Puluhan helai kain berwarna warni serta motif yang beragam selalu
menyambut setiap langkahku di sepanjang jalan yang kutuju. Langkah demi langkah
kulalui dengan hati rindu membuatku candu akan pekerjaan ini , memang tidaklah mudah melakukannya , butuh
ketelatenan dan kesabaran di setiap goresan malam yang kulukis diatas kain ini,
ide dan inovasi untuk setiap pola yang kulukis harus berbeda beda . Dingklik
yang selalu menopang tubuhku, taplak yang melindungi paha dan kakiku serta canting
yang kupegang dan tetesan malam yang tertuang disetiap pola yang kulukis menjadi
keahlianku . ya, membatik adalah pekerjaanku . Tidak , itu bukan pekerjaanku
membatik adalah jiwaku , sedari kecil sampai ku dewasa hanya ini yang bisa
kulakukan , entah dimana ayah dan ibuku saudara dekat atau kerabatpun aku tak
tahu.
“ Wening .... ayo siapkan batik batik terbaik di rumah kita , sebentar
lagi kita kedatangan tamu dari kota untuk melihat lihat keunikan batik tulis kita.”
“ iya bu.. sebentar lagi saya akan menyiapkannya “ jawabku.
Aku tak pernah mengenyam pendidikan , hanya membaca, menulis dan
membatik yang diajarkan ibu angkatku .Dia sangat menyayangiku seperti anak
kandungnya sendiri. Dia sangat ahli dalam membatik , hidupnya dia abdikan untuk
membatik. Karena kecintaannya terhadap batik , ia hanya menginginkanku menjadi
penerus pengrajin batik. Ya, aku juga ingin seperti gadis gadis dewasa lainnya
yang menjadi guru, dokter ataupun perawat. Tapi apa daya , akulah yang hanya
dia miliki , menjadikan rumah batik ini tersohor sampai ke luar negeri adalah harapanku
satu satunya .
“ Silahkan melihat lihat batik tulis kami , ini adalah motif daun
memba, merak, karapan sapi, padih kepak dan manik – manik .” Ibu sambil berjalan dan menunjukkan satu persatu motif
ini pada para tamu .
Aku mengajak para tamu mengelilingi rumahku , menunjukkan cara pembuatan dan pengolahan batik , peroses
penngeringan batik hingga tahap pengemasan batik – batik ini . Tanpa aku duga ,
pada saat mereka melihat peroses pembuatan batik , seorang pemuda menghampiriku
“ Mbak wening ? bolehkah anda mengajarkan saya bagaimana membuat batik
karapan sapi ini ? “ tanya seorang pemuda itu .
“ ohh.. i..iya boleh akan saya ajarkan anda batik ini. “ jawabku , perasaan kaget dan bingung saat pemuda itu
bertanya membuatku gugup menjawab . Dari mana dia tahu namaku wening , aku juga
belum pernah memperkenalkan diri didepan para tamu tadi (gumamku dalam hati).
Aku menyuruh pengrajin yang lain untuk
menemani para tamu dan bergegas mengambil semua alat dan bahan membatik untuk
mengajarinya . Melukis pola dasar dengan pensil , cara memegang canting serta
melukiskan malam diatas kain mori .
“ Jangan sampai malamnya memadat
, lukiskan pelan – pelan diatas kain ini, ketika kompornya sangat panas anda
bisa turunkan sedikit sumbu kompor agar malam tidak gosong “ . ajarku sambil
mempraktikannya bersama – sama. Dia telaten dan sabar ketika belajar ,
kelihatannya dia ingin sekali belajar batik tulis , aku senang bisa mengajari
seseorang membatik , setidaknya aku bisa berbagi ilmu dengan dia.
“ Risman! Ayooo! Kita harus
kembali ke kota “ ajak seorang laki laki yang menepuk punggungnya
“ wening ... maaf aku harus
kembali ke kota, kita lanjutkan nanti ketika aku datang kembali kesini ya .” kata pemuda itu dengan mimik muka
bersalah menatapku .Aku hanya diam mematung , belum sempat aku menjawab, dia langsung berlari bersama temannya menuju
bus rombongan.
Beberapa menit
setelah ia pergi , tatapannya selalu membayangiku , belum ada seorang laki laki
yang menatapku seperti itu . “ Ah.. kenapa aku harus memikirkannya , dia hanya
belajar membatik tidak ebih dari itu . “ ucapku sambil melanjutkan membatik.
Hari demi hari
berlalu, kain putih dengan beberapa goresan malam itu sesekali kulirik setiap
kali membatik . Hati ini selalu bertanya – tanya , “kapan ia kembali membatik
disini , akupun belum sempat berkenalan dengannya . apa ini yang disebut cinta
pada pandangan pertama (?) . yang benar saja! Ini tidak mungkin , aku hanya
melihat beberapa detik saja .” Pikirku mulai tak terarah .
“ Mbak permisi ..
mbak weningnya ada ? “ tanya seorang pemuda laki laki pada pengrajin batik
disini.
