisada dengan kegiatan Kliwonan, Purnama Sidi, Tilem, Galungan, Kuningan, Saraswati dan Sirawati dan Nyepi. Dimana ketika Kegiatan Ogoh-Ogoh itu kegiatan yang dinanti-nanti oleh masyarakat dan disitu peran masyarakat terutama Remas dan Pemuda Gereja sebagai keamanan dan yang mengiring Ogoh-Ogoh. Dimana Pemuda Hindu ini bernama Taruna Swetadarma dimana kegiatannya secara umum kereeligian dan Taruna Swetadarma ini berkumpul ketika pada saat sebelum hari H seperti membentuk atau membuat Benjor dan macam macam untuk kegiatan Galungan, dan Latihan gamelan bali di hari hari seperti Ogoh-Ogoh dan Ogalan.

Daftar pustaka: 
1.    Vagee,Karel J.1992. pengantar Sosiologi. Hal-142
2.    Koentjaraningrat.1990. pengantar ilmu antropologi sosial hal-65
3.    Nasution,S. 2011, sosiologi pendidikan, hal 148-153

D. Sistem Teknologi
 
Perkembangan teknologi informasi pada saat ini mempermudah penyebaran informasi ke berbagai wilayah, bahkan informasi menyebar dengan cepat sampai ke semua belahan dunia. Informasi terkini yang terjadi di suatu wilayah dapat diperoleh dengan mudahnya, sehingga keberadaan teknologi informasi saat ini telah membantu proses kehidupan manusia dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.
Kata teknologi secara harfiah berasal dari bahasa latin’’texere’’yang berarti menyusun atau membangun. Sehingga istilah teknologi seharusnya tidak terbatas pada penggunaan mesin, meskipun dalam arti sempit hal tersebut sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Roger (1983) teknologi adalah suatu rancangan (desain) untuk alat bantu tindakan yang mengurangi ketidakpastian dalam hubungan sebab akibat dalam mencapai suatu hal yang diinginkan. Jacques Ellul (1967) mengartikan teknologi sebagai keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia.
Menurut Iskandar Alisyahbana (1980) Teknologi telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalu karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Jadi sejak awal peradaban sebenarnya telah ada teknologi, meskipun istilah “teknologi” belum digunakan. Istilah “teknologi” berasal dari “techne “ atau cara dan “logos” atau pengetahuan. Jadi secara harfiah teknologi dapat diartikan pengetahuan tentang cara. Pengertian teknologi sendiri menurutnya adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan akal dan alat, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindra dan otak manusia
Desa Balun adalah sebuah desa yang masyarakatnya memiliki keberagaman dalam agama. Di desa ini terdapat 3 agama berbeda yakni Islam, Kristen, dan Hindu. Di desa Balun ini masyarakatnya sangat memegang teguh toleransi, hal itu jelas bisa dilihat dengan tempat ibadah yang lokasinya sangat berdedekatan, bahkan berdampingan. Masjid dan pura lokasinya berdampingan, sedangkan gereja berlokasi hanya sekitar 10 meter dari masjid dan pura. Selain itu masyarakat Balun juga saling bantu membantu dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya apabila saat acara Nyepi, maka tidak hanya warga Hindu, namun Islam dan Kristen pun juga disibukkan untuk mempersiapkan acara tersebut, begitu juga sebaliknya, jika warga yang beragama Kristen dan Islam tengah ada acara-acara penting maka warga Hindu tidak segan-segan untuk membantu.
Sistem Teknologi Masyarakat Balun
Sistem pemanfaatan teknologi masyarakat Balun tidak jauh berbeda dengan kebanyakan masyarakat di Indonesia, teknologi digunakan sebagai sarana penyampaian informasi, baik itu informasi yang bersifat menyeluruh maupun yang bersifat lebih internal / ruang lingkup agama. Namun begitu menurut Bapak Adi Wiyono selaku sekretaris parisada dan guru agama Hindu di salah satu sekolah disana mengatakan memang tidak semua warga desa Balun bisa memanfaatkan teknologi, hanya sebagian saja terutama kalangan remaja. Misalkan dalam acara beberapa waktu yang lalu saat umat Hindu mengadakan acara Ogoh-Ogoh, kalangan remaja di desa balun beramai ramai menyampaikan informasi tentang waktu dan tempat pengarakan Ogoh-ogoh tersebut lewat broadcast bbm ataupun grup WhatsApp, sedangkan masyarakat yang tidak mengerti akan teknologi terutama yang sudah lanjut usia hanya menyampaikan dari mulut ke mulut saja. Penyampaian informasi juga bisa disampaikan melalui banner-banner ataupun baliho yang dipasang dipinggir jalan. Sedangkan Bapak Sutrisno selaku ketua Gereja di desa Balun dan juga guru di SMAN 1 Lamongan dan Bapak Sumitro selaku modin dan juga Kesmas desa Balun keduanya membenarkan bahwa setiap remaja di desa Balun memiliki cara tersendiri dalam berkomunikasi dan dalam pemanfaatan teknologi, mereka mengatakan bahwa remaja disana menggunakan grup Whatsapp sebagai sarana berkomunikasi, jadi setiap remaja yang beragama Islam memiliki grup sendiri, begitu juga yang beragama Kristen, jadi itu memudahkan mereka untuk saling bertukar informasi.

Sumber: 
Asmani, Jamal Ma’mur. 2010. Tips Efektif Pemanfaatan Teknologi Informasi dan                                                             Komunikasi dalam Dunia Pendidikan. Jogjakarta : Diva Press
Jurnal Pemanfaatan Teknologi Informasi, Unair, Elisa Dwi Ananda


E. Mata Pencaharian
 
    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mata pencaharian diartikan sebagai suatu pekerjaan atau pencaharian utama (yang dikerjakan untuk biaya sehari-hari). Dari definisi tersebut dapat dijabarkan sebagai seseorang yang bekerja dan merupakan pokok dari suatu pekerjaan itu sendiri. Jika kita kaitkan pekerjaan seseorang dalam sebuah wilayah maka akan kita dapatkan pemetaan tentang mayoritas atau rata-rata mata pencaharian masyarakat di wilayah tersebut.
    Penelitian kali ini kita lakukan di daerah Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, dengan sample warga desa terebut. Kategori mata pencaharian pun cukup beragam dari tiap-tiap masing anggota keluarga. Hal ini dapat kita lihat dari kualitas pendidikan dari masing-masing anggota keluarga tersebut. Dari sini kita dapat melihat kategori mata pencaharian sebagai berikut :
No    Pekerjaan                          Jumlah
1    Petani                                  1.451 jiwa
2    Dagang                                     91 jiwa
3    Buruh Tani/Bangunan            428 jiwa
4    Pegawai Negeri                        42 jiwa
5    TNI/POLROI                           27 jiwa
6    Pensiunan                                 10 jiwa
7    Lain-lain                              2.672 jiwa