“Suara itu....
apakah itu risman ? (mulai mengingat ngingat suara risman) yaaa... itu risman “ akupunsegera merapikan diri.
“ weningggg... ada
tamu yang mencarimu .” panggil rekan pengrajin batik yang lain
“ oh iya ..
sebentar “ jawabku sambil berjalan menuju tempat membuat batik.
Dia tidak datang
bersama rombongannya, dia datang dengan motor pribadinya . kamipun saling
berkenalan , melanjutkan batik yang belum ia selesaikan , saling bercerita tentang
diri kita masing masing . Setiap minggu Risman datang kerumah batikku agar
melatihnya pandai membatik dengan baik. Kemajuannya tiap minggu hampir
menyamaiku dalam membatik, tidak hanya pola karapan sapi , dia juga bisa
membuat berbagai macam pola bahkan menciptakan pola-pola baru. Aku sangat
senang dengan kehadirannya , sosok seorang ayah , kakak bahkan kekasih aku
rasakan ketika bersamanya . Canda tawa , perhatian , kasih sayang yang ia
berikan membuatku larut dalam asmara . Dia mengajakku berjalan – jalan ke kota
, membawakanku oleh – oleh disetiap ia datang kerumahku, serta mengajar .
“ aduh.. anak
ibu... mulai jatuh cinta pada pria itu ya.. raut wajahnya selalu ceria ketika
bersamanya .” tanya ibu padaku sambil menghampiriku yang duduk di teras rumah
Aku tersipu malu
ketika dia bertanya seperti itu .” ya begitulah bu.. aku sangat nyaman
bersamanya , bagiku dia sosok kekasih, kakak, bahkan ayah dalam ibuku .”
jawabku dengan raut wajah senang dan penuh harapan untuk hidup bersamanya
“ ibu hanya berdoa
yang terbaik untukmu anakku... ibu bahagia jika kamu bahagia .” ujar ibu. Sambil
memeluk dan membelai rambutku .
Taklama kebahagian
itu berlangsung ibuku mulai sakit – sakitan karena kesehatannya yang mulai
melemah , Rismanpun tak lagi mengunjungi rumahku , perasaan kecewa, khawatir
bercampur aduk dalam situasi ini . Tak ada lagi canda tawa setiap minggu , tak
ada lagi yang memerhatikanku seperti yang ia lakukan . Aku selalu
menyembunyikan wajah sedihku di depan ibu , membuatnya menganggapku baik- baik
saja . Melihat kesehatannya terus melemah dan tanpa risman di sampingku semakin
membuatku gelisah tak menentu , bagaimana tidak , kedua orang yang sangat aku
sayangi ini tak lagi menghadirkan senyuman disetiap hariku.
Semangat membatikku
mulai luntur , kedatangan Risman membuatku bahagia begitupun kepergiannya membuatku
kecewa, tak ada kabar apapun yang kudengar darinya . cerita yang pernah kuukir
bersamanya telah sirna menjadi kenangan semata .
“ Wening ... wening
ini risman bukan ?” teriak teman pngrajin batikku yang menghampiriku ke dapur
“ ini risman kan
wening ...? “ tanya ia kembali sambil menunjukkan muka risman di koran itu.
“ iya ini risman
... ini benar benar senyum risman .” aku sempat bahagia bisa melihat senyumnya
kembali walau tak bertemu langsung , tapi setelah kuperhatikan lebih teliti ia
memegang batik kerapan sapi yang pernah kita buat bersama-sama . Segera ku
baca.
“ Risman , lelaki
muda asal Madura berhasil mengalahkan peserta indonesia lainnya di ajang
festival budaya di dunia . Batik tulis dengan pola karapan sapi yang
dipamerkannya menjadi runner up setelah Aceh . “ tak kulanjutkan membaca , aku hanya bisa
terdiam semu dan meninggalkan Rina
(teman pengrajin batik ) menuju kamarku .
“ Jadi selama ini ,
apa yang telah ia lakukan hanya memanfaatkanku , bodohnya diri ini terlalu percaya padanya hingga mengajarkan
yang tak seharusnya kuajarkan . Laki – laki pertama yang kukenal setega inikah
melakukannya padaku , setelah semua yang kukatakan padanya , harapanku untuk
mensohorkan rumah batikku dia patahkan dengan mudahnya , membawaku kelangit dan
menghempaskan begitu saja ke tanah . Tak kusangka kau lelaki yang tak memiliki
hati .” kata kata ini keluar dari mulutku dengan air mata yang membasahi pipi
ini. Tak tau apa yang harus kulakukan , “apakah aku harus mengubur semua
kenangan yang pernah kuukir bersamanya , apakah kuharus mengubur kecintaanku
dalam membatik karena harapanku telah direnggut olehnya. “ tangisan ini terus membasahi pipiku .