    Dengan sample di atas kita dapat mengetahui mayoritas penduduk dengan mata pencaharian yang ada pada daerah tersebut. Dapat disimpulkan bahwa mayoritas mata pencaharian warga Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan bekerja sebagai petani, dan berbagai kategori mata pencaharian lainnya yang tertera pada table.
    Pemetaan mata pencaharian tersebut didasarkan pada tingkat pendidikan dalam anggota keluarga, sehingga daerah ini dapat dikategorikan sebagai masyarakat dengan tingkat pendidikan menengah atau dalam jenjang SMA. Dari sana muncul berbagai kategori mata pencaharian dengan spesifik penggaruh pendidikan dalam sebuah mata pencaharian. Dari sini kita mudah mendapatkan pemetaan mata pencaharian yang lebih dominan yaitu sebagai petani.
    Menurut Ireland (2004), mata pencaharian alternatif dapat diartikan sebagai mata pencaharian diluar kegiatan ekonomi tradisional atau kegiatan ekonomi yang telah umum dilakukan sebelumnya oleh penduduk di suatu wilayah. Dari penjelasan oleh salah satu perangkat desa di daerah tersebut banyak masyarakat yang bekerja selain pekerjaan pokoknya, salah satunya adalah menjadi kuli panggul di pasar perkotaan. Pekerjaan ini biasanya banyak dikerjakan oleh pemuda setempat untuk menambah penghasilan meskipun dari keberagaman agama atau budaya, pada dasarnya mereka bekerja untuk keluarga.
    Keberagaman agama disini bukan menentukan orang itu harus bermata pencaharian apa tapi baigamana keberagaman itu menjadi satu bagian yang dapat menyeluruh dari setiap anggota masing-masing agama tanpa adanya penggolongan dalam keberagaman tersebut. Semua keberagaman agama berjalan sama dengan kondisi lingkungan, dan disitulah keberagaman menjadi sebuah harapan bersama.
    Mata pencaharian menjadi pokok utama dalam kehidupan, kesejahteraan masyarakat merupakan prioritas sendiri dari keberagaman di Desa Balun ini sendiri. Mereka memandang ketika kita merasakan kesejahteraan dari apa yang kita hasilkan maka hasil itu kita juga berikan terhadap orang yang membutuhkan, sehingga kesejahteraan diproritaskan bersama meskipun dari latar mata pencaharian yang berbeda-beda.
    Dalam penyelengaraan kesejahteraan di Pemerintah Desa sendiri terbilang sudah baik, terutama dengan adanya bantuan dari pemerintah yang memberikan bantuan beras kaskin bagi masyarakat yang kurang mampu, ini dilaksanakan sesuai dengan sasaran pada masyarakat yang kurang mampu. Pemberian bantuan perdagangan bagi usaha ekonomi lemah yang berupa peralatan dan modal serta pemberian kartu kesehatan untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Semua ini bisa tersalurkan sesuai dengan sasaran yakni pada masyarakat yang kurang mampu atau masyarakat miskin. “dikutip dari data Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan.

Sumber : Bappenas. 1994. Kaji Tindak Program IDT 1994-1997. Jakarta: Bappenas.

F. Sistem Religi
         
Kebudayaan tampil sebagai perantara yang secara terus menerus dipelihara oleh para pembentuknya dan generasi selanjutnya yang diwarisi kebudayaan tersebut. Kebudayaan yang demikian selanjutnya dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada dataran empiriknya atau agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala di masyarakat. Hal pokok bagi semua agama adalah bahwa agama berfungsi sebagai alat pengatur dan sekaligus membudayakannya dalam arti mengungkapkan apa yang ia percaya dalam bentuk-bentuk budaya yaitu dalam bentuk etis, seni bangunan, struktur masyarakat, adat istiadat dan lain-lain. Jadi ada pluraisme budaya berdasarkan kriteria agama. Hal ini terjadi karena manusia sebagai homoreligiosus merupakan insan yang berbudidaya dan dapat berkreasi dalam kebebasan menciptakan berbagai objek realitas dan tata nilai baru berdasarkan inspirasi agama.
        Dalam pandangan sosiologis, perhatian utama terhadap agama adalah terletak pada fungsinya dalam masyarakat. Konsep fungsi seperti kita ketahui, menunjuk pada sumbangan atau kontribusi yang diberikan agama, atau lembaga sosial yang lain, untuk mempertahankan keutuhan masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan berlangsung secara terus-menerus. Menurut Emile Durkheim sebagai sosiologi besar telah memberikan gambaran tentang fungsi agama dalam masyarakat. Dia berkesimpulan bahwa sarana-sarana keagamaan adalah lambang-lambang masyarakat, kesakralan bersumber pada kekuatan yang dinyatakan berlaku oleh masyarakat secara keseluruhan bagi setiap anggotanya, dan fungsinya adalah mempertahankan dan memperkuat rasa solidaritas dan kewajiban sosial.
         Agama bukanlah suatu entitas independen yang berdiri sendiri. Tetapi agama terdiri dari berbagai dimensi yang merupakan satu kesatuan. Masing - masingnya tidak dapat berdiri tanpa yang lain. seorang ilmuwan barat menguraikan agama ke dalam lima dimensi komitmen. Seseorang kemudian dapat diklasifikasikan menjadi seorang penganut agama tertentu dengan adanya perilaku dan keyakinan yang merupakan wujud komitmennya. Ketidak- utuhan seseorang dalam menjalankan lima dimensi komitmen ini menjadikannya religiusitasnya tidak dapat diakui secara utuh. Kelimanya terdiri dari perbuatan, perkataan, keyakinan, dan sikap yang melambangkan (lambing atau simbol) kepatuhan (komitmen) pada ajaran agama. Agama mengajarkan tentang apa yang benar dan yang salah, serta apa yang baik dan yang buruk. Setiap umat atau kelompok yang benar- benar hidup sesuai dengan amanah agamanya masing - masing. Oleh karena itu, maka dengan sendirinya akan terwujud kerukunan, persaudaraan, kedamaian dan kenyamanan dalam kehidupan bermayarakat. Karena agama telah mengajarkan kebenaran dan kebaikan dan menjauhkan dari segala keburukan, pertikaian, diskriminasi dan lain sebagainya, Hidup beragama tampak pada sikap dan cara perwujudan sikap hidup beragama.
Ada teori dari sistem religi yaitu :

1.    Teori Jiwa
     “Teori Jiwa”, pada mulanya berasal dari seorang sarjana antropologi Inggris, E.B.Tylor, dan diajukan dalam kitabnya yang terkenal berjudul Primitive Cultures (1873). Menurut Tylor, asal mula agama adalah kesadaran manusia akan faham jiwa. Kesadaran akan faham itu disebabkan karena dua hal, ialah : 
a. Perbedaan yang tampak kepada manusia antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati. Suatu makhluk pada suatu saat bergerak-gerak, artinya hidup; tetapi tak lama kemudian makhluk tadi tak bergerak lagi, artinya mati.
b. Peristiwa mimpi. Dalam mimpinya manusia melihat dirinya di tempat tempat lain daripada tempat tidurnya. Demikian manusia mulai membedakan antara tubuh jasmaninya yang ada di tempat tidur, dan  suatu bagian lain dari dirinya yang pergi ke lain tempat. Bagian lain itulah yang disebut jiwa.


2.    Teori Batas Akal Teori Batas
      Akal”, berasal dari sarjana besar J.G. Frazer, dan diuraikan olehnya dalam jilid I dari bukunya yang terdiri dari 12 jilid berjudul The Golden Bough (1890). Menurut Frazer, manusia memecahkan soal-soal hidupnya dengan akal dan sistem pengetahuannya; tetapi akal dan sistem pengetahuan itu ada batasnya. Makin maju kebudayaan manusia, makin luas batas akal itu; tetapi dalam banyak kebudayaan, batas akal manusia masih amat sempit. Agama waktu itu belum ada dalam kebudayaan manusia. Lambat laun terbukti bahwa banyak dari perbuatan magicnya itu tidak ada hasilnya juga, maka mulailah ia percaya bahwa alam itu didiami oleh mahluk-mahluk halus yang lebih berkuasa.

3.    Teori Krisis dalam Hidup Individu
       Pandangan ini berasal antara lain dari sarjana-sarjana seperti M. Crawley dalam bukunya Tree of Life (1905), dan diuraikan secara luas oleh A. Van Gennep dalam bukunya yang terkenal, Rites de Passages (1909). Menurut sarjana-sarjana tersebut, dalam jangka waktu hidupnya manusia mengalami banyak krisis yang menjadi obyek perhatiannya, dan yang sering amat menakutinya. Betapapun bahagianya hidup orang, ia selalu harus ingat akan kemungkinan-kemungkinan timbulnya krisis dalam hidupnya.