Beberapa hari aku
mengunci pintu kamar dan tidak ingin bertemu dengan siapapun . Tiba tiba
kudenger suara ketokan pintu yang sangat lantang
“ Dooooorrr Doorrrr
Dorrrr Weninggg ... ibu weninggg.... weningg cepat buka pintunya .” teriakan
Rina
Langsung ku
berbegas membuka pintu kamarku dengan hati resah dan khawatir kepada ibu. “
iyaa rinaa ada apaa ?? ada apaaa dengan ibuku ?? “ tanyaku dengan wajah penuh
kekhawatiran.
“ ibuu .. sudaahh
sudaahh meninggal dunia ningg... kamuu ikhlaskan kepergiannya agar dia tenang
kembali pada sang pencipta .” ujar Rina dengan wajah penuh duka
“ Apaaaa ? ibu
meninggal ? kamu tidak bercanda kan rin ? ibu kembali sehat kan rin ? “ jawabku
dengan ketidak percayaan apa yang dikatakan oleh Rina . Segera ku berlari
menuju kamar ibu , lantunan ayat suci diperdengarkan oleh orang – orang yang
mengelilingi jasad ibuku .
“ Ibuu.... kenapa
kamu harus kembali secepat ini .. aku belum sempat membahagiakanmu .
mensohorkan batik tulis kita dinegeri ini seperti yang kita inginkan,
ayolahbuuuu bangun buu bangunnn harapan kita belum terwujud buuu... “ teriakku
disamping jasad ibuku dengan penuh amarah dan tangis atas apa yang menimpa
ibuku.
Semuanya telah
terjadi , tangiskupun tak akan merubah segalanya , pemakamanpun akan segera
dilakukan , aku harus mengikhlaskan kepergian ibuku , walau ini berat kulakukan
, dia harus melihatku menjadi seorang wening yang hebat sepertinya. Sekarang
aku hanya berdoa untuk kebaikan di dunia barunya .
“ Wening .. maafkan
aku atas semua kesalahan yang telahku perbuat , menjelaskan segalanyapun akan
percuma , kamu tak akan mempercayainya , mungkin kamu telah melihat beritaku di
koran beberapa waktu yang lalu , hanya tiket dan batik ini yang bisa
menjelaskan semuanya . aku turut berduka cita atas meninggalnya ibumu , semoga
ini juga bisa mengobati lukamu . “ Kata Risman sambil menyodorkan tas kecil
berisi tiket dan batik itu .
Risman tak banyak
berkata , akupun tak menolehnya saat dia menghampiriku dikursi tadi , “berani –
beraninya dia datang dengan pengkhianatan yang ia lakukan .Dukaku belum
terobati atas kepergian ibuku , dia malah tak punya malu menghampiriku. Pria yang tak punya hati seperti dia masih
pantaskah aku memaafkannya ?” tanyaku pada hati kecil ini.
Aku biarkan tas
kecil itu berada dimeja sampai 7 hari kepergian ibuku berakhir . Perlahan
kubuka tas kecil itu . Tiket keberangkat pesawat menuju inggris dan batik
berlabelkan “ wening’s mom “ ada dalam tas ini . “Apalagi yang ia lakukan ,
belum cukup penderitaan yang ia beri kepadaku selama ini ?” tanyaku pada diri
sendiri. Aku masih bertanya – tanya maksud dari tiket dan batik ini .
Pada tanggal yang
tertera di tiket itu, aku memberanikan
diri untuk berangkat mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi . “ pahit atau
maniskah yang kurasakan nanti , akan kuterima dengan lapang dada. Semoga ini
benar- benar bisa mengobati lukaku dengan semua yang terjad dihidupku .”
Sesampainya di
Inggris menuju alamat yang dia berikan didalam tas itu , aku berdiri mematung
dan terpukau . “ Benarkah , benarkah ini toko batikku “ tanyaku dengan mata
berkaca- kaca . Lampu kerlap kerlip , batik – batik ciri khas rumahku sangat
indah dibalik kaca – kaca tebal ini . orang – orang berhalu lalang memasuki
toko ini membuatku tak dapat mengatakan sepatah katapun hingga menetaskan haru
tangis kala itu.
Inikah yang Risman
maksud , ternyata prasangka burukku kepadanya selama ini salah . Kemenangan itu
ia lakukan untuk mewujudakn mimpiku . Diapun telah memiliki kekasih ,
perasaannya terhadapku selama ini tak lebih sebagai seorang sahabat .Harusnya
kutanyakan perasaan dia terhadapku sedari dulu agar ku tak melukai hati ini
sendiri. Tak pantas ku salahkan dia dalam keadaan ini. Terima kasih , kata itu
sangat tepat kukatakan kepadanya .
“ Ibu.... aku
bahagia sekali ... ibu lihattt kannn.. harapanku mensohorkan batik rumah kita
keluar negeri akhirnya terwujud buuuu... Mungkin Risman bukan jodoh terbaikku
buuu.... aku yakin tuhan sudah menyiapkan jodoh yang tepat bagiku . Dia
mengajariku apa arti hidup sesungguhnya . “ kataku terpukau akan keindahan toko
batik dihadapan mata ini.
0 Komentar