4.    Teori Sentimen Kemasyarakatan
       “Teori Sentimen Kemasyarakatan”, berasal dari seorang sarjana ilmu filsafat dan sosiologi bangsa Perancis bernama E. Durkheim, dan diuraikan olehnya dalam bukunya Les Formes Elementaires de la Vie Religieuse (1912). Durkheim yang juga menjadi amat terkenal dalam kalangan ilmu antropologi budaya, pada pangkalnya mempunyai suatu terhadap Tylor, serupa dengan celaan Marett tersebut di atas. Beliau beranggapan bahwa alam pikiran manusia pada masa permulaan perkembangan kebudayaannya itu belum dapat menyadari suatu faham abstrak “jiwa”, sebagai suatu substansi yang berbeda dari jasmani. Kemudian Durkheim juga berpendirian bahwa manusia pada masa itu belum dapat menyadari faham abstrak yang lain seperti perubahan dari jiwa menjadi ruh apabila jiwa itu telah terlepas dari jasmani yang mati.
Desa balun merupakan desa yang terkenal dengan sebutan desa pancasila tersebut memang suatu desa yang rukun meski didalamnya terdapat beberapa agama, yaitu Isalam, Kristen, hindu, dan hindu. Namun meskipun dalam satu desa balun tersebut ada beberapa agama yang terdapat didalamnya mereka tidak pernah bermusuhan antar warga satu dengan yang lainnya. Menurut salah satu  pemuka agama yang ada di sana orang orang yang ada di desa balun tersebut mempunyai prisip, yaitu “Urusanku urusanku – urusanmu urusanmu”. Bukan hanya itu saja, dalam satu rumah ada tiga atau dua agama. Namun mereka tidak pernah bercekcok atau bermusuhan satu dengan yang lainnya.
Ada beberapa faktor yang dapat mendorong terciptanya harmoni diantara warga desa balun menurut (Muchtar, 2003: 225), yaitu:
1.    Adanya pola hidup kekerabatan.
2.    Adanya kelompok umat akar rumput/paguyuban.
3.    Adanya lembaga-lembaga swadaya masyarakat.
4.    Nilai-nilai luhur yang dihayati oleh masyarakat.
5.    Adanya kerukunan hidup antar umat ber- agama.
6.    Adanya tokoh agama dan tokoh masyarakat yang berpe- ngaruh.
Dalam bukunya Geertz mencefinisikan agama sebagai:
1.    Sebuah sistem-sistem simbol yang berlaku untuk.
2.    Menetapkan suasana hati dan motivasi-motivasi yang kuat, yang meresapi, dan yang tahan lama dalam diri manusia dengan.
3.    Merumuskan konsep-konsep mengenai suatu tatanan umum eksistensi.
4.    Membungkus kon- sep-konsep ini dengan semacam pancaran faktualitas.
5.    Suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak khas realistis.
Sebagaimana dipahami, harmoni adalah kondisi hubungan waga yang intim walaupun terdapat perbedaan – perbedaan. Sebuah kehidupan sosial diumpamakan dalam perspektif Emile Durkheim (1858-1917). Akan terbangun karena adanya solidaritas sosial yang merupakan suatu keadaan hubungan antara individu/kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaaan yang dianut bersam dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Solidaritas berdasarkan hasilnya menurut Durkheim, dapat dibedakan antara solidaritas positif dan solidaritas negatif. Solidaritas negatif tidak me- nghasilkan integrasi apapun, dan dengan demikian tidak memiliki kekhusu- san, sedangkan solidaritas positif dapat dibedakan berdasarkan ciri-ciri :
1.    Yang satu mengikat individu pada masyarakat secara langsung, tanpa perantara.
2.    Suatu sistem Mohammad Isfironi, Proyek Identitas Kultur Kerukunan 249 fungsi-fungsi yang berbeda dan khusus, yang menyatukan hubungan-hubu- ngan yang tetap, walaupun sebenarnya kedua masyarakat tersebut hanyalah satu saja.
3.    Dari perbedaan yang kedua itu muncul perbedaan yang ketiga, yang akan memberi ciri dan nama kepada kedua soli- daritas itu.

G. Kesenian

    Secara umum pengertian yang dikandung dalam kata seni atau kesenian berasal dari art yang mempunyai arti yang luas, diantaranya adalah suatu hasil kegiatan manusia yang indah secara indivu atau kelompok, berkualitas tinggi dalam konsep dan pembuatannya dalam menghasilkan sesuatu yang indah, sesuatu yang benilai estesis, suatu ketrampilan khusus dalam penampilan.
    Obyek kesenian yang ada dalam keberagaman agama di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan ini diantaranya terdiri dari tiga agama yang berbeda salah satunya agama islam, Kristen dan hindu. Dilihat dari segi kesenian memilikin karakteristik dan jenis-jenis yang berdeda antara satu dengan agama lain. Mengingat agama memiliki ciri khas tersendiri dalam memberikan kesenian terhadap budaya masyarakat yang tentunya bertujuan untuk umatnya sendiri.
    Jenis kesenian yang di pakai sendiri memiliki berbagai cara dan alat yang membedakan agama satu dengan yang lainnya, lain halnya saja agama islam di Desa Balun sendiri memiliki kesenian berupa musik hadrah, yang dimana dimaksudkan sebagai proses penyampain pesan atau dakwah. Biasanya musik hadrah ini dimainkan ketika ada acara besar Islam dan dalam kegiatan pernikahan. Dari agama Kristen sendiri memiliki kesenian tersendiri untuk digunakan sebagai media dakwah, salah satunya adalah paduan suara gereja, yang dimana dilakukan ketika proses beribadah pada umat Kristen. Paduan suara ini sendiri sangat sering di dengar ketika beribadah maupun acara-acara besar umat nasrani. Lain halnya lagi agama Hindu dengan kesenian gamelan bali. Gamelan bali ini sendiri biasa dimainkan ketika ada hari-hari besar dalam kalender agama hindu. Dengan kata lain setiap agama memiliki cara ataupun alat yang berbeda dalam kesenian, yang bertujuan sebagai bahan untuk berdakwah.
    Seni sebagai kesatuan integral terdiri dari empat komponen esensial, yaitu karya seni (wujud benda, visualisasi), kerja cipta seni (proses penciptaan, teknis), cipta seni (pandangan, konsep, gagasan, wawasan), dasar tujuan seni (estetis, logis, etis, manfaat, ibadah). Keempat komponen tersebut berkesesuaian dengan kategori-kategori integralis seperti materi, energi, informasi, dan nilai-nilai. Dengan demikian pada hakikatnya seni adalah dialog intersubjektif dan kosubjektif yang mewujud dalam keempat komponen seni. Menurut wawasan islam, intersubjektif dapat bermakna hablumminallah dan kosubjektif bermakna habluminannaas yang mencerminkan adanya hubungan vertikal dan hubungan horizontal.

The Liang Gie berpendapat bahwa seni mengandung beberapa nilai, mencakup nilai keindahan, nilai pengetahuan, dan nilai kehidupan. Begitu juga dengan kesenian yang berkembang di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Karena didaerah tersebut terdapat berbagai agama yang antara lain islam, Kristen, dan hindu. Maka dari itu dengan adanya bebrapa macam agama pastilah akan menimbulkan beberapa kesenian khas atau kesenian yang identic dengan agama – agama tersebut.
Yang tentunya dari berbagai macam kesenian yang bernuansa agamis tersebut akan mengandung suatu nilai keindahan yang nantinya akan menimbulkan kekaguman tersendiri kepada masyarakat yang menikmatinya. Dan berikutnya mengandung nilai pengetahuan yang nantinya pasti setiap kesenianm yang berkembang mempunyai makna tersendiri yang membawa manusia mengetahui hal – ha;l yang belum dia ketahui menjadi tahu. Yang teraklhir adalah nilai kehidupan, dari setiap kesenian setiap agama akan berbeda – beda yang pasti setiap kesenian mengandung berbeda – beda pelajaran hidup yang nantinya bisa digunakan sebagai pedoman sehari – hari.
Ada beberapa fungsi dan tujuan didalam kesenian yaitu antara lain :
a.    Fungsi religi / keagamaan, kesenian bertujuan untuk media dakwah untuk menyebarkan agama – agama, ataupun untuk menyampaikan pesan – pesan rohani untuk masyarakat.
b.    Fungsi pendidikan, kesenian bertujuan untuk media pembelajaran. Seperti grup musik tradisional angklung yang nantinya didalamnya akan menimbulkan suatu kerjasama organisasi untuk mencapai tujuan yaitu keserasian.
c.    Funsi komunikasi, kesenian digunakan sebagai alat untuk menyampaikan pesan dengan melalui suatu media seperti pewayangan untuk menyampaikan suatu pesan – pesan.
d.    Fungsi artistic, kesenian digunakan sebagai media untuk menyampaikan ekspresi seseorang.
Ada bebrapa kesenian yang biasa diselenggarakan di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Antara lain adalah kesenian Ogoh – ogoh, kesenian tersebut memang identik dengan agama hindu, yang biasanya dilakukan atau diadakan pada saat selesai upacara nyepi atau hari raya nyepi yang dilakukan umat hindu. Yang nantinya ditutup dengan karnaval atau iringan Ogoh – ogoh. Ogoh – ogoh sendiri yaitu sebutan dari patung – patungan yang dibuat masyarakat yang menyerupai buta atau perwujudan perbuatan buruk yang makanya dibuat sangat buruk rupa sebagai symbol angkara murka yang nantinga di iringi – iringi keliling kampung dan kemudian dibakar sebagai symbol menghilangkan angkara murka.

KESIMPULAN

Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari banyak pulau dan penghuninya. Masyarakat yang tinggal di dalamnya sangat beragam, terutama masyarakat beragama. Di indonesia agama yang dianut tidak hanya satu melainkan ada enam yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Masyarakat bebas untuk memilih bagaimana mereka akan menjalani kehidupan dengan memegang kepercayaan kepada Tuhan dengan cara memeluk satu agama yang diyakini. Namun hal itu tidak bisa lepas dari toleransi antar umat beragama. Sebagaimana disebutkan dalam kelima sila yang ada di Indonesia, masyarakat harus mempercayai tuhan dan menjalani kehidupan dengan adil, bijaksana, dan bersatu. Meskipun kita mempunyai kepercayaan yang berbeda bukan berarti kepercayaan yang lain itu adalah salah. Kita harus menghormati kehendak dan keputusan orang lain dalam mempercayai suatu agama. Selanjutnya kita harus selalu toleransi dan tetap bersatu sehingga kita bisa menjadi satu kesatuan yang disebut Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA 

Durkheim, Emile, 1954, The Elementary Forms of The Religious Life. trans. By Joseph Ward Swain (Glencoe, III : The Free Press, George Allen & Unwin Ltd.
 Elizabet K. Nottingham, 1985. Agama dan Masyarakat: Suatu pengantar
Geertz, Clifford, 1992, Kebudayaan dan Agama, Kanisius: Yogyakart
Joeyz, Iwan. Hubungan Agama dan Budaya. Http://ukpkstain.multiply.com/journal/ item/49. Diakses tanggal 1 Desember 2009.
Romdhon, et. al, Agama-agama di Dunia, IAIN Sunan Kalijaga , Press, Yogyakarta, 1988, hlm. 18-19
Dadang Kahmad, Metode Penelitian Agama Perspektif Ilmu Perbandingan Agama, CV Pustaka Setia, Bandung, 2000, hlm. 40-41.
Hilman Hadi Kusuma, Antropologi Agama Bagian I (Pendekatan Budaya Terhadap Aliran kepercayaan, Agama Hindu, Buddha, Kong Hu Chu, di Indonesia), PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993, hlm. 32-33.
Geertz, Clifford. Interpretation of Cultures: Selected Essays (New York: Basic Books, 1973).
Isfironi, Mohammad. “Pemikiran Keagamaan Kiai di Situbondo: Studi Pendekatan Fiqh dalam Merespon Masalah Sosial Keagamaan”. Tesis S.2 (Malang: UNISMA Malang, Program Pascasarjana, 2002). --------, Agama dan Solidaritas Sosial: Studi terhadap Tradisi Rasulan Masyarakat Gunung Kidul DIY. Laporan Penelitian (Yogyakarta: 2009).